TangselCity

Pos Tangerang

Pos Banten

Politik

Olahraga

Nasional

Pendidikan

Ekonomi Bisnis

Galeri

Internasional

Selebritis

Lifestyle

Opini

Hukum

Advertorial

Kesehatan

Kriminal

RELIJIUCITY

RAMADAN

Indeks

Jadwal Imsak
Dewan Pers

TNI Turunkan Status Kesiapsiagaan dari Siaga 1 ke Siaga

Reporter & Editor : AY
Sabtu, 14 Maret 2026 | 10:20 WIB
Ilustrasi pasukan TNI. Foto : Ist
Ilustrasi pasukan TNI. Foto : Ist

JAKARTA - TNI kini tidak lagi menerapkan status Siaga 1 secara nasional. Tingkat kesiapsiagaan tersebut telah diturunkan menjadi Siaga 3 setelah melalui tahapan evaluasi yang dilakukan secara bertahap.

 

Kepala Dinas Penerangan Angkatan Darat (Kadispenad), Brigjen TNI Donny Pramono, menjelaskan bahwa perubahan status ini merupakan bagian dari mekanisme kesiapsiagaan internal TNI. Menurutnya, Siaga 1 sebelumnya dilakukan sebagai bentuk pengecekan kesiapan personel serta perlengkapan alat utama sistem persenjataan (alutsista).

 

“Siaga 1 merupakan apel gelar pasukan dan perlengkapan alutsista. Setelah itu ada Siaga 2 sebagai tahap eskalasi, dan kini statusnya diturunkan menjadi Siaga 3,” ujar Donny di Markas TNI AD, Kamis (12/3/2026).

 

Ia menegaskan, penerapan Siaga 1 sejak awal tidak berkaitan dengan konflik global, termasuk situasi yang tengah memanas di Timur Tengah. Menurutnya, langkah tersebut murni merupakan prosedur rutin untuk memastikan setiap satuan berada dalam kondisi siap menjalankan tugas kapan saja.

 

Dalam status Siaga 1, seluruh satuan TNI melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap kesiapan prajurit, perlengkapan, hingga sistem pendukung operasional. Proses ini bertujuan menjaga profesionalisme dan kemampuan respons cepat apabila terjadi situasi darurat.

 

“Ini merupakan bagian dari kesiapsiagaan internal. Kita memastikan personel dan materiil dalam kondisi siap jika sewaktu-waktu dibutuhkan,” kata Donny.

 

Pengecekan kesiapan itu sebelumnya dilakukan melalui apel gelar pasukan di kawasan Monas, Jakarta, pada Sabtu (7/3/2026). Setelah rangkaian pemeriksaan selesai, status kesiapsiagaan kemudian diturunkan menjadi Siaga 3.

 

Saat ini, fokus kesiapsiagaan TNI diarahkan untuk mendukung pengamanan perayaan Hari Raya Idul Fitri. Dalam momentum tersebut, TNI biasanya bersinergi dengan Polri untuk menjaga stabilitas keamanan di berbagai wilayah.

 

“Kami melaksanakan Siaga 3 karena akan menghadapi kegiatan Idul Fitri. TNI akan membantu dan mendukung kepolisian dalam pengamanan,” jelasnya.

Donny memahami apabila sebelumnya masyarakat menaruh perhatian besar terhadap penerapan Siaga 1. Hal itu, menurutnya, tidak lepas dari situasi global yang sedang diwarnai konflik di sejumlah kawasan sehingga publik lebih sensitif terhadap isu terkait kesiapsiagaan militer.

 

“Memang saat ini kondisi global sedang memanas, sehingga wajar jika masyarakat bertanya-tanya. Namun kegiatan tersebut murni bagian dari profesionalisme TNI dalam menjaga kesiapan satuan,” ujarnya.

 

Sebelumnya, Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto menetapkan status Siaga 1 bagi seluruh jajaran TNI sejak awal Maret 2026. Kebijakan tersebut tertuang dalam surat telegram Panglima TNI bernomor TR/283/2026 tertanggal 1 Maret 2026 yang memerintahkan seluruh satuan meningkatkan kesiapsiagaan personel serta alutsista.

 

Agus menegaskan bahwa penetapan status Siaga 1 merupakan mekanisme yang lazim dalam lingkungan militer. Langkah tersebut dilakukan untuk menguji kesiapan prajurit serta memastikan sistem pertahanan dapat berjalan optimal jika dibutuhkan.

 

“Siaga 1 ini hal yang biasa dalam istilah militer. Tujuannya untuk menguji kesiapsiagaan personel dan materiil,” kata Agus di Istana Negara, Jakarta, Selasa (10/3/2026) 

 

Ia juga menjelaskan bahwa status kesiapsiagaan semacam itu sering diterapkan di berbagai satuan TNI, termasuk untuk mengantisipasi kondisi darurat seperti bencana alam. Dengan kesiapan tersebut, pasukan dapat bergerak cepat ketika diperlukan.

 

Selain itu, konvoi kendaraan taktis TNI di kawasan Monas pada Sabtu (7/3/2026) juga merupakan bagian dari simulasi kesiapsiagaan. Melalui kegiatan tersebut, TNI mengukur kecepatan mobilisasi pasukan dari berbagai wilayah menuju pusat pemerintahan di Jakarta.

 

“Dari wilayah ke Jakarta berapa menit waktu tempuhnya, itu kita hitung. Jadi jika terjadi sesuatu di ibu kota, pasukan bisa segera digerakkan,” jelasnya.

Komentar:
GROUP RAKYAT MERDEKA
RM ID
Banpos
Satelit