Pemilu Israel Jadi Ujian Berat Netanyahu
TEL AVIV – Pemilu legislatif Israel, Selasa (27/10/2026), menjadi ujian berat bagi Perdana Menteri Benjamin Netanyahu. Setelah berkuasa selama bertahun-tahun, Netanyahu menghadapi tantangan serius dari blok oposisi yang dipimpin mantan Panglima Militer Gadi Eisenkot.
Lebih dari tujuh juta warga Israel berhak memilih 120 anggota Knesset atau parlemen. Hasil pemilu diperkirakan ketat, dengan partai-partai Arab berpotensi menjadi penentu pembentukan pemerintahan.
Jajak pendapat menjelang pemungutan suara menunjukkan Eisenkot unggul 49 persen, sementara Netanyahu meraih 41 persen. Eisenkot memimpin Partai Yashar dan didukung koalisi lintas ideologi yang ingin mengakhiri era kepemimpinan Netanyahu.
Netanyahu mengandalkan citra sebagai pemimpin yang mampu menjamin keamanan Israel, terutama menghadapi ancaman Iran. Namun, pemerintahannya terus dibayangi kritik atas kegagalan mengantisipasi serangan Hamas pada 7 Oktober 2023, tuduhan korupsi, serta kontroversi reformasi peradilan.
Proyeksi kursi menunjukkan kedua kubu berpotensi gagal meraih mayoritas 61 kursi. Blok oposisi diperkirakan memperoleh 51–55 kursi, sedangkan koalisi Netanyahu meraih 48–50 kursi. Partai Arab dan kelompok nonblok diproyeksikan menguasai 13–14 kursi.
Kondisi ini membuka peluang negosiasi politik yang panjang untuk membentuk pemerintahan. Meski bersaing dengan Netanyahu, Eisenkot memiliki sikap keras terhadap Hamas dan berjanji mengakhiri kekuasaannya di Gaza dalam 18 bulan.
Nasional | 3 hari yang lalu
Olahraga | 2 hari yang lalu
Olahraga | 3 hari yang lalu
TangselCity | 1 hari yang lalu
Nasional | 3 hari yang lalu
TangselCity | 1 hari yang lalu
Olahraga | 2 hari yang lalu
Olahraga | 3 hari yang lalu
TangselCity | 3 hari yang lalu
Olahraga | 2 hari yang lalu




