TangselCity

Pos Tangerang

Pos Banten

Politik

Olahraga

Nasional

Pendidikan

Ekonomi Bisnis

Haji 2026

Galeri

Internasional

Otomotif

Selebritis

Lifestyle

Opini

Hukum

Advertorial

Kesehatan

Kriminal

Piala Dunia 2026

RELIJIUCITY

Indeks

Dewan Pers

Pilar Resmikan Pos Gizi Matahari di Bakti Jaya, 38 Balita Jadi Sasaran Intervensi

Reporter: Rachman Deniansyah
Editor: Irma Permata Sari
Selasa, 22 September 2026 | 19:52 WIB
Foto : Ist
Foto : Ist

SETU — Upaya menekan angka stunting di Kota Tangerang Selatan (Tangsel) terus diperkuat dari tingkat lingkungan. Salah satunya melalui Pos Gizi Matahari yang kini hadir di RW 07, Kelurahan Bakti Jaya, Kecamatan Setu.

 

Pos gizi tersebut diresmikan Wakil Wali Kota Tangsel Pilar Saga Ichsan, Selasa (22/9). Sebanyak 38 balita menjadi sasaran intervensi melalui program tersebut.

 

Pilar mengatakan, keberadaan pos gizi tidak hanya untuk memberikan makanan tambahan. Tempat tersebut juga menjadi ruang edukasi bagi ibu hamil, ibu menyusui dan orang tua balita mengenai pentingnya pemenuhan gizi sejak dini.

 

Sebagai Ketua Tim Percepatan Penanganan Stunting (TPPS) Kota Tangsel, Pilar bersama Dinas Kesehatan dan kader di wilayah terus memantau perkembangan gizi anak serta kondisi ibu hamil dan menyusui.

 

"Bagaimana pos gizi ini bisa menghadirkan sosialisasi, lalu juga suatu program edukasi promotif preventif bagi ibu-ibu yang hamil, menyusui dan juga tentu bermanfaat juga untuk balita," ujar Pilar.

 

Melalui pos gizi ini, balita dan ibu hamil maupun menyusui yang membutuhkan juga mendapatkan makanan tambahan. Pemberian makanan tambahan dilakukan lima kali dalam satu bulan.

 

Menurut Pilar, program tersebut mendapat respons cukup baik dari masyarakat. Dari hasil evaluasi, terdapat perkembangan pada berat badan anak yang mengikuti program. Sementara bagi ibu hamil, pemberian makanan tambahan juga diarahkan untuk memenuhi target kebutuhan gizi selama kehamilan.

 

"Ini satu bulan lima kali diberikan makanan tambahan. Dan ternyata angka partisipasinya cukup besar, mereka respons sekali masyarakat dengan adanya program makanan tambahan ini," katanya.

 

Foto : Ist

 

Pilar menyebut, penanganan stunting tidak bisa hanya mengandalkan pemberian makanan tambahan. Pengetahuan orang tua mengenai makanan bergizi juga menjadi bagian penting dalam mencegah gangguan tumbuh kembang anak.

 

Selain edukasi, faktor ekonomi juga menjadi perhatian. Kondisi tersebut dapat memengaruhi kemampuan keluarga dalam memenuhi kebutuhan makanan bergizi. Karena itu, intervensi dilakukan melalui bantuan makanan tambahan sekaligus pendampingan tenaga kesehatan dan kader.

 

Saat ini, sekitar 879 anak di Tangsel terdeteksi stunting. Angka tersebut berada di bawah satu persen. Meski demikian, pemerintah tetap melakukan intervensi agar jumlah anak yang mengalami stunting dapat terus ditekan.

 

"Memang tantangannya cukup banyak ya. Edukasi di warga, lalu juga pengetahuan di warga masyarakat ini penting. Pentingnya makanan bergizi bagi anak dan ibu hamil menyusui," jelasnya.

 

Menurut Pilar, kondisi setiap anak yang mengalami masalah gizi berbeda. Ada anak yang mengalami kekurangan berat badan, ada pula yang pertumbuhannya dari sisi tinggi badan belum sesuai dengan usianya. Karena itu, waktu pemulihannya tidak bisa disamakan.

 

Penanganan bisa berlangsung selama beberapa minggu, bulan, bahkan hingga bertahun-tahun, tergantung kondisi masing-masing anak. Pemantauan melalui posyandu menjadi penting untuk mengetahui perkembangan anak secara berkala.

 

Intervensi juga ditekankan sejak masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun. Periode tersebut merupakan seribu hari pertama kehidupan yang menjadi masa penting dalam menentukan tumbuh kembang anak.

 

"Makanya peran posyandu penting untuk mengukur apakah sesuai dengan target. Kalau misalkan masih anak itu belum memenuhi target, ya kita intervensi di masa kehidupannya seribu hari pertama mulai dari usia nol (kandungan), kehamilan sembilan bulan sampai dua tahun. Itu masa kritis seorang anak menentukan apakah dia ke depan stunting atau tidak," tuturnya.

 

Untuk makanan yang diberikan, menu disusun bersama tim gizi dari Dinas Kesehatan. Komposisinya disesuaikan dengan kebutuhan gizi anak maupun ibu yang menjadi sasaran.

 

Pilar memastikan kualitas makanan menjadi perhatian utama. Ia juga melihat langsung bagaimana anak-anak menikmati makanan yang diberikan saat peresmian.

 

"Tadi anak-anak juga makan lahap, mereka happy. Kami juga terus evaluasi kalau mereka mau apa, yang kurang, kita sangat terbuka supaya benar-benar bisa dimanfaatkan anak dan ibu," ujarnya.

Usai meresmikan Pos Gizi Matahari, Pilar tidak langsung meninggalkan kawasan tersebut. Ia menyempatkan diri menyambangi rumah salah satu warga yang anaknya terindikasi stunting.

 

Pilar berdialog dengan keluarga, melihat langsung kondisi anak dan lingkungan tempat tinggalnya, sekaligus menyerahkan bantuan. Dari kunjungan tersebut, kondisi rumah warga juga menjadi perhatian karena dinilai membutuhkan perbaikan.

 

Rumah tersebut kemudian direkomendasikan untuk mendapatkan intervensi melalui program bedah rumah. Langkah itu menjadi bagian dari upaya melihat persoalan stunting secara lebih menyeluruh, tidak hanya dari sisi asupan gizi, tetapi juga kondisi tempat tinggal keluarga.

 

Pilar menegaskan, pembangunan kota tidak hanya soal infrastruktur. Peningkatan kualitas sumber daya manusia juga harus menjadi perhatian sejak anak-anak.

 

"Kalau mau membangun sebuah kota, bangun dulu SDM yang unggul. Tidak bisa hanya Pemkot Tangsel saja sendiri berjuang membangun kota, diperlukan partisipasi masyarakat. Tapi SDM-nya harus unggul, fisik mental unggul, salah satunya dengan pencegahan stunting," pungkasnya.

Komentar:
GROUP RAKYAT MERDEKA
RM ID
Banpos
Satelit