TangselCity

Pos Tangerang

Pos Banten

Politik

Olahraga

Nasional

Pendidikan

Ekonomi Bisnis

Haji 2026

Galeri

Internasional

Otomotif

Selebritis

Lifestyle

Opini

Hukum

Advertorial

Kesehatan

Kriminal

Piala Dunia 2026

RELIJIUCITY

Indeks

Dewan Pers

Kerupuk Setu Ludes Rp 3 Juta, Fesyen Jadi Buruan

Tangsel Expo Sedot Perhatian Tamu Dari Berbagai Daerah

Reporter: Rachman Deniansyah
Editor: Irma Permata Sari
Selasa, 22 September 2026 | 07:00 WIB
PRODUK LOKAL. Booth Dekranasda Kota Tangsel menjadi primadona dalam pameran Tangsel Expo.
PRODUK LOKAL. Booth Dekranasda Kota Tangsel menjadi primadona dalam pameran Tangsel Expo.

CIPUTAT-Tangsel Expo 2026 digelar bertepatan dengan acara kerja sama Sistem Integrasi Geospasial Informasi Pajak dan Pertanahan (SISGITA) di Puspemkot Tangerang Selatan (Tangsel) pada 21-22 September. Pameran produk usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) ini pun diserbu pembeli dari berbagai daerah yang merupakan peserta MoU SISGITA.

 

 Sebanyak 30 booth disiapkan menampilkan berbagai produk mulai dari kuliner, fesyen, craft, kerajinan tangan, hingga produk ekonomi kreatif lainnya.

 

 Pejabat Fungsional Dinas Koperasi dan UMKM Tangsel, Aminudin mengatakan, booth yang tersedia diisi berbagai kelompok dan pelaku UMKM dari tujuh kecamatan.

 

 Di antaranya Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga (UP2K), Pecinta Anggrek Indonesia (PAI), Dharma Wanita Persatuan (DWP), Dekranasda, pelaku UMKM anak berkebutuhan khusus (ABK), serta Bank BJB. Selain itu, terdapat pula jajaran stand Teknologi Tepat Guna (TTG) dan corner kopi.

 

 "Produk tuh macam-macam, ada craft, ada fashion juga, ada juga kuliner. Kuliner tuh terbagi macam-macam, di sini ada jualan yang lebih ke makanan kemasan," kata Aminudin.

 

 Produk yang ditampilkan dari masing-masing kecamatan juga tidak dibuat seragam. Pelaku usaha diarahkan membawa produk berbeda agar pameran dapat menampilkan lebih banyak ragam produk khas Tangsel.

 

"Kalau bisa produknya jangan sama. Walaupun memang kayak craft, semua ada craft tapi beda-beda jenisnya. Makanan walaupun kerupuk, kerupuknya beda-beda," ujarnya.

 

 Menurut Aminudin, tingginya antusiasme pengunjung menjadi gambaran besarnya potensi pasar UMKM di Tangsel. Dari sekitar 144 ribu pelaku UMKM yang terdata, sektor kuliner menjadi salah satu yang cukup dominan.

 

 Menariknya, bukan hanya masyarakat dan pegawai Pemkot Tangsel yang berbelanja. Sejumlah kepala daerah dan tamu dari luar daerah juga ikut memborong produk yang dipajang.

 

 "Antusiasnya sangat-sangat sangat bagus, sangat-sangat baik. Tadi saya lihat dari wali kota atau bupati di luar daerah tuh banyak yang beli juga produk-produk yang ada di Tangsel Expo Plaza ini," ungkapnya.

 

 Salah satu yang mencuri perhatian adalah kerupuk produksi pelaku UMKM asal Kecamatan Setu. Dalam satu hari, penjualan produk tersebut disebut mencapai sekitar Rp 3 juta.

 

 "Kayak kerupuk aja nih produk asal Setu itu ludes sampai Rp 3 juta. Itu kerupuk doang," kata Aminudin.

 

 Tak hanya kuliner, produk fesyen dan kerajinan tangan juga menjadi buruan pengunjung. Di booth Dekranasda Tangsel, misalnya, produk berbahan kain dan tenun menjadi salah satu yang paling banyak diminati.

 

 Pengurus Dekranasda Tangsel, Brian Hezron mengatakan, produk Ageman dan Batik Harni mendapat perhatian dari sejumlah tamu. Bahkan, ada pembeli dari luar daerah yang memborong beberapa produk sekaligus.

 

 "Yang ini tenun sama Batik Harni ini. Itu tadi banyak yang milih," katanya.

 

 Brian menyebut, rata-rata transaksi di booth Dekranasda berada di kisaran Rp 2 juta hingga Rp 3 juta. Bahkan, ada pembeli yang menghabiskan hingga sekitar Rp 5 juta.

 

 Produk yang dipamerkan merupakan hasil UMKM binaan Dekranasda maupun mitra dari berbagai wilayah di Tangsel. Total terdapat sembilan UMKM binaan yang ditampilkan.

 

 Di antaranya Ageman dengan produk baju dan tas tenun ecoprint, Batik Harni, Rumah Batik Setu, The Moms dengan produk rajutan, Primadona Craft, Li-Uli, NAA, Ilalang, dan Danum Macrame.

 

 Produk-produk tersebut juga mewakili sejumlah kecamatan. Di antaranya tenun dari Serpong Utara, Li-Uli dari Pondok Aren, serta Ilalang dari Ciputat.

 

 Menurut Brian, produk yang ditampilkan sebelumnya telah melalui proses kurasi. Pemilihan dilakukan dengan mempertimbangkan kualitas serta keunggulan produk.

 

"Kita kurasi. Karena terkait arahan dari Pak Wali itu adalah produk-produk unggulan, jadi memang yang sudah kita lihat dulu, kerja sama dan kita ikut pameran yang di Grand Nusa, di Inacraft, yang memang bagus, itu yang kita kurasi," jelasnya.

 

 

 Salah satu produk yang menarik perhatian adalah pakaian berbahan tenun asli Banten. Tenun tersebut kemudian dikembangkan menjadi kemeja premium dengan harga sekitar Rp1,5 juta per potong.

 

 Sementara itu, booth DWP Tangsel juga menghadirkan beragam produk UMKM lokal. Mulai dari fesyen, kerajinan tangan, hingga makanan dan minuman.

 

 Ketua DWP Tangsel, Monalisa Bambang Noertjahjo mengatakan, seluruh produk yang dipamerkan merupakan hasil UMKM yang berada di wilayah Tangsel.

 

 "Jadi, salah satu tujuan kami mengikuti Tangsel Expo 2026 ini memang untuk memberikan ruang dan kesempatan kepada UMKM lokal agar produknya semakin dikenal oleh masyarakat luas," ujarnya.

 

 Produk makanan dan minuman yang ditawarkan berada di kisaran Rp 20 ribu hingga Rp 50 ribu. Sedangkan, produk fesyen dan craft dijual mulai dari puluhan ribu hingga ratusan ribu rupiah, tergantung bahan, desain, dan tingkat kerumitan pembuatannya.

 

 Untuk menarik pengunjung, DWP juga menyiapkan sejumlah program, di antaranya kopi gratis bagi 20 pembeli pertama dan souvenir bagi setiap pembeli tanpa minimum transaksi.

 

 Monalisa mengatakan, antusiasme pengunjung pada hari pertama cukup tinggi. Sejumlah tamu dari luar daerah turut menyempatkan diri melihat dan membeli produk yang ditampilkan.

 

 "Beberapa kepala daerah dari luar Tangsel juga berkesempatan datang dan melihat langsung produk-produk yang kami tampilkan, di antaranya Bupati Lampung dan Wali Kota Manado," katanya.

 

 Dari sisi penjualan, omzet booth DWP pada hari pertama diperkirakan mencapai Rp 4 juta hingga Rp 5 juta.

 

 Monalisa berharap Tangsel Expo tidak hanya menjadi ruang promosi, tetapi juga membuka akses pasar yang lebih luas bagi pelaku UMKM. Interaksi langsung dengan konsumen juga dinilai penting agar pelaku usaha dapat memperoleh masukan dan terus mengembangkan produknya.

 

 "Semoga semakin banyak masyarakat yang hadir, berbelanja, dan mengenal lebih dekat produk-produk UMKM yang ada di Kota Tangerang Selatan," pungkasnya.

Komentar:
GROUP RAKYAT MERDEKA
RM ID
Banpos
Satelit