TangselCity

Pos Tangerang

Pos Banten

Politik

Olahraga

Nasional

Pendidikan

Ekonomi Bisnis

Haji 2026

Galeri

Internasional

Otomotif

Selebritis

Lifestyle

Opini

Hukum

Advertorial

Kesehatan

Kriminal

Piala Dunia 2026

RELIJIUCITY

Indeks

Dewan Pers

PBSI Bidik Lolos di Semua Nomor Olimpiade 2028

Reporter & Editor : AY
Rabu, 07 Oktober 2026 | 18:17 WIB
Foto : Ist
Foto : Ist

JAKARTA — Pengurus Pusat Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PP PBSI) menjadikan raihan enam medali pada Asian Games Aichi-Nagoya 2026 sebagai bahan evaluasi untuk menghadapi target yang lebih besar, yakni Olimpiade Los Angeles 2028.


Ketua Umum PP PBSI M Fadil Imran menegaskan, Indonesia menargetkan kelolosan maksimal di seluruh nomor pertandingan bulutangkis pada Olimpiade 2028 sekaligus memburu medali emas.


Hal itu disampaikan Fadil dalam acara Tasyakuran Pencapaian Tim Bulu Tangkis Indonesia pada Asian Games 2026 di Pelatnas PP PBSI Cipayung, Jakarta, Rabu (7/10/2026).


Menurut Fadil, perjalanan menuju Olimpiade 2028 harus dimulai dengan evaluasi menyeluruh terhadap hasil Asian Games. Setiap pertandingan dan capaian atlet harus menjadi pijakan untuk memperkuat pembinaan.


“Perjalanan menuju Los Angeles 2028 terus berjalan. Prestasi adalah milik bersama, evaluasi adalah tanggung jawab bersama, dan masa depan bulu tangkis Indonesia adalah perjuangan kita bersama,” ujar Fadil.


Pada Asian Games Aichi-Nagoya 2026, bulutangkis menjadi salah satu cabang olahraga penyumbang medali terbanyak bagi kontingen Indonesia. Tim Merah Putih mengoleksi enam medali, terdiri dari dua emas, satu perak, dan tiga perunggu.


Dua medali emas dipersembahkan tim beregu putra serta ganda putra Leo Rolly Carnando/Daniel Marthin. Medali perak diraih ganda campuran Amri Syahnawi/Nita Violina Marwah.


Sementara itu, tiga medali perunggu masing-masing disumbangkan tim beregu putri, tunggal putra Alwi Farhan, serta ganda putra Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri.


Fadil menegaskan, pencapaian tersebut tidak boleh hanya menjadi catatan prestasi. Setiap hasil pertandingan harus diterjemahkan menjadi data dan bahan evaluasi untuk meningkatkan performa atlet.


“Medali Asian Games ini jangan hanya kita simpan di lemari. Kita harus mengubah setiap medali menjadi data, setiap pertandingan menjadi evaluasi, setiap kekalahan menjadi pelajaran, dan setiap kemenangan menjadi standar baru,” tegasnya.


Sejumlah hasil pertandingan di Asian Games, lanjut Fadil, akan dibedah secara detail. Salah satunya kekalahan Alwi Farhan dari tunggal putra Thailand, Kunlavut Vitidsarn, serta performa sektor putri pada nomor perseorangan.


Menurutnya, kekalahan tidak boleh berhenti sebagai hasil di papan skor. Setiap kekalahan harus menjadi bahan perbaikan untuk menghadapi turnamen berikutnya.


Sebaliknya, kemenangan juga harus menjadi tolok ukur baru. Fadil mencontohkan keberhasilan Moh Zaki Ubaidillah atau Ubed yang mampu mengalahkan pemain China Weng Hongyang.


“Ketika Ubed bisa menang melawan tunggal China, itu menjadi standar baru buat Ubed,” katanya.


Fadil menambahkan, ukuran keberhasilan PBSI tidak hanya dilihat dari kemampuan melahirkan juara dalam satu turnamen. Lebih dari itu, PBSI harus mampu membangun sistem pembinaan yang konsisten sehingga prestasi dapat berlanjut dari satu generasi ke generasi berikutnya.


Karena itu, sejumlah pekerjaan rumah masih harus diselesaikan setelah Asian Games 2026. Di antaranya menjaga konsistensi performa, memperkuat kedalaman atlet di setiap sektor, memperkecil kesenjangan kualitas antara kelompok utama dan pratama, serta meningkatkan kemampuan atlet bertanding di bawah tekanan.


Program individual atlet dan pemantauan berbasis data juga akan terus diperkuat sebagai bagian dari sistem pembinaan.


“Organisasi yang sehat bukan organisasi yang merasa selalu benar. Organisasi yang sehat adalah organisasi yang berani melihat kekurangannya dan memperbaikinya,” ujar Fadil.


Dalam kesempatan tersebut, PP PBSI juga memberikan apresiasi kepada para atlet peraih medali beserta seluruh tim pendukung yang berada di balik keberhasilan Indonesia di Asian Games 2026.


Fadil menyebut raihan dua emas, satu perak, dan tiga perunggu merupakan hasil kerja kolektif yang melibatkan pelatih teknik dan fisik, tim performa dan sport science, tenaga medis, psikolog, ahli nutrisi, fisioterapis, hingga tim analisis data dan video.


Ia juga mengapresiasi staf, karyawan dan pengurus PP PBSI, termasuk tim administrasi, pengelola lapangan, konsumsi, serta operasional harian yang mendukung aktivitas Pelatnas Cipayung.
“Jangan lupakan mereka. Kepada para atlet dan peraih emas, karena mereka yang setiap hari datang dan mempersiapkan semuanya untuk kalian,” kata Fadil.


“Nama mereka tidak muncul di papan skor, tidak muncul di televisi dan tidak berdiri di podium. Tetapi medali yang kalian dapat menyimpan keringat mereka,” pungkasnya.
 

Epaper
Komentar:
GROUP RAKYAT MERDEKA
RM ID
Banpos
Satelit