Popularitas Trump Terpuruk, Demokrat Unggul 12 Poin Jelang Pemilu AS
WASHINGTON DC – Dukungan terhadap Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump merosot ke level terendah selama dua periode kepemimpinannya. Situasi ini menjadi ancaman bagi Partai Republik menjelang pemilihan paruh waktu (midterm elections) pada 3 November 2026.
Kenaikan biaya hidup dan penolakan publik terhadap perang AS-Israel melawan Iran dinilai turut menggerus kepercayaan masyarakat terhadap pemerintahan Trump. Kondisi tersebut membuka peluang bagi Partai Demokrat untuk merebut kendali Kongres AS.
Dikutip dari Al Jazeera, Rabu (21/10/2026), survei Reuters/Ipsos yang dirilis Senin menunjukkan hanya 31 persen warga AS yang puas terhadap kinerja Trump. Angka ini turun dari 32 persen dalam survei dua pekan sebelumnya sekaligus menjadi yang terendah sepanjang dua masa jabatannya.
Survei yang sama memperlihatkan keunggulan signifikan Demokrat dalam preferensi pemilih. Sebanyak 47 persen responden menyatakan akan memilih Demokrat jika pemilu digelar saat ini, sedangkan dukungan terhadap Republik hanya 35 persen. Selisih 12 poin persentase itu menjadi yang terbesar bagi Demokrat dalam siklus pemilu kali ini, meningkat dari tujuh poin pada survei sebelumnya.
Pergeseran dukungan terlihat terutama di kalangan perempuan. Sekitar separuh perempuan yang disurvei memilih Demokrat. Partai tersebut juga dinilai lebih mampu mengelola perekonomian AS, dengan dukungan 40 persen responden, dibandingkan 33 persen untuk Republik.
Hasil survei ini menjadi peringatan bagi Partai Republik yang berupaya mempertahankan dominasinya di Kongres. Dalam pemilu mendatang, seluruh 435 kursi Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) AS dan 33 dari 100 kursi Senat akan diperebutkan.
Saat ini, Republik menguasai DPR dengan 218 kursi, unggul tipis dari Demokrat yang memiliki 214 kursi. Di Senat, Republik memegang 53 kursi, sementara Demokrat menguasai 47 kursi.
Jika Demokrat berhasil membalikkan peta kekuatan di kedua kamar Kongres, pemerintahan Trump berpotensi menghadapi hambatan lebih besar dalam menjalankan agenda politiknya. Secara historis, partai presiden cenderung kehilangan kursi dalam pemilu paruh waktu, terutama ketika tingkat kepuasan terhadap kepala negara melemah.
Meski demikian, hasil survei nasional belum menjamin kemenangan Demokrat. Survei Reuters/Ipsos melibatkan 1.679 orang dewasa dan tidak merinci dukungan pemilih di setiap negara bagian. Karena itu, persaingan di masing-masing daerah tetap menjadi faktor penting dalam menentukan hasil pemilu.
Pendidikan | 1 hari yang lalu
Nasional | 3 hari yang lalu
Olahraga | 2 hari yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu
Pendidikan | 1 hari yang lalu
Nasional | 3 hari yang lalu
Nasional | 3 hari yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu
Nasional | 3 hari yang lalu
Nasional | 3 hari yang lalu




