Kasus ISPA Naik 19,8%, Tertinggi Di Serpong
Masyarakat Tangsel Diminta Waspadai Abu Vulkanik
SERPONG-Sebaran abu vulkanik erupsi Gunung Anak Krakatau disinyalir membuat kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Kota Tangerang Selatan (Tangsel) mengalami kenaikan 19,8 persen pada pekan ke-35 tahun 2026.
Berdasarkan data Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR) per 9 September 2026, jumlah kasus ISPA pada pekan ke-35 mencapai 5.802 kasus. Angka ini meningkat dibandingkan pekan sebelumnya yang tercatat 4.844 kasus atau bertambah 958 kasus.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Tangsel, Allin Hendalin Mahdaniar mengatakan, pihaknya terus memantau perkembangan kasus kesehatan masyarakat menyusul sebaran abu vulkanik Anak Krakatau yang sempat terjadi di wilayah Tangsel.
“Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan terus melakukan pemantauan kesehatan masyarakat pasca-sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau sebagai tindak lanjut kewaspadaan terhadap potensi penurunan kualitas udara dan gangguan kesehatan masyarakat,” ujar Allin, Kamis (10/9).
Meski peningkatan kasus ISPA terjadi pada periode yang berdekatan dengan sebaran abu vulkanik, Dinkes belum dapat memastikan adanya hubungan langsung antara keduanya. Sebab, tren peningkatan kasus ISPA telah terlihat sebelum terjadinya sebaran abu vulkanik.
“Namun, peningkatan tersebut belum dapat disimpulkan secara langsung sebagai dampak paparan abu vulkanik, karena tren ISPA telah menunjukkan peningkatan sebelum kejadian dan dapat dipengaruhi faktor lain, termasuk perubahan cuaca dan kualitas udara,” jelasnya.
Secara kumulatif, sepanjang pekan ke-1 hingga pekan ke-35 2026, tercatat 148.370 kasus ISPA di Tangsel. Kecamatan Serpong menjadi wilayah dengan jumlah kasus tertinggi, yakni 38.366 kasus. Disusul Kecamatan Pamulang sebanyak 27.293 kasus, Ciputat 26.895 kasus, Pondok Aren 22.170 kasus, Ciputat Timur 19.694 kasus, Setu 8.637 kasus, dan Serpong Utara 5.315 kasus.
Data tersebut kini menjadi bagian dari pemantauan Dinkes untuk melihat perkembangan kasus berdasarkan waktu dan wilayah. Pemantauan dilakukan untuk mengetahui tren kasus sekaligus menentukan wilayah yang membutuhkan perhatian lebih.
Allin menambahkan, sebaran abu vulkanik tetap menjadi salah satu faktor yang perlu diwaspadai karena dapat memengaruhi kesehatan, khususnya saluran pernapasan. Paparan abu dapat menyebabkan iritasi hidung dan tenggorokan, batuk, mengi, rasa berat di dada hingga sesak napas.
Paparan abu juga berpotensi memperburuk kondisi masyarakat yang memiliki asma, penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), maupun penyakit paru lainnya. Selain itu, iritasi mata dan kulit juga dapat terjadi.
Karena itu, Dinkes meningkatkan surveilans kasus serta melakukan analisis perkembangan penyakit berdasarkan waktu dan wilayah. Kesiapsiagaan Puskesmas dan rumah sakit turut dipantau, termasuk koordinasi dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) untuk memantau kualitas udara, terutama kadar PM2,5 dan PM10.
Kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, pekerja luar ruangan, serta masyarakat dengan penyakit pernapasan dan penyakit kronis menjadi perhatian khusus.
Masyarakat juga diimbau mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kondisi udara berdebu. Warga yang harus beraktivitas di luar rumah dianjurkan menggunakan masker serta melindungi mata dan kulit.
Sumber air dan makanan juga diminta tetap tertutup untuk mencegah kontaminasi abu. Masyarakat pun diingatkan tidak melakukan pembakaran sampah secara terbuka yang dapat memperburuk kualitas udara.
"Apabila mengalami batuk terus-menerus, sesak napas, nyeri dada, mata merah atau nyeri, maupun keluhan yang semakin berat, masyarakat diminta segera memeriksakan diri ke Puskesmas, rumah sakit, atau fasilitas pelayanan kesehatan terdekat,” pungkasnya.
Olahraga | 1 hari yang lalu
TangselCity | 10 jam yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu
Olahraga | 1 hari yang lalu
Nasional | 3 hari yang lalu
Nasional | 3 hari yang lalu
Nasional | 3 hari yang lalu
Nasional | 3 hari yang lalu
Pos Banten | 2 hari yang lalu
Pos Tangerang | 3 hari yang lalu






