TangselCity

Pos Tangerang

Pos Banten

Politik

Olahraga

Nasional

Pendidikan

Ekonomi Bisnis

Galeri

Internasional

Selebritis

Lifestyle

Opini

Hukum

Advertorial

Kesehatan

Kriminal

RELIJIUCITY

NATARU

Indeks

Dewan Pers

970 Hektare Sawah Di Pandeglang Terancam Gagal Panen

Terendam Banjir Di Delapan Kecamatan

Reporter: Nipal
Editor: Redaksi
Selasa, 06 Januari 2026 | 09:00 WIB
TERENDAM BANJIR. Kondisi persawahan yang ditanami padi di wilayah Kabupaten Pandeglang, telah terendam banjir, beberapa waktu lalu.
TERENDAM BANJIR. Kondisi persawahan yang ditanami padi di wilayah Kabupaten Pandeglang, telah terendam banjir, beberapa waktu lalu.

PANDEGLANG - Hujan deras yang mengakibatkan banjir, telah berdampak buruk pada kondisi tanaman padi di delapan kecamatan di kabupaten Pandeglang. Sebab ada sekitar 970 hektare sawah terendam banjir, sehingga para petani terancam gagal panen.

 

Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura pada Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kabupaten Pandeglang, Nuridawati mengungkapkan, banjir yang merendam lahan sawah milik petani itu dipicu faktor hidrometeorologi akibat intensitas curah hujan tinggi, sebagaimana informasi dari BMKG.

 

“Terjadi banjir di wilayah Kabupaten Pandeglang karena intensitas curah hujan tinggi, ada delapan kecamatan yang terdampak, yakni Kecamatan Panimbang, Cisata, Saketi, Carita, Pagelaran, Patia, Picung, dan Kecamatan Cikeusik,” kata Nuridawati, Senin (5/1).

 

Nuridawati menjelaskan, lahan sawah yang terendam merupakan milik petani dengan usia tanaman padi berkisar antara 15 hingga 30 hari setelah tanam (HST). Jenis padi yang terdampak antara lain varietas Ciherang 432 dan M70D.

 

“Total lahan sawah yang terdampak banjir sekitar 970 hektare, dan semua itu merupakan lahan garapan petani,” ungkapnya.

 

Hingga saat ini, pihaknya masih menunggu hasil pendataan resmi dari petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) Provinsi Banten, untuk memastikan luas lahan yang benar-benar mengalami puso atau gagal panen.

 

“Kalau sudah ada laporan dari petugas POPT dan dinyatakan puso, langsung kita usulkan bantuan ke Provinsi Banten berupa Cadangan Benih Daerah (CBD),” imbuhnya.

 

Berdasarkan indikasi sementara, katanya lagi, lahan yang berpotensi mengalami puso diperkirakan sekitar 20 hektare. Namun, angka tersebut belum bisa dipastikan karena masih menunggu kondisi tanaman setelah air surut. “Belum ada laporan resmi gagal panen. Tapi ada potensi, tergantung kondisi tanaman setelah banjir surut,” ujarnya.

 

Nuridawati menambahkan, data luas lahan terdampak masih bersifat sementara, dan dapat berubah seiring perkembangan di lapangan. Sebagai perbandingan, pada tahun lalu banjir di Pandeglang sempat merendam hingga sekitar 2.000 hektare sawah yang terjadi di 12 kecamatan. “Untuk hari ini data sementara sekitar 970 hektare. Nanti bisa berubah sesuai update,” imbuhnya.

 

Terpisah, salah seorang petani di Kecamatan Panimbang, Husen mengaku, khawatir tanaman padinya tidak bisa diselamatkan akibat banjir yang merendam sawah selama beberapa hari terakhir.

 

“Airnya sempat tinggi dan lama surut. Padi saya baru ditanam, umurnya sekitar dua minggu. Kalau terlalu lama terendam, bisa mati,” keluh Husen.

 

Dia mengungkapkan, banjir membuat sebagian besar sawah di wilayahnya tergenang, sehingga petani belum bisa memastikan kondisi tanaman secara menyeluruh. Menurutnya, petani hanya bisa menunggu air surut untuk melihat apakah padi masih bisa tumbuh normal atau harus ditanam ulang.

 

“Kami belum tahu nanti hasilnya bagaimana. Kalau padinya rusak, ya terpaksa tanam ulang. Itu butuh biaya lagi,” katanya.

 

Husen berharap pemerintah dapat segera memberikan kepastian bantuan apabila sawah petani benar-benar mengalami gagal panen akibat banjir. “Mudah-mudahan ada bantuan benih atau perhatian dari pemerintah, karena ini jelas merugikan petani,” tandasnya.

Komentar:
GROUP RAKYAT MERDEKA
RM ID
Banpos
Satelit