TangselCity

Pos Tangerang

Pos Banten

Politik

Olahraga

Nasional

Pendidikan

Ekonomi Bisnis

Galeri

Internasional

Selebritis

Lifestyle

Opini

Hukum dan Kriminal

Advertorial

Indeks

Dewan Pers SinPo

Ekses Citayam Fashion Week

Oleh: Dr. Muhadam Labolo, M.Si
Sabtu, 13 Agustus 2022 | 23:57 WIB
Dr. Muhadam Labolo, M.Si. (Dok. Pribadi)
Dr. Muhadam Labolo, M.Si. (Dok. Pribadi)

EKSES Citayam Fashion Week kini menelan korban. Korbannya bukan di jalanan Citayam atau Dukuh Atas. Korbannya di Payakumbuh Timur. Seorang Ibu Camat beranak dua dimutasi dari jabatan pasca aksi street fashion di daerahnya. Mungkin ia punya maksud positif namun beda dalam pandangan lain.

Alasan pencopotan karena dinilai melanggar etika. Soal etika tentu kompleks dan luas. Tapi di sini etika Aparatur Sipil Negara (ASN) yang konon tak sedikitpun dilanggar, apakah itu etika bernegara, berorganisasi, bermasyarakat, diri sendiri, maupun sesama aparatus (Holyson, 2022).

Etika ASN itu berlaku untuk semua aparatur sipil negara, di pusat maupun daerah. Namun begitu, budaya lokal seringkali mensabotase bahkan atas nama otonomi daerah. Lebih lagi jika pemimpin lokal memanfaatkan momentum itu sebagai citra perlindungan budaya lokal yang agamis religius.

Di Citayam, street fashion memberi rangsangan bagi elit di level sosial, ekonomi dan politik. Ramai-ramai memperturutkan diri agar beroleh impact semaksimal mungkin. Momen aktualisasi diri itu gratis walau pengendara harus bersabar di depan zebra cross.

Elit sosial memanfaatkan street fashion sebagai ajang melenturkan kelas sosial dalam masyarakat. Profitnya kesetaraan (equality). Dengan keseteraan itu kita dapat diterima di mana saja. Duduk sama rendah, berdiri sama tinggi. Tak ada perasaan disubordinasi, apalagi dijajah oleh bangsa sendiri. Semua orang dihargai sesuai kapasitasnya.

Elit ekonomi tak mau kalah memburu event sesaat itu. Tujuannya jelas, profit oriented. Dengan ikut menyeberang di situ kaum selebriti beroleh limpahan penonton. Jangan heran jika tiba-tiba saja muncul sinterklaas yang berani meng-endorse ratusan juta rupiah agar keriuhan tadi berubah jadi hingar-bingar di layar panggung hiburan.

Kaum elit politik tak ketinggalan. Ini jelas investasi politik dalam masa dua tahun ke depan. Hadir di kerumunan semacam itu tentu dapat mendongrak suara di kelak hari. Hadir saja sudah memberi investasi, apalagi turut serta membuka ruang bagi masa depan para pegiat  fesyen jalanan. Bagi politisi yang pokok janji dulu, soal hasil nanti belakangan.

Lalu mengapa peluang investasi ekonomi, sosial dan politik di Citayam justru aib di Payakumbuh? Mungkin saja ini bukan soal etika aparat sipil negara, tapi soal perspektif budaya lokalistik yang berbeda. Ibarat kata pepatah klasik, lain lubuk lain ikannya. Di Citayam, kulturnya lebih inklusif selain berada di antara Jakarta yang metro-urban dan perbatasan Jawa Barat yang transisi heterogen.

Sementara di Payakumbuh, perspektif masyarakatnya masih kental dengan budaya lokal yang religius. Konteks ini diklaim sekaligus alasan untuk mengubah masa depan seorang camat menjadi staf jalanan. Malangnya, elit lokal sebagai pembina kepegawaian justru menggunakan standar etika sosial tadi sebagai alas bagi vonis pegawai yang memiliki standar etika nasional.

Menyadari hal itu, tentu saja Bu Camat merasa diadili lewat standar lembaga religi lokal, bukan diadili dengan etika aparat sipil negara yang universal. Realitas ini tentu saja unfairness bagi Ibu Camat. Tetapi ia perlu menyadari pula bahwa posisinya tidak berada di Citayam, tapi di sebuah daerah yang kukuh dengan spirit adat bersendi syarak, syarak bersendi kitabullah.

Dengan kesadaran pada dua perangkat nilai itulah tak jarang etika formal yang di produk negara harus mengalah dihadapan etika lokal yang dianggap lebih kuasa (afirmative). Pemandangan demikian seringkali kita jumpai di wilayah Papua dan Aceh, di mana nilai-nilai lokal masih kental bahkan diformalisasi ke dalam bentuk hukum adat dan hukum Syariat Islam.(*)

*) Penulis merupakan analis pada Pusat Kajian Strategis Pemerintahan Jakarta

 

Komentar:
Berita Lainnya
Prof. Tjipta Lesmana
1 Oktober Yang Sakti
Sabtu, 01 Oktober 2022
Prof KH Nasaruddin Umar
Memelihara Akhlak Berpolemik
Jumat, 30 September 2022
Kiki Iswara Darmayana
Saatnya MA Bersih-bersih
Sabtu, 24 September 2022
Prof KH Nasaruddin Umar
Menyikapi Komunitas LGBT
Kamis, 22 September 2022
GROUP RAKYAT MERDEKA
sinpo
sinpo
sinpo