Diduga Keracunan MBG Terjadi di Pati dan Tulungagung
Di Karo, Siswi 16 Tahun Alami Gangguan Ingatan
JAKARTA – Kasus dugaan keracunan makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali terjadi di sejumlah daerah. Ratusan siswa dan guru di Pati, Jawa Tengah, serta Tulungagung, Jawa Timur, dilaporkan mengalami gangguan pencernaan setelah mengonsumsi menu MBG.
Sementara di Kabupaten Karo, Sumatera Utara, seorang siswi berusia 16 tahun berinisial FY dilaporkan mengalami gangguan kesehatan, termasuk kejang dan masalah ingatan, setelah diduga menjadi korban keracunan MBG.
Kasus FY menjadi sorotan setelah kondisinya ramai dibicarakan di media sosial. Ia merupakan salah satu penerima manfaat MBG yang mengalami dugaan keracunan pada 13 Agustus 2026.
Kondisi FY disebut lebih berat dibandingkan korban lainnya. Setelah sempat menjalani perawatan dan menunjukkan perkembangan, keluarga kemudian melaporkan bahwa FY mengalami kejang serta gangguan ingatan.
FY selanjutnya menjalani pemeriksaan di RSUP H Adam Malik, Medan. Kepala Kantor Pelayanan Pemenuhan Gizi (KPPG) Medan Donal Simanjuntak membenarkan FY sempat menjalani pemeriksaan di RSU Haji Medan.
Namun, berdasarkan pemeriksaan tersebut, tidak ditemukan indikasi hilang ingatan.
“Tim kami yang mendampingi melaporkan kondisi sampai kepulangan ke Karo, yang bersangkutan dapat berkomunikasi dengan baik dan dapat menceritakan pengalamannya,” kata Donal, Rabu (9/9/2026).
Donal mengatakan, pihaknya kembali mendampingi FY ketika menjalani pemeriksaan lanjutan di RSUP H Adam Malik. Saat itu, FY disebut masih mampu mengenali petugas yang mendampinginya.
Meski demikian, Badan Gizi Nasional (BGN) memastikan kondisi FY akan terus dipantau hingga proses pemulihannya selesai.
“Pada prinsipnya, kami terus memantau kondisi kesehatan yang bersangkutan. Pimpinan kami, Kepala BGN, terus memperhatikan kondisi kesehatan korban siswa,” ujarnya.
Pihak keluarga memiliki pandangan berbeda. Ibu FY, Elvinusiana Sitanggang, mengaku belum puas dengan hasil pemeriksaan yang menyebut kondisi anaknya tidak menunjukkan penyakit tertentu.
Menurut Elvinusiana, kondisi putrinya masih memprihatinkan. FY disebut masih lemas, kesulitan berdiri dan berbicara, bahkan mengalami halusinasi.
“Masa bisa anakku seperti itu, pikiranku. Jadi, aku nggak puas sama hasil yang dilaporkan dokter,” kata Elvinusiana.
Manajer Hukum dan Humas RS Adam Malik, Rosario Dorothy Simanjuntak, mengatakan kondisi FY saat ini stabil sehingga diperbolehkan menjalani rawat jalan. Namun, proses perawatannya diperkirakan masih membutuhkan waktu.
Ratusan Siswa dan Guru di Pati Terdampak
Kasus serupa kembali muncul di Kabupaten Pati. Ratusan siswa dan guru dari dua sekolah di Kecamatan Gembong mengalami mual, sakit perut, dan diare setelah menyantap menu MBG.
Di SMP Negeri 1 Gembong, tercatat 103 siswa dan 13 guru mengalami keluhan. Sedangkan di MTs Negeri 3 Pati, sebanyak 127 siswa dan 30 guru dilaporkan mengalami gangguan pencernaan.
Para korban sebelumnya mengonsumsi menu berupa nasi bakar dan ayam suwir pada Selasa (8/9/2026). Keluhan mulai muncul pada malam hari hingga Rabu pagi.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Pati Luky Pratugas Narimo mengatakan, penyebab kejadian masih dalam penyelidikan. Petugas telah mengambil sampel makanan untuk diperiksa di laboratorium.
Karena pemeriksaan belum selesai, pihaknya belum dapat memastikan apakah gangguan kesehatan tersebut benar-benar disebabkan oleh makanan MBG.
Tulungagung Ditemukan Bakteri
Dugaan keracunan MBG juga terjadi di Kecamatan Rejotangan, Tulungagung. Kejadian tersebut berlangsung pada akhir Juli 2026 setelah penerima manfaat mengonsumsi makanan dari SPPG Pakisrejo.
Saat itu, jumlah korban dilaporkan lebih dari 100 orang.
Hasil pemeriksaan laboratorium terbaru menemukan adanya bakteri dalam sejumlah sampel makanan. Temuan tersebut dinilai berpotensi menyebabkan gangguan pencernaan.
“Secara umum memang ada temuan positif bakteri dari hasil uji lab. Bakteri itu bisa menyebabkan gangguan pencernaan terhadap penerima manfaat,” kata Satgas MBG Tulungagung Sri Wahyuni, Rabu (9/9/2026).
Sri belum mengungkap jenis bakteri yang ditemukan. Menurut dia, kontaminasi dapat terjadi dalam berbagai tahapan, mulai dari pengolahan, distribusi hingga makanan dikonsumsi.
“Kami hanya membicarakan secara makro. Memang dari beberapa sampel ada yang positif mengandung bakteri,” ujarnya.
Sebagai langkah pencegahan, tim Inspeksi Kesehatan Lingkungan (IKL) kembali melakukan pemeriksaan ke SPPG Pakisrejo. Evaluasi dilakukan terhadap seluruh proses, mulai dari pengolahan hingga penyajian makanan.
DPR Minta Korban Dikawal Sampai Pulih
Berulangnya kasus dugaan keracunan MBG turut mendapat perhatian DPR. Wakil Ketua DPR Saan Mustopa meminta BGN dan instansi terkait tidak hanya memberikan penanganan awal, tetapi memastikan seluruh korban mendapat perawatan hingga benar-benar pulih.
“Tentu yang pertama kita minta dari BGN dan dari instansi-instansi yang terkait untuk bisa menangani secara serius dan sungguh-sungguh agar anak yang terdampak dari keracunan MBG itu bisa segera pulih kembali,” kata Saan di Gedung DPR, Jakarta, Rabu (9/9/2026).
Saan juga meminta pemerintah memastikan biaya pengobatan para korban ditanggung hingga kondisi mereka pulih. Menurutnya, persoalan biaya jangan sampai menghambat keluarga dalam mendapatkan layanan kesehatan.
“Pembiayaan untuk pemulihan kesehatan anak tersebut juga perlu diperhatikan dan perlu untuk ditanggung secara sungguh-sungguh juga,” tegasnya.
TangselCity | 3 hari yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu
Olahraga | 3 jam yang lalu
TangselCity | 2 hari yang lalu
Nasional | 3 hari yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu
Pendidikan | 2 hari yang lalu
TangselCity | 3 hari yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu
Nasional | 1 hari yang lalu





