Suahasil Bidik Ekonomi Tumbuh 6 Persen, Ini Strateginya
JAKARTA — Menteri Keuangan Suahasil Nazara menyiapkan sejumlah strategi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia menuju 6 persen. Pemerintah mulai memperkuat berbagai mesin pertumbuhan sejak tahun ini sebagai persiapan mencapai target tersebut.
Strategi yang disiapkan mencakup menjaga inflasi, mendorong pertumbuhan kredit, mempertahankan stabilitas makroekonomi, memperkuat koordinasi kebijakan fiskal dan moneter, serta mengoptimalkan pelaksanaan APBN.
Suahasil menilai Indonesia memiliki modal yang cukup kuat untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Inflasi masih terkendali, pertumbuhan kredit berada di level dua digit, sementara ekonomi Indonesia pada semester I 2026 tumbuh 5,45 persen.
Dia optimistis pertumbuhan ekonomi pada semester II 2026 masih dapat berada di atas 5,5 persen.
“Saya yakin, di kuartal III, kuartal IV, di setengah tahun kedua ini, kita masih bisa tumbuh di atas 5,5 persen. Ini merupakan pertumbuhan yang cukup baik,” kata Suahasil di Jakarta, Minggu (27/9/2026).
Menurutnya, target pertumbuhan 6 persen akan menjadi sasaran resmi pemerintah mulai 2027. Karena itu, berbagai instrumen pendorong pertumbuhan perlu mulai dipersiapkan sejak sekarang.
Suahasil mencatat pertumbuhan kredit pada Agustus 2026 mencapai 13,65 persen secara tahunan (year on year/yoy). Pada periode yang sama, inflasi tercatat 3,19 persen yoy.
“Aspirasi kami menuju 6 persen. Kondisi dunianya seperti ini, kami lihat bagaimana gerak ekonomi Indonesia, tetapi sangat resilien,” ujarnya.
Dia menilai kombinasi pertumbuhan ekonomi, inflasi yang terkendali, dan ekspansi kredit menjadi indikator positif bagi fundamental perekonomian nasional.
“Kalau inflasinya 3,19 persen, pertumbuhan semester I 5,45 persen, kalau pertumbuhan kreditnya di sekitar 13 persen, ini indikator-indikator yang baik buat fundamental kita,” jelasnya.
Selain menjaga indikator makroekonomi, pemerintah akan mengoptimalkan pelaksanaan APBN. Pemantauan terhadap realisasi anggaran dilakukan secara berkala agar kebijakan fiskal tetap mampu menopang aktivitas ekonomi.
Koordinasi antara otoritas fiskal dan moneter juga akan diperkuat.
Kementerian Keuangan bersama Bank Indonesia akan meningkatkan sinergi, termasuk melalui Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK).
Suahasil mengatakan, penguatan sinergi APBN, investasi Danantara, serta kebijakan fiskal dan moneter menjadi bagian dari pendekatan baru dalam pengelolaan ekonomi makro. Ketiganya dinilai penting untuk menjaga ketahanan sekaligus mendorong pertumbuhan.
Sementara itu, Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti memproyeksikan ekonomi Indonesia pada 2026 tumbuh dalam kisaran 4,8-5,7 persen. Konsumsi rumah tangga masih menjadi salah satu penopang utama, disertai dukungan stimulus fiskal pemerintah.
“Investasi juga masih tumbuh dengan baik, terutama investasi pemerintah. Namun, peran investasi swasta perlu ditingkatkan untuk memperkuat pertumbuhan ekonomi,” kata Destry.
Dari sektor eksternal, kinerja ekspor nonmigas juga menunjukkan peningkatan seiring naiknya permintaan dari sejumlah negara. Meski demikian, pemerintah dan BI masih perlu mengoptimalkan manfaat kenaikan harga komoditas ekspor terhadap perekonomian nasional.
BI, kata Destry, akan terus memperkuat bauran kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran melalui sinergi dengan pemerintah.
“Untuk menjaga stabilitas dalam rangka mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat dan berdaya tahan,” ujarnya.
Strategi penguatan ekonomi tersebut turut dibahas dalam pertemuan Presiden Prabowo Subianto dengan sejumlah pejabat ekonomi di Hambalang, Jumat (25/9/2026).
Pertemuan tersebut dihadiri Suahasil, Destry, Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi, Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus CEO Danantara Rosan Roeslani, Kepala BP BUMN/COO Danantara Dony Oskaria, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, serta Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad.
Pertemuan membahas perkembangan ekonomi nasional dan kondisi sektor jasa keuangan.
Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia Fakhrul Fulvian menilai optimisme pemerintah memiliki dasar karena sejumlah indikator domestik menunjukkan ekonomi Indonesia masih memiliki daya tahan.
Ekonomi Indonesia tumbuh 5,45 persen pada semester I 2026, dengan pertumbuhan kuartal I sebesar 5,61 persen dan kuartal II sebesar 5,29 persen.
“Inflasi juga masih terkendali dan pertumbuhan kredit tetap cukup kuat,” kata Fakhrul kepada Redaksi, Minggu (27/9/2026).
Namun, dia mengingatkan bahwa pertumbuhan tinggi dalam satu atau dua kuartal belum tentu mencerminkan pertumbuhan yang berkelanjutan.
Menurutnya, yang perlu diperhatikan bukan hanya kemampuan ekonomi tumbuh di atas 5,5 persen pada kuartal III dan IV, tetapi juga sumber pertumbuhan tersebut.
Jika pertumbuhan hanya ditopang percepatan belanja pemerintah, stimulus konsumsi, atau faktor sementara, angka pertumbuhan memang dapat meningkat pada akhir 2026. Namun, kondisi tersebut belum tentu menjadi fondasi yang kuat untuk menopang pertumbuhan ekonomi pada 2027.
Pos Banten | 2 hari yang lalu
Olahraga | 3 jam yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu
TangselCity | 2 hari yang lalu
Olahraga | 2 hari yang lalu
Nasional | 3 hari yang lalu
Olahraga | 2 hari yang lalu
Olahraga | 3 hari yang lalu
Olahraga | 1 hari yang lalu
Nasional | 1 hari yang lalu




