Perjalanan Haji Sharfina, Bukti Disabilitas Bukan Penghalang Menjemput Panggilan Ilahi
MAKKAH — Tagline “Haji 2026 Ramah Lansia, Disabilitas, dan Perempuan” tidak sekadar menjadi slogan. Semangat tersebut diwujudkan melalui berbagai layanan yang membuka ruang setara bagi seluruh jemaah, termasuk penyandang disabilitas.
Salah satu kisah yang mencerminkan semangat itu hadir dari Sharfina Diah Nuratika (30), jemaah haji penyandang autisme yang berhasil menuntaskan rangkaian ibadah haji bersama keluarganya di Tanah Suci.
Perjalanan Sharfina menjadi pengingat bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk memenuhi panggilan ibadah. Dengan dukungan keluarga, persiapan yang matang, dan layanan yang inklusif, kesempatan beribadah tetap terbuka bagi semua.
Wakil Ketua Komisi Nasional Disabilitas (KND), Deka Kurniawan, menegaskan bahwa setiap warga negara memiliki hak yang sama dalam menjalankan kehidupan beragama, termasuk menunaikan ibadah haji.
Menurutnya, penyandang autisme menghadapi tantangan yang tidak ringan, mulai dari proses keberangkatan, adaptasi terhadap lingkungan baru, hingga pelaksanaan puncak ibadah di tengah jutaan jemaah dari berbagai negara.
Kisah Sharfina diharapkan dapat menjadi inspirasi sekaligus penguat semangat bagi penyandang disabilitas lain agar tetap memiliki harapan dan kesempatan yang sama untuk berangkat ke Tanah Suci.
Perjalanan ini berawal dari pengalaman umrah keluarga pada 2008. Saat itu, kedua orang tua Sharfina ingin melihat sejauh mana putrinya mampu beradaptasi dengan suasana ibadah yang padat dan penuh interaksi.
Hasilnya di luar dugaan. Sharfina mampu menjalani seluruh rangkaian ibadah umrah dengan baik—mulai dari tawaf hingga sa’i—tanpa kendala berarti.
Pengalaman tersebut menjadi titik awal keputusan keluarga untuk mendaftarkan Sharfina sebagai calon jemaah haji pada 2013, bersama kedua orang tua dan sang kakak.
Namun, perjalanan menuju Tanah Suci tidak berlangsung singkat. Keluarga harus menunggu selama 13 tahun, termasuk menghadapi penundaan akibat pandemi Covid-19.
Selama masa tunggu itu, persiapan dilakukan secara bertahap dan konsisten. Sharfina dibiasakan berada di tengah keramaian, mengikuti perjalanan kelompok, berinteraksi dengan lingkungan baru, hingga menjalani perjalanan udara jarak jauh sebagai bentuk adaptasi.
Sebagai penguatan sebelum keberangkatan, keluarga kembali mengajak Sharfina menunaikan umrah pada 2023 agar ia memiliki gambaran yang lebih dekat dengan suasana ibadah di Makkah dan Madinah.
Usaha tersebut membuahkan hasil. Saat pelaksanaan haji, Sharfina mampu mengikuti rangkaian ibadah mulai dari ihram, tawaf, sa’i hingga puncak ibadah dengan baik.
Ketika lempar jumrah Aqabah pada 10 Dzulhijjah, Sharfina berjalan bersama keluarganya menuju Jamarat. Sementara untuk menjaga kenyamanan dan keamanannya, pelaksanaan lempar jumrah pada hari tasyrik dibadalkan oleh sang kakak.
Keluarga juga menerapkan pengawasan khusus dengan menggunakan sabuk pengaman yang menghubungkan Sharfina dengan ibunya saat tawaf dan sa’i, sementara ayah dan kakaknya mengawal dari belakang.
Kini, setelah seluruh rangkaian ibadah utama selesai dijalani, kisah Sharfina menjadi bukti bahwa ibadah haji dapat dijalankan secara aman, nyaman, dan bermartabat oleh siapa pun.
Karena pada akhirnya, di hadapan panggilan Ilahi, setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk melangkah menuju Tanah Suci.
TangselCity | 3 hari yang lalu
Olahraga | 1 hari yang lalu
Olahraga | 2 hari yang lalu
Pos Banten | 14 jam yang lalu
Piala Dunia 2026 | 3 hari yang lalu
Olahraga | 1 hari yang lalu
Pos Banten | 2 hari yang lalu
TangselCity | 2 hari yang lalu
Ekonomi Bisnis | 3 hari yang lalu
TangselCity | 2 hari yang lalu


