TangselCity

Pos Tangerang

Pos Banten

Politik

Olahraga

Nasional

Pendidikan

Ekonomi Bisnis

Haji 2026

Galeri

Internasional

Otomotif

Selebritis

Lifestyle

Opini

Hukum

Advertorial

Kesehatan

Kriminal

Piala Dunia 2026

RELIJIUCITY

Indeks

Dewan Pers

Perdagangan AI Melonjak 42 Persen, WTO Waspadai Tekanan Tarif dan Geopolitik

Oleh: Fazel MG
Editor: AY
Jumat, 18 September 2026 | 16:16 WIB
Ilustrasi. Foto : Ist
Ilustrasi. Foto : Ist

JAKARTA — Ledakan perdagangan barang yang berkaitan dengan kecerdasan buatan (AI) menjadi salah satu penopang perdagangan global pada 2026. Namun, Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) mengingatkan lonjakan tersebut berpotensi menutupi tekanan yang masih membayangi perdagangan internasional.


Direktur Jenderal WTO Ngozi Okonjo-Iweala mengatakan perdagangan produk terkait AI tumbuh jauh lebih cepat dibandingkan barang non-AI.


Berdasarkan data WTO, perdagangan barang terkait AI, termasuk semikonduktor dan peralatan industri untuk membangun infrastruktur AI, tumbuh 42 persen secara tahunan pada kuartal I 2026. Sebagai pembanding, perdagangan barang non-AI hanya meningkat sekitar 7 persen.


Kinerja tersebut turut membuat kondisi perdagangan global terlihat tetap kuat di tengah berbagai gangguan yang berasal dari kebijakan perdagangan dan ketegangan geopolitik.


Namun, Okonjo-Iweala mengingatkan bahwa ketergantungan pada pertumbuhan sektor AI juga membawa risiko. Jika ekspansi industri AI melambat atau tidak berkelanjutan, perdagangan global dapat kembali menghadapi tekanan.


Peran produk AI dalam perdagangan dunia juga semakin besar. WTO mencatat barang-barang terkait AI menyumbang hampir 19 persen dari total perdagangan barang global pada kuartal I 2026.


Pertumbuhan terutama didorong meningkatnya permintaan terhadap semikonduktor, perangkat pusat data, server, serta berbagai komponen pendukung pengembangan teknologi AI.


Lonjakan tersebut sekaligus menunjukkan semakin eratnya keterkaitan antara perkembangan teknologi dan perdagangan internasional. Industri AI bergantung pada rantai pasok lintas negara, mulai dari desain dan fabrikasi semikonduktor, pengemasan serta pengujian, hingga produksi server dan pembangunan pusat data.


WTO sebelumnya mencatat sekitar 42 persen pertumbuhan perdagangan global pada 2025 berasal dari perdagangan produk yang berkaitan dengan AI. Kondisi itu ikut mendorong pertumbuhan perdagangan barang dunia sepanjang 2025 mencapai 4,6 persen, jauh di atas proyeksi awal WTO sebesar 2,5 persen.


Meski demikian, WTO tetap melihat sejumlah risiko yang dapat memengaruhi perdagangan global, antara lain ketegangan geopolitik, penerapan tarif, harga energi, serta ketidakpastian kebijakan perdagangan.


Perkembangan AI pun menjadi salah satu faktor penting dalam arah perdagangan internasional. Investasi di sektor AI meningkatkan permintaan terhadap produk teknologi dan mendorong aktivitas perdagangan. Namun, ketergantungan pada rantai pasok teknologi global juga membuat sektor ini rentan terhadap konflik geopolitik dan perubahan kebijakan.


WTO menilai perkembangan perdagangan berbasis AI perlu diimbangi dengan penguatan kerja sama internasional serta aturan perdagangan yang mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi.
 

 

Komentar:
GROUP RAKYAT MERDEKA
RM ID
Banpos
Satelit