Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,47 Persen, Lampaui Mayoritas Negara G20
JAKARTA – Perekonomian Indonesia mencatat pertumbuhan 5,47 persen pada kuartal III-2026. Capaian ini menempatkan Indonesia di atas mayoritas negara anggota G20, meski ekonomi global masih dibayangi ketidakpastian.
Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik Badan Pusat Statistik (BPS), Moh. Edy Mahmud, mengatakan pertumbuhan tersebut lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 5,04 persen.
Dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga menjadi penyumbang terbesar pertumbuhan ekonomi dengan kontribusi 2,62 persen. Komponen ini tumbuh 5,04 persen, meningkat dibandingkan kuartal III-2025 yang sebesar 4,89 persen.
Kinerja konsumsi masyarakat ditopang meningkatnya transaksi barang dan jasa secara daring, mobilitas penduduk, aktivitas pariwisata, serta kebijakan pemerintah dalam menjaga stabilitas harga.
Selain konsumsi rumah tangga, investasi melalui Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) juga menunjukkan kinerja positif dengan pertumbuhan 6,06 persen.
Sementara itu, konsumsi pemerintah melonjak 8,95 persen, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan 5,66 persen pada periode yang sama tahun sebelumnya. Peningkatan ini didorong realisasi belanja pegawai, termasuk gaji dan tunjangan ASN, serta belanja barang dan jasa, terutama untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Dari sisi lapangan usaha, industri pengolahan menjadi penyumbang terbesar pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) dengan kontribusi 1,20 persen. Berikutnya perdagangan sebesar 0,94 persen, konstruksi 0,62 persen, serta informasi dan komunikasi 0,49 persen.
Secara regional, Bali dan Nusa Tenggara mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 6,08 persen. Disusul Jawa 5,84 persen dan Sulawesi 5,68 persen. Ketiga wilayah tersebut tumbuh di atas angka nasional.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, pertumbuhan Indonesia melampaui sejumlah negara besar anggota G20.
China tercatat tumbuh 4,5 persen, Korea Selatan 3,4 persen, Jerman 1,2 persen, dan Jepang hanya 0,7 persen. Namun, Indonesia masih berada di bawah India yang mencatat pertumbuhan 7,8 persen.
Airlangga menilai capaian tersebut menunjukkan fundamental ekonomi Indonesia tetap terjaga. Pemerintah pun akan melanjutkan kebijakan terarah untuk mempertahankan momentum pertumbuhan, terutama melalui peningkatan investasi.
"Dengan fundamental yang kuat, investasi terus meningkat. Tentu, dukungan kebijakan yang terarah akan terus dijalankan," ujarnya dalam konferensi pers pertumbuhan ekonomi kuartal III-2026, Kamis (5/11/2026).
Pemerintah tetap membidik pertumbuhan ekonomi sebesar 5,4 persen sepanjang 2026 sesuai target APBN. Target tersebut dinilai masih realistis, mengingat pertumbuhan ekonomi secara kumulatif selama Januari-September 2026 telah mencapai 5,45 persen.
Untuk menjaga laju ekonomi hingga akhir tahun, pemerintah akan mengoptimalkan belanja dan memperkuat daya beli masyarakat. Salah satu langkahnya melalui stimulus ekonomi dengan pagu anggaran Rp31 triliun.
Meski demikian, sejumlah risiko masih membayangi perekonomian pada kuartal IV-2026. Di antaranya kenaikan harga minyak dunia, suku bunga negara-negara maju, serta ancaman El Nino yang diperkirakan berdampak terhadap 61 persen wilayah Indonesia.
Olahraga | 3 hari yang lalu
Olahraga | 3 hari yang lalu
Nasional | 22 jam yang lalu
Olahraga | 3 hari yang lalu
Olahraga | 3 hari yang lalu
Olahraga | 2 hari yang lalu
TangselCity | 2 hari yang lalu
Pos Banten | 2 hari yang lalu
Olahraga | 2 hari yang lalu
Pos Banten | 1 hari yang lalu



