TangselCity

Pos Tangerang

Pos Banten

Politik

Olahraga

Nasional

Pendidikan

Ekonomi Bisnis

Haji 2026

Galeri

Internasional

Selebritis

Lifestyle

Opini

Hukum

Advertorial

Kesehatan

Kriminal

RELIJIUCITY

Indeks

Dewan Pers

Rupiah Tembus Rp 17.500 per Dolar AS, Purbaya Turun Tangan Bantu BI Stabilkan Pasar

Reporter & Editor : AY
Rabu, 13 Mei 2026 | 08:40 WIB
Ilustrasi. Foto : Ist
Ilustrasi. Foto : Ist

JAKARTA - Nilai tukar rupiah kembali tertekan hingga menembus level Rp 17.500 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (12/5/2026). Pemerintah memastikan akan segera turun tangan membantu Bank Indonesia (BI) menjaga stabilitas pasar keuangan dan nilai tukar rupiah.


Berdasarkan data Bloomberg, rupiah dibuka melemah di level Rp 17.479 per dolar AS. Tekanan terus berlanjut sepanjang perdagangan hingga sempat menyentuh Rp 17.508 per dolar AS pada siang hari dan akhirnya ditutup di posisi Rp 17.529 per dolar AS.


Merespons kondisi tersebut, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa langsung menggelar rapat internal bersama jajaran pejabat Kementerian Keuangan di Gedung Djuanda I, Jakarta, Selasa (12/5/2026).


Sejumlah pejabat yang hadir di antaranya Sekretaris Jenderal Kemenkeu Robert Leonard Marbun, Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Suminto, Direktur Jenderal Perbendaharaan Astera Primanto Bhakti, serta Pelaksana Harian Direktur Jenderal Stabilitas Ekonomi dan Fiskal Ferry Ardiyanto.


Usai rapat, Purbaya menegaskan pemerintah siap membantu BI menjaga stabilitas rupiah melalui intervensi di pasar obligasi. Langkah tersebut akan dilakukan dengan mengaktifkan instrumen Bond Stabilization Fund (BSF) di pasar surat berharga negara guna menahan lonjakan imbal hasil atau yield obligasi.


“Kita akan mulai membantu secepatnya melalui intervensi di bond market,” ujar Purbaya.


Ia memastikan pemerintah memiliki likuiditas yang cukup besar untuk menjaga stabilitas pasar keuangan domestik. Menurutnya, kenaikan yield yang terlalu tinggi berpotensi memicu arus keluar modal asing dari pasar obligasi Indonesia.


“Karena itu harus dikendalikan supaya investor asing tidak keluar,” katanya.
Purbaya juga menegaskan kondisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 masih relatif aman meski rupiah bergerak di kisaran Rp 17.500 per dolar AS. Pemerintah, kata dia, telah memperhitungkan asumsi kurs yang lebih tinggi dibandingkan asumsi resmi dalam Undang-Undang APBN 2026 sebesar Rp 16.500 per dolar AS.


Sementara itu, Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti mengatakan tekanan terhadap rupiah dipicu meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang mendorong kenaikan harga minyak dunia dan memicu ketidakpastian global.


Selain faktor eksternal, meningkatnya kebutuhan dolar AS di dalam negeri seperti pembayaran utang luar negeri (ULN), pembagian dividen, hingga kebutuhan valuta asing untuk ibadah haji juga ikut menambah tekanan terhadap rupiah.


Destry menegaskan BI akan terus melakukan intervensi di pasar spot, Domestic Non Deliverable Forward (DNDF), maupun Non Deliverable Forward (NDF), serta mengoptimalkan instrumen operasi moneter untuk meredam volatilitas rupiah.


Di tengah tekanan tersebut, BI mencatat kepercayaan investor asing terhadap aset domestik mulai menunjukkan perbaikan. Hal itu tercermin dari aliran modal masuk ke pasar surat berharga negara dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) sepanjang April 2026 yang mencapai Rp 61,6 triliun.


Likuiditas valuta asing domestik juga dinilai masih memadai, tercermin dari pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) valas pada akhir Maret 2026 yang tumbuh 10,9 persen secara tahunan.


Ketua DPR Puan Maharani meminta pemerintah dan BI mengantisipasi dampak pelemahan rupiah terhadap ekonomi nasional maupun fiskal negara. Menurutnya, pembahasan Kebijakan Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF) untuk APBN 2027 harus menjadi momentum memperkuat antisipasi terhadap tekanan kurs di masa mendatang.


“Harus diantisipasi sejak awal, bukan hanya untuk tahun ini,” ujar Puan.
Di sisi lain, Pengamat Mata Uang dari PT Traze Andalan Futures⁠ Ibrahim Assuaibi menilai meningkatnya tensi konflik antara AS dan Iran membuat investor global beralih ke dolar AS sebagai aset safe haven.


Kondisi itu diperburuk oleh kekhawatiran terhadap keamanan jalur distribusi minyak di Selat Hormuz yang memicu lonjakan harga minyak dunia hingga mendekati 99 dolar AS per barel.


Sementara itu, Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia⁠ Yusuf Rendy Manilet menilai pelemahan rupiah tidak hanya dipengaruhi penguatan dolar AS, tetapi juga faktor domestik yang membuat tekanan eksternal terasa lebih besar dibandingkan negara-negara Asia lainnya.


“Jika dibandingkan dengan beberapa mata uang Asia lain, pelemahan rupiah memang lebih dalam. Artinya, ada faktor domestik yang membuat tekanan eksternal terasa lebih berat di Indonesia,” ujar Yusuf.

Komentar:
GROUP RAKYAT MERDEKA
RM ID
Banpos
Satelit