TangselCity

Pos Tangerang

Pos Banten

Politik

Olahraga

Nasional

Pendidikan

Ekonomi Bisnis

Galeri

Internasional

Selebritis

Lifestyle

Opini

Hukum dan Kriminal

Advertorial

Indeks

Dewan Pers SinPo

Prabowo-Khofifah Lebih Menjual, Tapi Belum Tentu Menang

Oleh: SAR/AY
Rabu, 03 Agustus 2022 | 09:02 WIB
Prabowo Subianto dan Khofifah Indar Parawangsa. (Ist)
Prabowo Subianto dan Khofifah Indar Parawangsa. (Ist)

JAKARTA - Di tengah kemesraan dengan Muhaimin Iskandar alias Imin, Prabowo Subianto justru ada yang menjodohkan untuk berduet dengan Khofifah Indar Parawansa di Pilpres 2024. Memang, untuk daya jual, Prabowo-Khofifah lebih bunyi ketimbang Prabowo-Imin. Namun, duet tersebut juga belum tentu menang, mengingat elektabilitas Prabowo saat ini stagnan. Begitu juga dengan elektabilitas Khofifah yang masih kecil.

Salah satu pihak yang menjodohkan Prabowo-Khofifah adalah analis politik Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto, Indaru Setyo Nurprojo. "Duet Prabowo-Khofifah merupakan perpaduan yang pas antara sosok nasionalis dan religius. Khofifah sangat cocok jika berduet dengan bakal calon presiden dari kalangan nasionalis," ujar Indaru.

Indaru menilai, Khofifah yang merupakan Gubernur Jawa Timur, punya dua modal politik kuat. Selain merupakan representasi Nahdlatul Ulama (NU), Khofifah juga merupakan representasi perempuan. Dua modal politik ini jarang dimiliki kandidat lain.

Dia melanjutkan, jumlah kaum perempuan mendominasi pemilih di Indonesia saat ini. Jumlahnya mencapai separuh lebih dari total pemilik hak suara.

Kemudian, jika ditarik lagi ke faktor NU, Khofifah juga dinilai cukup ideal berpasangan dengan Prabowo. Sebab, NU sebagai ormas Islam terbesar di Indonesia, Khofifah layak disebut sebagai representasi dari kelompok religius.

Indaru menilai, Khofifah memiliki banyak pengalaman di legislatif dan eksekutif, seperti saat ini menjadi Gubernur Jawa Timur, menjadi Menteri Pemberdayaan Perempuan di era Gus Dur, pernah menjabat Kepala BKKBN, dan menjadi Menteri Sosial pada 2014-2018.

Selain itu, menurut dia, Khofifah adalah pemimpin organisasi sayap perempuan Nahdlatul Ulama yaitu Muslimat NU. Khofifah punya anggota yang cukup banyak yang tersebar di seluruh Indonesia: lebih dari 30 juta.

Secara personal, Indaru menilai Khofifah juga sosok politikus yang sangat luwes dan bisa diterima semua kalangan. Ini juga modal yang tidak kalah penting, untuk mengantisipasi kembali terjadinya polarisasi di hajatan demokrasi.

Peneliti senior Media Survei Nasional (Median) Ade Irfan Abdurrahman melihat, wacana duet Prabowo-Khofifah sangat menarik. Peluangnya cukup besar dibanding dengan Prabowo-Imin.

"Ada kemungkinan angka grassroot-nya besar di Jawa Timur. Bisa juga Khofifah disandingkan dengan Prabowo, apalagi tokoh perempuan. Angkanya bisa oke,” ucapnya.

Hanya saja, kata dia, duet ini akan terhalang tiket untuk maju di 2024. Sebab, yang pegang tiket adalah Imin, yang merupakan Ketua Umum PKB. “Angkanya (elektabilitas Prabowo-Khofifah) bisa oke. Cuma PKB-nya oke apa nggak,” tanyanya.

Pihak Gerindra terbuka saja dengan usulan Prabowo-Khofifah. Wakil Ketua Umum DPP Gerindra M Irfan Yusuf Hasyim menyatakan, selama ini pihaknya juga tengah membangun pendekatan dengan sejumlah tokoh potensial yang merepresentasikan NU. Selain Imin, ada juga Khofifah hingga Mahfud MD.

"Kita sudah ada pendekatan-pendekatan, kira-kira mana yang paling pas. Hampir semua kit sudah temui," kata pria yang akrab disapa Gus Irfan ini, saat dikontak tadi malam.

Dengan Khofifah, Prabowo sudah ketemu langsung. Namun, pembicaraannya belum menjurus pada soal capres-cawapres. "Pembicaraan awal sudah, tapi belum intens," terangnya.

Begitu juga dengan Mahfud. Cucu pendiri NU KH Hasyim Ashari ini bilang, Sekjen Gerindra Ahmad Muzani juga sempat bicara dengan Mahfud di Tanah Suci. "Tapi belum mengarah ke Pilpres. Masih berbicara soal kepentingan bangsa dan negara," terangnya.

Ia tidak menampik ada sejumlah faktor yang menjadi pertimbangan Gerindra dalam memilih pasangan untuk Prabowo. Salah satunya, tingkat keterpilihannya. "Pertama, elektabilitas penting," ungkapnya.

Pertimbangan lain yang tidak kalah penting adalah restu para kiai sepuh NU. "Kita minta masukan-masukan dari kiai sepuh," tuturnya.

Lalu, bagaimana hitung-hitungan politiknya? Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia Adi Prayitno menilai, posisi Prabowo saat ini bak buah simalakama dalam menentukan pasangannya. "Rumit," kata Adi, kepada Rakyat Merdeka, tadi malam.

Sebab, di satu sisi, Gerindra butuh satu partai lagi yang mencukupi syarat ambang batas 20 persen presidential threshold (PT). Agar bisa mendapat tiket maju di Pilpres. Di sisi lain, Prabowo butuh cawapres dengan elektabilitas tinggi.

"Kalau memilih Khofifah atau Mahfud, sulit dapat partai. Namun, kalau ambil PKB, wajib hukumnya ambil Cak Imin. Sementara Cak Imin elektabilitasnya rendah. Maka rumit jadinya," terangnya.

Kalau mau versi ideal, lanjutnya, tentu pilihannya Mahfud atau Khofifah. Namun, jangankan untuk menang Pemilu, untuk bisa nyalon saja menjadi sulit. (rm.id)

Komentar:
GROUP RAKYAT MERDEKA
sinpo
sinpo
sinpo