Ratusan Siswa Adu Diplomasi Di Simulasi Sidang PBB
Tuai Pujian Mantan Menlu RI
SERPONG-Kemampuan diplomasi ratusan siswa dalam simulasi sidang Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menuai pujian dari mantan Menteri Luar Negeri (Menlu) RI, Hassan Wirajuda. Aksi mereka dinilai tidak canggung membahas isu global yang kompleks, bahkan dengan bahasa Inggris yang fasih.
Apresiasi itu disampaikan Hassan saat menghadiri pembukaan Model United Nations Syafana Islamic School (Munsya) 2026 di Gedung Ade Kismantoro Secondary, Syafana Islamic School, BSD, Sabtu (31/10).
Munsya 2026 yang digelar pada 31 Oktober hingga 1 November 2026, mengusung tema "Navigating the Seas to Safeguard Human Dignity". Ajang ini mempertemukan ratusan siswa SD, SMP, hingga SMA dari Jabodetabek, Bandung, dan Lampung untuk berperan sebagai diplomat yang mewakili negara-negara di dunia.
Pembukaan turut dihadiri diplomat Jepang untuk ASEAN di Jakarta, Mizuki Saito, serta Sekretaris Pertama KBRI di Kopenhagen, Denmark, yang bergabung secara daring.
Hassan Wirajuda mengaku terkejut melihat keberanian siswa tingkat sekolah menengah pertama membahas isu-isu internasional.
“Saya menghargai sekali, anak-anak pada tingkat sekolah lanjutan pertama, sudah mulai membiasakan diri untuk membahas isu-isu internasional, ini luar biasa,” kata Hassan yang menjabat Menlu RI periode 2001-2009 itu.
Ia juga menyoroti kefasihan bahasa Inggris para peserta. “Saya lihat mereka bahasa Inggris-nya bagus, topik-topik yang didiskusikan, kalau menurut saya dosisnya agak berat, tetapi mereka tidak canggung menghadapi isu itu. Mereka sangat terbuka,” ujarnya.
Di hadapan peserta, Hassan berpesan bahwa peluang generasi muda untuk berkiprah di dunia internasional sangat terbuka lebar. Kuncinya ada dua: penguasaan ilmu dan bahasa.
“Semua sangat tergantung pada dua, satu penguasaan keilmuannya, makanya saya tekankan tadi kepada para siswa untuk selalu belajar, belajar, belajar. Yang kedua bahasa, bahasa Inggris penting. Tadi bagus-bagus bahasa Inggrisnya,” ucapnya.
Ia mendorong siswa tidak hanya menguasai bahasa Inggris, tetapi juga bahasa asing lain seperti Mandarin, Jepang, dan Arab. Menurutnya, tantangan generasi saat ini berbeda dengan generasi 1928. Jika dulu berjuang untuk persatuan bangsa, kini generasi muda bersaing di panggung global.
“Itu hal yang ditawarkan dunia, termasuk kepada kita. Lahan kerja profesi Anda itu bukan hanya Indonesia, tetapi juga ASEAN, Jepang, Korea, Eropa, Amerika,” paparnya.
Sementara, Managing Director Syafana Islamic School, Nanang Firdaus Masduki menyebut, kehadiran Hassan menjadi suntikan motivasi bagi siswa.
Ia menegaskan, Munsya bukan sekadar lomba bahasa Inggris, melainkan sekolah diplomasi untuk melatih kedewasaan dalam berbeda pendapat.
“Saya berharap, kelak anak-anak ini sudah terbiasa berbeda pendapat. Jadi kalau berbeda pendapat itu tidak harus bersinggungan, bermusuhan, tetapi sebagai proses kedewasaan,” kata Nanang.
Menurutnya, pengalaman bernegosiasi dan mencari titik temu dari berbagai kepentingan negara adalah bekal penting untuk melahirkan diplomat dan negosiator masa depan.
“Semoga, ke depan, kita punya anak-anak yang menjadi diplomat, negosiator di dunia internasional, yang mengerti isu-isu global, dari kegiatan semacam ini,” pungkasnya.(rmn)
Pos Banten | 1 hari yang lalu
Olahraga | 2 hari yang lalu
Olahraga | 2 hari yang lalu
Nasional | 3 hari yang lalu
Nasional | 3 hari yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu
TangselCity | 2 hari yang lalu
Olahraga | 3 hari yang lalu
Pos Banten | 2 hari yang lalu
TangselCity | 2 hari yang lalu



