Tokoh Banten Ajak Masyarakat Sampaikan Aspirasi Secara Damai dan Jaga Persatuan
BANTEN – Menyikapi dinamika penyampaian aspirasi masyarakat pada bulan September, sejumlah tokoh di Banten mengajak seluruh elemen masyarakat untuk tetap mengedepankan cara-cara yang damai, tertib, dan bertanggung jawab.
Kebebasan menyampaikan pendapat dinilai sebagai bagian penting dalam kehidupan demokrasi, namun pelaksanaannya perlu tetap menghormati hak masyarakat lainnya serta ketentuan hukum yang berlaku.
Sekretaris PW NU Provinsi Banten, Ahmad Nuri, mengatakan bahwa menyampaikan aspirasi merupakan hak setiap warga negara yang dijamin dalam kehidupan demokrasi. Namun, kebebasan tersebut harus dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab dan tetap memperhatikan kepentingan masyarakat luas.
“Menyampaikan aspirasi merupakan hak setiap warga negara sebagai bagian dari kehidupan demokrasi. Namun, kebebasan dalam menyampaikan pendapat harus selalu disertai dengan tanggung jawab, kesadaran, dan penghormatan terhadap hak orang lain. Aspirasi hendaknya disampaikan dengan cara yang santun, damai, tertib, dan sesuai aturan,” ujar Nuri.
Ia mengajak seluruh elemen masyarakat, khususnya masyarakat Banten, untuk bersama-sama menjaga kondusivitas daerah ketika menyampaikan aspirasi. Menurutnya, tindakan kekerasan, perusakan fasilitas publik, intimidasi maupun perbuatan lain yang dapat merugikan masyarakat harus dihindari.
Ahmad Nuri juga mengingatkan pentingnya mematuhi ketentuan hukum mengenai penyampaian pendapat di muka umum.
Menurutnya, kedewasaan masyarakat dalam menyampaikan aspirasi menjadi salah satu cerminan kualitas demokrasi.
“Demokrasi yang kuat lahir dari masyarakat yang mampu menyampaikan pendapat dengan tertib, menghargai perbedaan, serta tetap menjaga keamanan dan persatuan,” tegasnya.

Sementara itu, akademisi dari Kampus UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Syaiful Bahri menyoroti munculnya berbagai agenda dan narasi bertajuk September Hitam yang disuarakan sejumlah elemen masyarakat, mulai dari mahasiswa, aktivis, LSM hingga kelompok buruh.
Menurut Syaiful, momentum tersebut hendaknya disikapi secara arif, bijaksana, dan elegan. Berbagai aspirasi dapat disampaikan melalui ruang-ruang dialog dan komunikasi yang konstruktif. Apabila penyampaian aspirasi dilakukan melalui aksi unjuk rasa, ia berharap kegiatan tersebut tetap berlangsung secara santun dan damai sehingga tidak menimbulkan dampak yang merugikan masyarakat.
“Momentum September hendaknya dimanfaatkan secara arif, bijak, dan elegan. Apabila menyampaikan aspirasi melalui aksi, lakukan dengan santun dan damai agar tidak menimbulkan hal-hal yang merugikan masyarakat luas, khususnya masyarakat Banten,” kata Syaiful.
Lebih jauh, Syaiful mengajak masyarakat untuk menjadikan September tidak hanya sebagai momentum refleksi, tetapi juga sebagai kesempatan menumbuhkan harapan dan membuka lembaran baru menuju kehidupan masyarakat yang semakin baik.
“September juga dapat menjadi bulan untuk menumbuhkan harapan guna menciptakan hari esok yang lebih baik, membuka lembaran baru, serta memperkuat persatuan dan kesatuan,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa perbedaan pandangan dalam kehidupan bermasyarakat merupakan sesuatu yang wajar dan seharusnya tidak menjadi sumber perpecahan.
“Perbedaan harus kita jadikan sebagai kekayaan dan kekuatan bersama untuk saling melengkapi serta menjaga keharmonisan,” pungkas Syaiful.
Seruan kedua tokoh tersebut menegaskan pentingnya kedewasaan dalam berdemokrasi. Kebebasan menyampaikan aspirasi tetap perlu berjalan beriringan dengan tanggung jawab menjaga ketertiban, menghormati perbedaan, serta memelihara keamanan, keharmonisan, dan persatuan masyarakat Banten.
Nasional | 3 hari yang lalu
TangselCity | 2 hari yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu
Nasional | 3 hari yang lalu
Pendidikan | 2 hari yang lalu
Nasional | 3 hari yang lalu
TangselCity | 2 hari yang lalu
Pos Banten | 3 hari yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu
TangselCity | 3 hari yang lalu





