Buntut Perang dengan Iran, Kepuasan Rakyat AS ke Trump Nyungsep
AS – Tingkat kepuasan publik Amerika Serikat (AS) terhadap kinerja Presiden Donald Trump terus merosot. Salah satu faktor yang diduga kuat memengaruhi penurunan tersebut adalah kebijakan Trump membawa AS terlibat dalam perang melawan Iran.
Penurunan tingkat kepuasan itu tercermin dalam survei terbaru Reuters/Ipsos yang berakhir pada Senin (17/8/2026). Sebanyak 64 persen warga AS menyatakan tidak puas terhadap kinerja Trump. Sementara itu, hanya 33 persen responden yang mengaku puas.
Angka tersebut menjadi tingkat kepuasan terendah Trump selama menjalani periode kedua kepemimpinannya. Bahkan, angka 33 persen itu menyamai tingkat kepuasan terhadap Trump ketika baru menjabat sebagai presiden pada periode pertamanya, Desember 2017.
Survei tersebut dilakukan secara daring terhadap 1.166 warga dewasa di seluruh AS dengan margin of error sekitar 3 persen.
Dalam survei sebelumnya yang berakhir pada awal Agustus, tingkat kepuasan terhadap Trump masih berada di angka 35 persen. Penurunan tersebut terjadi di tengah perang AS bersama Israel melawan Iran yang hingga kini belum menunjukkan tanda-tanda akan segera berakhir.
Saat kembali menjabat sebagai Presiden AS pada Januari 2025, Trump masih mencatat tingkat kepuasan sebesar 47 persen. Ketika itu, hanya 41 persen responden yang menyatakan tidak puas terhadap kinerjanya.
Namun, tingkat ketidakpuasan kemudian meningkat menjadi lebih dari 50 persen dalam waktu kurang dari sebulan. Tren tersebut terus berlanjut. Beberapa hari sebelum Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu melancarkan serangan ke Iran, tingkat ketidakpuasan terhadap Trump sudah mencapai 58 persen. Kini, angkanya melonjak menjadi 64 persen.
Perang Bikin Harga Bensin Melonjak
Konflik AS-Israel dengan Iran tidak hanya menjadi persoalan geopolitik, tetapi juga mulai membebani masyarakat AS.
Perang tersebut mengganggu jalur perdagangan minyak dunia melalui Selat Hormuz. Dampaknya, harga bensin di AS melonjak dan tekanan inflasi meningkat.
Kondisi tersebut menjadi persoalan politik bagi Trump dan Partai Republik. Pasalnya, ketika kembali ke Gedung Putih, Trump berjanji menjaga inflasi tetap terkendali sekaligus menghindari keterlibatan AS dalam perang berkepanjangan.
Namun, janji tersebut kini menghadapi tantangan. Saat perang dimulai pada akhir Februari lalu, Trump sempat menyebut konflik tersebut hanya akan berlangsung selama beberapa pekan.
Nyatanya, hampir enam bulan berlalu, perang belum juga menunjukkan tanda-tanda berakhir.
Survei Reuters/Ipsos menunjukkan mayoritas warga AS pesimistis konflik tersebut akan segera selesai. Sebanyak 80 persen responden memperkirakan keterlibatan AS dalam perang dengan Iran masih akan berlangsung lama.
Pandangan tersebut bahkan cukup kuat di kedua kubu politik. Sebanyak 87 persen pendukung Partai Demokrat dan 71 persen pendukung Partai Republik meyakini perang akan berlangsung lama.
Hanya 16 persen responden yang percaya konflik tersebut akan berakhir dalam beberapa pekan mendatang.
Jadi Beban Jelang Pemilu
Merosotnya popularitas Trump juga terjadi menjelang pemilu paruh waktu atau midterm elections pada November mendatang. Dalam pemilu tersebut, Partai Republik berupaya mempertahankan mayoritasnya di Kongres.
Para kandidat Partai Republik di berbagai wilayah AS kini harus menghadapi dampak ekonomi akibat konflik di Timur Tengah.
Per Senin (17/8/2026), Decision Desk HQ memperkirakan Partai Demokrat memiliki peluang 66 persen untuk merebut kembali kendali DPR AS. Sementara peluang Demokrat menguasai Senat mencapai 45 persen, naik tiga poin dibandingkan bulan sebelumnya.
Di tengah tekanan tersebut, Trump tetap mempertahankan keputusannya untuk berperang melawan Iran.
Terkait kenaikan harga bensin, Trump meminta masyarakat AS memakluminya. Menurutnya, pengorbanan tersebut sepadan dengan tujuan mencegah Iran mengembangkan senjata nuklir.
"Jadi ingatlah itu, ketika Anda harus membayar sedikit lebih banyak, misalnya 4 dolar AS, tidak apa-apa. Saya tidak akan pernah meminta maaf, saya melakukan hal yang benar," kata Trump saat berada di Garden City, New York, Jumat (14/8/2026), seperti dikutip The Hill.
Pos Banten | 1 hari yang lalu
Galeri | 3 hari yang lalu
TangselCity | 2 hari yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu
TangselCity | 2 hari yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu
Olahraga | 3 hari yang lalu
Olahraga | 1 hari yang lalu
TangselCity | 1 hari yang lalu









