Investor Asing Antre Masuk RI, Potensi Investasi Tembus Rp557 Triliun
JAKARTA - Minat investor asing untuk menanamkan modal di Indonesia masih menunjukkan tren positif. Sejumlah Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) bahkan mulai mengalami keterbatasan kapasitas akibat tingginya permintaan investasi yang terus berdatangan.
Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Susiwijono Moegiarso, mengungkapkan bahwa tingginya animo investor terlihat di tiga kawasan manufaktur utama, yakni KEK Kendal, KEK Gresik, dan KEK Galang Batang di Bintan.
Menurutnya, pengelola ketiga kawasan tersebut kini mengajukan perluasan lahan hingga rata-rata dua kali lipat dari luas eksisting untuk mengakomodasi masuknya investor baru.
“Investasi yang ada sudah hampir penuh, sementara investor asing yang ingin masuk terus berdatangan,” ujar Susiwijono di Jakarta, Jumat (19/6).
Usulan pengembangan meliputi tambahan sekitar 1.200 hektare di KEK Gresik, 1.000 hektare di KEK Kendal, serta sekitar 2.600 hektare di KEK Galang Batang.
Pemerintah memperkirakan ekspansi tersebut berpotensi menghadirkan tambahan investasi hingga Rp557 triliun dalam jangka panjang. Realisasi investasi diproyeksikan berlangsung secara bertahap sesuai perkembangan proyek dan kebutuhan industri.
Susiwijono menilai kondisi ini menjadi indikator bahwa kepercayaan investor global terhadap Indonesia masih terjaga di tengah dinamika ekonomi dunia.
Optimisme serupa disampaikan Menteri Investasi dan Hilirisasi, Rosan Roeslani. Berdasarkan serangkaian pertemuan dengan investor di berbagai pusat keuangan dunia seperti Singapura, Hong Kong, London, Boston, Washington DC, New York, hingga Jepang, respons terhadap prospek ekonomi Indonesia disebut tetap positif.
“Investor melihat Indonesia sebagai tujuan investasi jangka panjang karena adanya stabilitas ekonomi dan kepastian berusaha,” ujarnya.
Dari sisi pasar keuangan, sentimen positif juga tercermin pada arus modal asing. Bank Indonesia mencatat aliran masuk bersih (net inflow) sebesar 3,9 miliar dolar AS atau sekitar Rp69 triliun hingga pertengahan Juni 2026, berbalik dari kondisi sebelumnya yang mencatat arus keluar modal.
Ekonom menilai derasnya investasi tersebut berpotensi memperkuat industri pengolahan, memperluas lapangan kerja, serta meningkatkan penerimaan negara.
Pemerintah pun didorong untuk memastikan investasi yang masuk mampu menciptakan kemitraan lebih luas dengan pelaku usaha nasional agar manfaat ekonomi dapat dirasakan secara berkelanjutan.
TangselCity | 2 hari yang lalu
Piala Dunia 2026 | 3 hari yang lalu
Piala Dunia 2026 | 3 hari yang lalu
Piala Dunia 2026 | 2 hari yang lalu
TangselCity | 1 hari yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu
TangselCity | 3 hari yang lalu
TangselCity | 2 hari yang lalu
Olahraga | 2 hari yang lalu
TangselCity | 2 hari yang lalu




