TangselCity

Pos Tangerang

Pos Banten

Politik

Olahraga

Nasional

Pendidikan

Ekonomi Bisnis

Haji 2026

Galeri

Internasional

Otomotif

Selebritis

Lifestyle

Opini

Hukum

Advertorial

Kesehatan

Kriminal

Piala Dunia 2026

RELIJIUCITY

Indeks

Dewan Pers

Fresh Graduate Tak Langsung Kerja, Persaingan dan Mismatch Jadi Tantangan

Oleh: Silmi MG
Editor: AY
Jumat, 02 Oktober 2026 | 10:47 WIB
Ilustrasi. Foto : Ist
Ilustrasi. Foto : Ist

SERPONG - Gelar sarjana belum menjadi jaminan seseorang langsung mendapatkan pekerjaan. Lulusan baru atau fresh graduate masih harus berhadapan dengan ketatnya persaingan, tuntutan pengalaman, serta kebutuhan perusahaan terhadap keterampilan yang sesuai dengan posisi yang ditawarkan.


Kondisi itu tercermin dari masih tingginya jumlah pengangguran berpendidikan tinggi di Indonesia. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), sebanyak 904.440 lulusan universitas tercatat menganggur pada Agustus 2025. Jumlah tersebut menjadi bagian dari total 7,46 juta pengangguran di Indonesia pada periode yang sama.


Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) lulusan universitas juga masih berada di angka 5,39 persen. Data ini menunjukkan bahwa transisi dari bangku kuliah ke dunia kerja belum selalu berlangsung mulus bagi para lulusan perguruan tinggi.


Tantangan lainnya terlihat dari lamanya proses mendapatkan pekerjaan. Data Kementerian Ketenagakerjaan menunjukkan, dari tenaga kerja yang baru menyelesaikan pendidikan pada 2023-2024, sebanyak 63,1 persen lulusan perguruan tinggi telah bekerja. Sementara mereka yang masih mencari pekerjaan membutuhkan waktu rata-rata sekitar 6,7 bulan.


Persoalan bukan hanya soal mendapatkan pekerjaan, tetapi juga kesesuaian pekerjaan dengan latar belakang pendidikan. Penelitian Kementerian Ketenagakerjaan berdasarkan Sakernas Februari 2022 mencatat sekitar 33,5 persen pekerja lulusan pendidikan tinggi mengalami horizontal mismatch.


Istilah tersebut merujuk pada kondisi ketika seseorang bekerja di bidang yang tidak sesuai dengan latar belakang pendidikan yang ditempuh. Artinya, sebagian lulusan perguruan tinggi harus memasuki bidang pekerjaan di luar kompetensi yang dipelajari selama masa kuliah.


Di sisi lain, perubahan teknologi dan kebutuhan industri turut membuat tuntutan terhadap tenaga kerja semakin berkembang. Perusahaan membutuhkan kompetensi yang relevan dengan perkembangan dunia kerja, sehingga ijazah saja tidak selalu cukup untuk memenuhi kualifikasi sebuah posisi.


Kondisi tersebut membuat masa transisi dari perguruan tinggi ke dunia kerja menjadi tantangan tersendiri bagi fresh graduate. Persaingan tidak hanya ditentukan oleh jumlah lowongan, tetapi juga kemampuan lulusan menyesuaikan kompetensinya dengan kebutuhan industri.


Kesenjangan antara kompetensi lulusan dan kebutuhan perusahaan pun menjadi pekerjaan rumah bagi dunia pendidikan dan pasar kerja. Penyelarasan kurikulum, peningkatan keterampilan, serta pengalaman kerja menjadi bagian penting untuk memperkecil jarak tersebut.
 

Komentar:
GROUP RAKYAT MERDEKA
RM ID
Banpos
Satelit