AS-Iran Kembali Berunding, Selat Hormuz Jadi Sorotan
WASHINGTON – Amerika Serikat dan Iran kembali membuka jalur perundingan melalui mediator untuk meredakan konflik sekaligus mencari jalan membuka kembali Selat Hormuz.
Pejabat kedua negara pada Senin (28/9/2026) melakukan pembicaraan terpisah dengan para mediator. Negosiasi disebut membahas revisi proposal Iran untuk membuka kembali jalur pelayaran strategis tersebut dalam waktu tujuh hari.
Proposal sebelumnya mensyaratkan pengurangan tekanan militer serta penyelesaian sejumlah persoalan ekonomi dan nuklir. Namun, Presiden AS Donald Trump telah menyatakan menolak proposal tersebut.
Mediator dari Qatar dan sejumlah negara lain kini berupaya menjembatani perbedaan Washington dan Tehran, terutama terkait sanksi, program nuklir Iran, serta keamanan pelayaran.
Selat Hormuz menjadi jalur penting bagi perdagangan energi dunia. Sekitar seperlima pasokan minyak global atau hampir 20 juta barel per hari sebelumnya melewati kawasan tersebut.
Ketidakpastian di Selat Hormuz turut mengerek harga minyak. Pada perdagangan Selasa (29/9), Brent naik 0,6 persen menjadi sekitar US$105,91 per barel, sedangkan WTI menguat 0,8 persen ke level US$93,32 per barel.
Data awal Kpler mencatat ekspor minyak sejumlah produsen utama Timur Tengah mencapai sekitar 12,8 juta barel per hari pada September. Namun, arus pengiriman melalui Selat Hormuz masih di bawah kondisi sebelum konflik.
Hingga kini, perundingan AS-Iran belum menghasilkan kesepakatan final. Hasil diplomasi tersebut dinilai akan menjadi faktor penting bagi keamanan pelayaran di Teluk sekaligus pergerakan pasar energi global.
Internasional | 1 hari yang lalu
Olahraga | 1 hari yang lalu
Nasional | 3 hari yang lalu
Nasional | 1 hari yang lalu
Olahraga | 3 hari yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu
Nasional | 1 hari yang lalu
Olahraga | 3 hari yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu
TangselCity | 2 hari yang lalu




