TangselCity

Pos Tangerang

Pos Banten

Politik

Olahraga

Nasional

Pendidikan

Ekonomi Bisnis

Haji 2026

Galeri

Internasional

Otomotif

Selebritis

Lifestyle

Opini

Hukum

Advertorial

Kesehatan

Kriminal

Piala Dunia 2026

RELIJIUCITY

Indeks

Dewan Pers

“Selat Hormuz Makin Sepi, Harga Minyak Naik”.

Oleh: Fazel MG
Editor: AY
Kamis, 08 Oktober 2026 | 15:01 WIB
Selat Hormuz. Foto : Ist
Selat Hormuz. Foto : Ist

IRAN – Aktivitas pelayaran di Selat Hormuz kembali merosot tajam di tengah meningkatnya serangan terhadap kapal tanker. Kondisi ini memicu kekhawatiran terhadap keamanan jalur perdagangan energi dunia.


Mengutip Reuters, hanya tujuh kapal pengangkut komoditas yang melintasi Selat Hormuz pada Selasa (6/10/2026). Berdasarkan data perusahaan analitik Kpler, angka tersebut menjadi yang terendah dalam lebih dari dua bulan, sekaligus terendah sejak 23 Juli.


Jumlah kapal yang melintas naik tipis menjadi 10 kapal pada Rabu (7/10). Namun, angka itu masih jauh di bawah lebih dari 20 kapal per hari yang tercatat pada Minggu dan Senin sebelumnya.


Penurunan lalu lintas terjadi setelah serangan terhadap kapal tanker di kawasan Selat Hormuz mencapai level tertinggi sejak perang Amerika Serikat dan Iran dimulai pada 28 Februari 2026.


Data keamanan maritim mencatat sedikitnya 12 insiden terhadap kapal tanker sepanjang 28 September hingga 5 Oktober. Insiden tersebut meliputi serangan, percobaan serangan, penerbangan drone di atas kapal, hingga komunikasi agresif terhadap kapal komersial.


Gangguan itu turut berdampak pada aliran minyak. Volume minyak mentah yang melewati Selat Hormuz turun 27 persen dari level tertinggi selama perang menjadi sekitar 10,1 juta barel per hari. Angka tersebut setara sekitar 74 persen dari tingkat sebelum perang.


Selat Hormuz merupakan salah satu jalur energi terpenting dunia. Sebelum perang, sekitar 125 kapal komersial berukuran besar melintas setiap hari. Jalur ini membawa sekitar seperlima pasokan minyak mentah dan gas alam cair (LNG) dunia.


Meski arus di Hormuz menurun, sebagian pengiriman beralih ke jalur alternatif. Ekspor melalui pesisir Teluk Oman dan Laut Merah meningkat menjadi sekitar 6,7 juta barel per hari, lebih dari dua kali lipat dibandingkan sebelum perang.


Kenaikan tersebut membantu menjaga total ekspor minyak mentah Timur Tengah tetap berada di sekitar level sebelum perang. Namun, jalur alternatif juga menghadapi tantangan berupa meningkatnya biaya pengiriman dan risiko keamanan.


Gangguan di Hormuz turut memengaruhi pasar minyak. Pada Kamis (8/10), harga Brent naik sekitar 1,33 persen menjadi US$101,53 per barel. Sementara minyak mentah WTI menguat 1,26 persen menjadi US$89,39 per barel.


Kondisi ini menunjukkan pentingnya keamanan Selat Hormuz bagi stabilitas pasokan energi global. Selama ancaman terhadap kapal tanker masih tinggi, pasar akan terus mengantisipasi potensi gangguan distribusi minyak dan bahan bakar.


Negara-negara Asia juga menjadi pihak yang terdampak karena banyak bergantung pada impor energi dari Timur Tengah. Gangguan berkepanjangan berpotensi meningkatkan biaya energi dan transportasi, sekaligus menambah tekanan inflasi.


Dengan lalu lintas kapal yang masih jauh di bawah kondisi normal, perkembangan keamanan di Selat Hormuz menjadi salah satu faktor penting yang akan menentukan arah pasokan dan harga energi dunia.
 

Epaper
Komentar:
GROUP RAKYAT MERDEKA
RM ID
Banpos
Satelit