Satgas Banten Sebut SPPG Ekosistem Baru Ada Di Pandeglang
846 SPPG MBG Di Banten Sudah Beroperasi
PANDEGLANG - Dari 846 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Makan Bergizi Gratis (MBG) yang tersebar di 8 kabupaten/kota di Provinsi Banten, hanya baru ada satu dapur SPPG yang berbasis ekosistem bahan baku.
Dapur SPPG Ekosistem Sukaratu 17 itu berlokasi di wilayah Kelurahan Sukaratu, Kecamatan Majasari, Kabupaten Pandeglang. Dapur ini diresmikan langsung oleh Asisten Daerah (Asda) Pemerintahan Umum dan Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Daerah (Setda) Provinsi Banten yang juga sebagai Wakil Ketua Satuan Tugas (Satgas) Banten, Komarudin, Selasa (27/1).
Komarudin mengungkapkan, dari target total 1.200 SPPG di Provinsi Banten, sudah ada sebanyak 846 SPPG tersebar di kabupaten/kota di Banten yang sudah beroperasi.
“Target di Provinsi Banten itu sebanyak 1.200 SPP, dari total itu yang sudah beroperasi sebanyak 846 SPPG yang tersebar di 4 kabupaten dan 4 kota di Banten dengan jumlah penerima manfaatnya sekitar 2.120,” jelas Komarudin.
Namun, dari total 846 SPPG yang sudah beroperasi tersebut baru hanya satu SPPG yang berbasis ekosistem di wilayah Kabupaten Pandeglang. Menurutnya, belum semua SPPG mengarah ke ekosistem bahan baku, saat ini orientasinya masih fokus ke pendirian SPPG.
“Belum ke arah situ (SPPG Ekosistem,red) semua orientasinya masih mikir bagaimana mensukseskan SPPG, belum konsen ke soal ekosistem bahan bakunya. Iya yang ini (SPPG Ekosistem Sukaratu 17,red) termasuk yang perdana,” tegas Asda.
Maka dari itulah, pihaknya menyarankan agar yang lainnya juga dapat mewujudkan SPPG Ekosistem. Sebab dia menilai, SPPG Ekosistem dapat memajukan para petani, dan mencegah terjadinya inflasi di Banten.
“Yang perlu ditangani adalah soal suplai barang begitu, jangan sampai nanti permintaan tinggi karena SPPG banyak bahannya kurang, harga naik. Kalau harga naik inflasi, itu nggak bagus juga. Makanya harus disiapkan ekosistem disuplai bahan bakunya,” katanya.
Katanya lagi, ekosistem peluang bagi petani. “Makanya Pak Haji Mulyadi sudah mulai inisiatif merintis tuh, petani-petani digerakan, nanti bisa suplai ke SPPG lainnya,” tandasnya.
Sementara, pemilik SPPG Ekosistem Sukaratu 17, Mulyadi menyatakan, SPPG miliknya berbeda dengan yang lain di Provinsi Banten, karena pihaknya fokus terhadap SPPG Ekosistem.
“InsyaAllah ini berbeda dengan yang lain, karena kami dapurnya ekosistem. Jadi dapur ekosistem itu melibatkan para petani untuk berkebun, sehingga hasil panennya dapat menyuplai ke SPPG kami,” katanya.
“Ada sebanyak 47 petani yang kami libatkan, bahkan kami menggunakan tanah 2,5 hektar untuk menanam wortel di kaki Gunung Karang. Begitu juga di wilayah lain kami tanam buncis, kacang panjang dan timun,” sambungnya.
Selain membiayai untuk kebutuhan tanam, pihaknya juga bakal mengeluarkan Corporate Social Responsibility (CSR) untuk membantu para petani tersebut. “Jadi petani kami biayai, bantu pupuknya dan sebagainya akan menjual ke sini dapur kita. Nanti CSR-nya kami perbantukan lagi untuk bibit yang terus berkelanjutan,” pungkasnya.
Dia juga menjamin, semua prosesnya sudah selesai dan bahkan mendapatkan Inspeksi Kesehatan Lingkungan (IKL) 98 persen, dibanding yang lain rata-rata 76 persen. “Mudah-mudah yang selama ini di Banten ditakutkan oleh inflasi, dapat berkurang dengan adanya SPPG Ekosistem ini,” harapannya.
Selain itu tambahnya, ada sebanyak 100 relawan yang akan mensukseskan SPPG Ekosistem miliknya tersebut. “Jumlah relawan totalnya ada 100 orang, semuanya melibatkan warga terdekat,” tandasnya.
TangselCity | 1 hari yang lalu
Pendidikan | 2 hari yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu
Pendidikan | 1 hari yang lalu
Pos Banten | 2 hari yang lalu
Nasional | 1 hari yang lalu
Pos Banten | 2 hari yang lalu
TangselCity | 2 hari yang lalu
Pos Banten | 1 hari yang lalu
TangselCity | 1 hari yang lalu


