Benyamin Wanti-wanti Para Lurah Jaga Amanah, Libatkan Keluarga Jadi Benteng Integritas
CIPUTAT – Menjaga integritas bukan hanya urusan aturan dan pengawasan di tempat kerja. Lingkungan keluarga juga punya peran penting untuk memastikan seorang aparatur tetap berada di jalur yang benar.
Pesan itu disampaikan Wali Kota Tangerang Selatan (Tangsel) Benyamin Davnie saat menghadiri kegiatan Keluarga Berintegritas yang dihelat bersama Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di Ruang Blandongan, Puspemkot Tangsel, Selasa (15/9). Kegiatan tersebut diikuti seluruh lurah di Kota Tangsel bersama pasangan masing-masing.
Benyamin mengatakan, upaya membangun pemerintahan yang berintegritas tidak cukup hanya mengandalkan regulasi, sistem pengendalian dan pengawasan. Nilai integritas harus tumbuh dari pribadi aparatur dan diperkuat oleh lingkungan terdekat, terutama keluarga.
“Ketika kita berbicara tentang integritas, sesungguhnya kita sedang berbicara tentang nilai, karakter dan pilihan hidup. Dan tempat pertama seseorang belajar tentang kejujuran, tanggung jawab, kesantunan dan kepedulian adalah keluarga,” ujar Benyamin.
Menurutnya, keluarga merupakan tempat pertama seseorang belajar membedakan mana yang benar dan salah, termasuk memahami sesuatu yang menjadi hak dan bukan haknya. Karena itu, ketika ingin membangun aparatur yang berintegritas, keluarga juga harus menjadi bagian dari upaya tersebut.
Hal itu dinilai penting bagi para lurah. Sebab, lurah merupakan pemimpin pemerintahan yang berada paling dekat dengan masyarakat. Hampir setiap hari, warga berhadapan dengan aparatur kelurahan untuk mendapatkan pelayanan, menyampaikan aspirasi, mengadukan persoalan hingga mencari solusi.
“Semakin dekat seorang pemimpin dengan masyarakat, semakin besar pula tuntutan keteladanannya,” kata Benyamin.
Ia menegaskan, masyarakat tidak hanya melihat bagaimana seorang lurah menjalankan pelayanan, tetapi juga bagaimana sikap dan perilakunya dalam menjalankan amanah.
Bagi Benyamin, jabatan bukan sekadar kewenangan. Jabatan merupakan kepercayaan yang harus dijaga dengan tindakan nyata.
“Jabatan bukan sekadar kewenangan; jabatan adalah kepercayaan. Dan kepercayaan tidak cukup dijaga dengan kata-kata, tetapi harus dibuktikan melalui sikap, perbuatan dan keteladanan,” tegasnya.
Karena itu, Benyamin meminta para lurah tidak berjalan sendiri dalam menjaga integritas. Peran pasangan dan keluarga justru harus dimanfaatkan sebagai pengingat ketika muncul godaan atau situasi yang berpotensi membuat seseorang keluar dari jalur yang benar.
Ketika ada godaan, pasangan dapat saling mengingatkan. Saat menghadapi tekanan, keluarga bisa menjadi tempat untuk saling menguatkan. Begitu pula ketika harus mengambil keputusan, pilihan yang benar harus didahulukan meski terkadang bukan pilihan yang paling mudah.
“Bapak dan ibu bukan sekadar hadir untuk mendampingi pasangan dalam menjalankan tugas, tetapi juga menjadi orang yang mengingatkan kita untuk tetap berada di jalan yang benar, bukan dengan menghakimi, tetapi dengan kepedulian,” ujarnya.
Benyamin juga mengingatkan bahwa jabatan memiliki batas waktu. Suatu saat, kewenangan akan berakhir dan ruang kerja akan ditinggalkan. Namun, nama baik dan rekam jejak selama menjalankan amanah akan terus melekat, termasuk dalam ingatan keluarga.
“Jabatan itu sementara, tetapi amanah dan nama baik adalah sesuatu yang harus kita jaga sepanjang hidup,” katanya.
Sementara itu, Inspektur Kota Tangsel Achmad Zubair mengatakan, integritas perlu terus dijaga karena tidak selalu berada pada kondisi yang sama. Pengingat dari orang-orang terdekat dibutuhkan agar aparatur tidak lengah.
“Integritas itu ibarat iman. Ada turunnya, ada naiknya. Makanya kami di Inspektorat, Pak Wali, Pak Sekda itu selalu mengingatkan, minimal kita mengingatkan untuk mereka untuk selalu jaga integritas,” ujarnya.
Achmad menilai pasangan dapat menjadi kontrol sekaligus pengingat bagi para lurah. Menurutnya, hal tersebut bisa dimulai dari hal-hal sederhana dalam kehidupan sehari-hari.
Ia mencontohkan ketika seorang lurah menerima uang atau pemberian yang jumlah maupun asalnya tidak jelas. Pertanyaan dari pasangan mengenai asal pemberian tersebut dapat menjadi pengingat agar tidak sembarangan menerima sesuatu.
“Pasangan itu bagian dari remnya, pengawasannya. Jadi pada saat si lurah dapat duit yang kira-kira biasanya dapat sekarang Rp900 ribu, dikasih Rp500 ribu kan tanya dari mana gitu. Minimal mengingatkan,” jelasnya.
Di sisi lain, Direktur Pembinaan Peran Serta Masyarakat KPK RI Kunto Ariawan menjelaskan, pemberantasan korupsi dilakukan melalui tiga pendekatan, yakni pendidikan, pencegahan dan penindakan.
Ia menyebut kejahatan, termasuk korupsi dan fraud, dapat terjadi karena adanya niat dan kesempatan. Karena itu, pencegahan dilakukan dengan mempersempit kesempatan, sementara pendidikan integritas diarahkan untuk membangun karakter agar niat melakukan pelanggaran tidak muncul.
Salah satu bentuk pencegahan yang dilakukan pemerintah saat ini adalah digitalisasi pelayanan. Dengan mengurangi pertemuan langsung dalam pelayanan, celah terjadinya praktik koruptif juga dapat ditekan.
Namun, Kunto mengingatkan sistem yang baik tetap membutuhkan manusia yang memiliki integritas. Sebab, sebaik apa pun sistem dibangun, selalu ada kemungkinan orang mencari celah untuk mengeksploitasinya.
“Sejelek-jeleknya sistem, kalau orang itu tidak memiliki niat, maka sistem tersebut tetap akan berjalan dengan baik,” katanya.
Karena itu, strategi pendidikan menjadi penting untuk menjaga agar aparatur tidak mudah tergoda ketika memiliki kewenangan. Dalam hal ini, keluarga dan pasangan dapat menjadi salah satu benteng terdekat.
“Untuk menjaga agar niat kita selalu bagus, integritas selalu bagus, itulah makanya kita butuh pasangan. Karena pasangan ini lah yang akan menjadi pengingat kita,” tutur Kunto.
Kunto menambahkan, kegiatan Keluarga Berintegritas menjadi momentum untuk saling mengingatkan bahwa jabatan hanyalah amanah yang sifatnya sementara, sedangkan nama baik harus dijaga sepanjang hidup.
Di lingkungan kelurahan, ia menyebut gratifikasi menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan. Namun, tidak seluruh pemberian otomatis masuk dalam kategori pelanggaran karena terdapat ketentuan yang mengatur mengenai gratifikasi yang diperbolehkan maupun yang wajib dilaporkan.
Ia berharap para peserta tidak hanya memahami materi yang diberikan, tetapi juga membawa pesan tersebut ke dalam kehidupan keluarga.
“Manusia tidak selamanya benar dan tidak selamanya salah. Kami harapkan bisa mengikuti dengan baik terus bisa jadi pengingat bagi pasangannya ketika misalnya pasangannya salah melangkah,” pungkasnya.
Nasional | 1 hari yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu
Nasional | 3 hari yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu
TangselCity | 1 hari yang lalu
Pendidikan | 2 hari yang lalu
Nasional | 3 hari yang lalu
Olahraga | 2 hari yang lalu
Nasional | 3 hari yang lalu






