TangselCity

Pos Tangerang

Pos Banten

Politik

Olahraga

Nasional

Pendidikan

Ekonomi Bisnis

Haji 2026

Galeri

Internasional

Otomotif

Selebritis

Lifestyle

Opini

Hukum

Advertorial

Kesehatan

Kriminal

Piala Dunia 2026

RELIJIUCITY

Indeks

Dewan Pers

Rupiah Tertekan, Dolar AS Kembali Mendekati Rp18.000

Reporter: Farhan
Editor: AY
Sabtu, 26 September 2026 | 08:11 WIB
Ilustrasi. Foto : Ist
Ilustrasi. Foto : Ist

JAKARTA — Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan dolar Amerika Serikat (AS). Pada akhir perdagangan pekan ini, dolar AS nyaris menyentuh level Rp18.000.


Rupiah ditutup pada level Rp17.902 per dolar AS, Jumat (25/9/2026). Angka tersebut melemah dibandingkan pembukaan perdagangan Senin (21/9/2026) yang berada di posisi Rp17.793 per dolar AS.


Sehari sebelumnya, rupiah bahkan sempat menyentuh Rp17.916 per dolar AS.


Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan pemerintah terus mencermati pergerakan nilai tukar tersebut.


"Kita monitor," ujar Airlangga di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Jumat (25/9/2026).


Airlangga tidak merinci langkah pemerintah untuk merespons pelemahan rupiah. Menurutnya, fluktuasi nilai tukar merupakan dinamika yang terjadi di pasar dan pemerintah terus memantau perkembangannya.


Bank Indonesia (BI) sebelumnya menyebut tekanan terhadap rupiah dipengaruhi sejumlah faktor global dan domestik.


Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI Erwin Gunawan Hutapea mengatakan, salah satu pemicunya adalah ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga bank sentral AS atau The Fed.


Tekanan tersebut turut mendorong imbal hasil US Treasury 10 tahun naik hingga 5,11 persen, level tertinggi sejak 2007.
Kenaikan imbal hasil surat utang AS membuat aset berbasis dolar kembali menarik bagi investor. Ketidakpastian konflik di Timur Tengah juga menjadi perhatian karena berpotensi mengganggu pasokan minyak dunia.


Harga minyak Brent bahkan kembali berada di atas 100 dolar AS per barel.
Dari dalam negeri, kebutuhan dolar meningkat menjelang akhir kuartal III 2026. Permintaan tersebut antara lain berasal dari importir yang membutuhkan valuta asing untuk pembayaran barang dari luar negeri.


Selain itu, arus dana investor asing keluar dari sejumlah pasar negara berkembang, termasuk Indonesia, turut memberikan tekanan terhadap rupiah.
Analis Mata Uang Doo Financial Futures Lukman Leong memperkirakan tekanan terhadap rupiah masih berlanjut. Menurutnya, penguatan indeks dolar AS dan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS menjadi faktor utama yang perlu dicermati.


Ekspektasi pasar terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga The Fed pada Oktober 2026 juga ikut memengaruhi pergerakan rupiah.


Meski demikian, Lukman menyebut terdapat sejumlah faktor yang berpotensi menahan pelemahan rupiah. Di antaranya harapan tercapainya kesepakatan antara AS dan Iran serta penurunan harga minyak mentah dunia.
Sementara itu, Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia Fakhrul Fulvian menilai pelemahan rupiah tidak selalu harus direspons dengan kenaikan suku bunga.


Menurutnya, kebijakan Bank Indonesia perlu disesuaikan dengan sumber tekanan terhadap rupiah. Jika tekanan berasal dari tingginya imbal hasil global, kenaikan harga minyak, dan meningkatnya risiko valuta asing, BI dapat memperkuat instrumen yang berkaitan langsung dengan risiko tersebut.


Fakhrul mencontohkan penguatan fasilitas pertukaran dolar dan rupiah serta instrumen untuk membantu pelaku pasar mengelola risiko perubahan nilai tukar.


BI sendiri pada Agustus 2026 mempertahankan suku bunga acuan di level 5,75 persen sekaligus memperluas insentif untuk menekan biaya perlindungan terhadap risiko nilai tukar.
Fakhrul menilai kebijakan tersebut perlu diarahkan agar arus modal asing yang masuk ke Indonesia dapat bertahan lebih lama.


"Semakin lama modal bersedia tinggal di Indonesia, semakin besar currency-risk intermediation yang dapat diberikan BI," ujarnya.
 

Komentar:
GROUP RAKYAT MERDEKA
RM ID
Banpos
Satelit