Disperindag Kurasi 237 Produk UMKM Tangsel, 165 Berhasil Masuk Retail Modern
Peyek dan Dimsum Jadi Produk dengan Omzet Menjanjikan
CIPUTAT – Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Tangerang Selatan terus membuka akses pemasaran bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) melalui program kurasi produk. Hingga saat ini, hampir 237 produk UMKM telah mengikuti proses kurasi untuk mendapatkan peluang masuk ke jaringan retail.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 165 produk telah berhasil masuk dan dipasarkan di sejumlah toko retail yang menjadi mitra Disperindag. Produk yang dikurasi terdiri dari kategori pangan dan nonpangan, dengan produk pangan menjadi yang paling banyak mengikuti program tersebut.
Kepala Bidang Perdagangan Disperindag Kota Tangsel, Ardi Marzan mengatakan, proses kurasi diawali dengan pendaftaran pelaku usaha melalui aplikasi kurasi yang disiapkan Disperindag. Pelaku usaha harus mengisi data serta melengkapi berbagai persyaratan sesuai jenis produk yang ditawarkan.
Untuk produk pangan, misalnya, pelaku usaha harus memiliki perizinan Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT). Kelengkapan tersebut menjadi salah satu bahan penilaian sebelum produk masuk ke tahap kurasi bersama mitra retail.
“Intinya semua persyaratan itu ada di aplikasi harus dipenuhi. Nanti data yang di aplikasi itu adalah bahan untuk melakukan kurasi sama mitra. Mitranya itu toko-toko retail,” ujar Ardi kepada Tangsel Pos, Kamis (10/9).
Sejumlah jaringan retail yang telah menjadi mitra di antaranya Alfamart, Indomaret, Tip Top, Harmoni, Aneka Buana hingga Toko Buah 88.
Berdasarkan data Disperindag, sebanyak 16 produk telah masuk ke Harmoni, 10 produk di Indomaret, 18 produk di Tip Top, 20 produk di Aneka Buana, delapan produk di Alfamart, serta 93 produk di Toko Buah 88. Totalnya mencapai 165 produk.
Ardi menjelaskan, keberhasilan masuk ke toko retail menjadi salah satu indikator UMKM mulai naik kelas. Namun, produk yang telah masuk tidak serta-merta dapat bertahan selamanya karena penjualan tetap bergantung pada respons konsumen.
Produk yang kurang laku dapat mengalami retur, terutama ketika mendekati masa kedaluwarsa. Kondisi tersebut membuat komposisi produk yang dipasarkan di retail dapat berubah dari waktu ke waktu.
“Karena ada beberapa pelaku usaha yang memang secara ini dia mundur. Karena produk itu kalau bermitra sama toko retail itu kan, kalau nggak laku kan ada expired tuh. Mereka harus gantikan. Jadi yang terjadi tuh suka aplusan tuh, bergantian tuh. Kadang-kadang yang lama mundur jadi yang baru,” tuturnya.
Dalam waktu dekat, Disperindag juga berencana kembali melakukan kurasi bersama Indomaret. Dari sekitar 38 produk yang sebelumnya dikurasi, diperkirakan terdapat sembilan produk yang akan digantikan dengan produk baru.
Untuk mendapatkan sembilan produk pengganti tersebut, sekitar 40 produk akan dihadirkan untuk kembali menjalani proses seleksi. Produk yang lolos nantinya akan langsung masuk dalam hubungan bisnis antara pelaku usaha dan pihak retail.
“Insya Allah bulan-bulan ini, nanti dikabarin. Itu sekitar sembilan produk akan mundur, kayaknya akan diganti dengan sembilan produk lainnya lagi. Tapi harus dikurasi, mengundang beberapa produk gitu. Kebutuhan sembilan, tapi yang dihadirkan 40 produk,” ungkapnya.
Menurut Ardi, jenis produk yang paling banyak diminati jaringan retail adalah makanan ringan dan makanan beku atau frozen. Sementara dari produk yang saat ini memiliki omzet cukup baik, peyek dan dimsum menjadi dua di antaranya.
Dari sisi persyaratan, legalitas menjadi hal penting yang harus dipenuhi pelaku usaha. Untuk produk makanan, antara lain diperlukan PIRT, sertifikasi halal, serta BPOM untuk produk yang memenuhi ketentuan wajib izin edar BPOM.
Selain legalitas, kemasan juga menjadi perhatian dalam proses kurasi. Ardi menyebut kemasan produk UMKM tidak harus dibuat terlalu mewah. Justru, kemasan yang sederhana, rapi, higienis, serta disesuaikan dengan ukuran dan harga jual dinilai lebih sesuai dengan karakteristik pasar tertentu.
“Yang simpel, rapi, yang higienis lah pastinya. Grammasinya jangan terlalu besar, kadang-kadang gitu retail. Karena kan mempengaruhi harga,” katanya.
Ardi menambahkan, standar yang dibutuhkan setiap jaringan retail dapat berbeda karena menyesuaikan karakteristik konsumennya. Produk yang dipasarkan di retail dengan segmen menengah ke bawah, misalnya, harus mempertimbangkan harga dan ukuran agar tetap terjangkau konsumen.
Sementara retail dengan segmen pasar menengah atas memiliki karakteristik konsumen yang berbeda sehingga kemasan dan harga dapat disesuaikan.
“Kalau Total Buah selama ini nggak ada masalah dengan packaging, dengan harga gitu. Karena dia middle-up di Bintaro kan. Orang yang beli itu yang memang secara retail, ya gitu,” pungkasnya.
Olahraga | 14 jam yang lalu
TangselCity | 3 hari yang lalu
Nasional | 3 hari yang lalu
TangselCity | 3 hari yang lalu
Nasional | 3 hari yang lalu
Nasional | 3 hari yang lalu
Pendidikan | 2 hari yang lalu
TangselCity | 3 hari yang lalu
Nasional | 3 hari yang lalu
Nasional | 1 hari yang lalu






