373 Penerbangan Terdampak Erupsi Anak Krakatau, 202 di Soekarno-Hatta
TANGERANG — Sebanyak 373 penerbangan terdampak akibat penutupan sejumlah bandar udara menyusul sebaran abu vulkanik erupsi Gunung Anak Krakatau.
Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan (Kemenhub) terus memantau perkembangan kondisi tersebut dan melakukan koordinasi intensif dengan maskapai penerbangan, pengelola bandara, penyelenggara navigasi penerbangan, BMKG, serta pihak terkait lainnya.
Berdasarkan pembaruan pemantauan pada Minggu (6/9/2026) pukul 10.35 WIB, Bandara Internasional Soekarno-Hatta (CGK) menjadi salah satu bandara dengan jumlah penerbangan terdampak terbanyak, yakni 202 penerbangan.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 167 penerbangan dibatalkan (cancel), 16 mengalami keterlambatan (delay), dua berstatus delayed, tujuh ditunda (postpone), dan empat penerbangan dialihkan (divert).
Selain itu, terdapat dua penerbangan yang telah mendarat (landed), tiga penerbangan berangkat (departed), serta satu penerbangan kembali ke bandara asal atau Return to Base (RTB).
Sementara itu, Bandara Radin Inten II (TKG) di Lampung mencatat delapan penerbangan terdampak dan seluruhnya berstatus dibatalkan.
Di Bandara Halim Perdanakusuma (HLP), Jakarta, terdapat 29 penerbangan terdampak yang seluruhnya juga berstatus dibatalkan.
Adapun 277 penerbangan lainnya terdampak di sejumlah bandara lain karena memiliki rute kedatangan maupun keberangkatan menuju atau berasal dari bandara yang terdampak penutupan.
Ditjen Perhubungan Udara menegaskan hak-hak penumpang yang terdampak tetap harus dipenuhi oleh maskapai sesuai ketentuan yang berlaku.
Maskapai juga diwajibkan memberikan pelayanan dan penanganan kepada penumpang, termasuk menyampaikan informasi mengenai perubahan status penerbangan serta pilihan penanganan yang tersedia.
Untuk menghindari penumpukan penumpang, Ditjen Perhubungan Udara mengimbau calon penumpang yang akan melakukan perjalanan melalui bandara terdampak agar tidak datang ke bandara selama periode penutupan.
Masyarakat diminta terus memantau informasi terbaru dari maskapai mengenai status penerbangannya.
"Keselamatan dan keamanan penerbangan tetap menjadi prioritas utama dalam setiap keputusan operasional," demikian ditegaskan Ditjen Perhubungan Udara.
Penyesuaian dan pemulihan operasional penerbangan akan dilakukan secara dinamis dengan mempertimbangkan perkembangan sebaran abu vulkanik serta hasil koordinasi dengan BMKG dan pihak terkait.
Ditjen Perhubungan Udara akan terus memantau situasi bersama operator penerbangan, pengelola bandara, penyelenggara navigasi penerbangan, BMKG, dan instansi terkait lainnya.
Informasi terbaru akan disampaikan apabila terdapat perubahan signifikan terhadap kondisi operasional penerbangan.
Nasional | 7 jam yang lalu
Pos Banten | 3 hari yang lalu
TangselCity | 2 hari yang lalu
Nasional | 3 hari yang lalu
Pos Banten | 3 hari yang lalu
Nasional | 1 hari yang lalu
Nasional | 1 hari yang lalu
Pos Banten | 1 hari yang lalu
Nasional | 3 hari yang lalu
Pos Banten | 2 hari yang lalu




