TangselCity

Pos Tangerang

Pos Banten

Politik

Olahraga

Nasional

Pendidikan

Ekonomi Bisnis

Haji 2026

Galeri

Internasional

Selebritis

Lifestyle

Opini

Hukum

Advertorial

Kesehatan

Kriminal

RELIJIUCITY

Indeks

Dewan Pers

Prabowo Dipuji PM Australia Usai RI Kirim Pasokan Pupuk, Diplomasi Pangan Kian Kuat

Reporter & Editor : AY
Sabtu, 16 Mei 2026 | 08:44 WIB
Presiden Prabowo dan Perdana Menteri Australia Anthony Albanese. Foto : Ist
Presiden Prabowo dan Perdana Menteri Australia Anthony Albanese. Foto : Ist

JAKARTA - Hubungan Indonesia dan Australia semakin erat. Perdana Menteri Australia, Anthony Albanese, menyampaikan apresiasi kepada Presiden Prabowo Subianto setelah Indonesia menyetujui ekspor pupuk urea ke Negeri Kanguru. Langkah ini dinilai memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok pangan global sekaligus mempertegas diplomasi pangan RI di kawasan Asia-Pasifik.


Apresiasi tersebut disampaikan Albanese melalui Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman saat pelepasan ekspor perdana pupuk urea menuju Australia di Dermaga BSL Pupuk Kalimantan Timur, Bontang, Kamis (14/5/2026).


“Perdana Menteri Australia Albanese menelepon Bapak Presiden Prabowo untuk mengucapkan terima kasih karena Indonesia menyetujui ekspor pupuk ke Australia,” ujar Amran.


Ekspor perdana tersebut mencapai 47.250 ton dan menjadi tahap awal dari komitmen kerja sama ekspor pupuk sebesar 250.000 ton antara kedua negara.


“Ini mencetak sejarah karena Indonesia akan mengekspor pupuk ke sejumlah negara, termasuk Australia,” kata Amran.
Pemerintah bahkan menargetkan volume ekspor dapat meningkat hingga 500.000 ton dengan nilai ekonomi diperkirakan mencapai Rp7 triliun.


Meski memperluas pasar ekspor, pemerintah memastikan kebutuhan pupuk petani dalam negeri tetap menjadi prioritas utama. Amran menegaskan, ekspor dilakukan karena produksi pupuk nasional saat ini berada dalam kondisi surplus sehingga pasokan domestik tetap aman.


Tahun ini, produksi urea nasional ditargetkan mencapai 7,8 juta ton, sementara kebutuhan dalam negeri diperkirakan sekitar 6,3 juta ton. Artinya, Indonesia masih memiliki surplus sekitar 1,5 juta ton yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung pasar ekspor.


Pemerintah menilai pengiriman pupuk ke Australia bukan sekadar aktivitas perdagangan, melainkan bagian dari strategi diplomasi pangan Indonesia di tengah tantangan global.


Deputy Ambassador Australia untuk Indonesia, Gita Kamath, turut mengapresiasi langkah pemerintahan Prabowo tersebut. Menurutnya, kerja sama pasokan pupuk menjadi simbol kuatnya hubungan bilateral Indonesia dan Australia.


“Australia sangat menghargai hubungan dengan Indonesia dan kerja sama ini mencerminkan persahabatan serta kemitraan yang kuat antara Australia dan Indonesia,” ujarnya.


Sementara itu, Direktur Utama Pupuk Indonesia, Rahmad Pribadi, mengatakan ekspor ini menegaskan posisi strategis Indonesia dalam rantai pasok global.
Menurut Rahmad, ekspor pupuk tidak hanya memberikan nilai ekonomi, tetapi juga menjadi instrumen diplomasi yang mampu memperkuat ketahanan pangan kawasan Asia-Pasifik.


“Pupuk Indonesia tetap mampu menjaga kebutuhan domestik sekaligus mempertahankan fleksibilitas ekspor secara terukur dan bertanggung jawab,” tegasnya.


Hingga 13 Mei 2026, stok pupuk nasional tercatat mencapai 1,1 juta ton. Untuk menjaga distribusi tetap optimal, Pupuk Indonesia mengandalkan sistem digital Command Center dan i-Pubers yang memantau penyaluran pupuk secara real-time hingga tingkat kios.
Pemanfaatan teknologi tersebut dinilai efektif meningkatkan distribusi pupuk bersubsidi. Sampai pertengahan Mei 2026, penyaluran pupuk tercatat mencapai 3,5 juta ton atau naik 36 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.


“Dengan sistem ini, penyesuaian distribusi dapat dilakukan lebih cepat ketika ada wilayah yang kebutuhan pupuknya meningkat,” pungkas Rahmad.

Komentar:
GROUP RAKYAT MERDEKA
RM ID
Banpos
Satelit