Ekonomi Tertekan, Warga Mulai Downgrade Gaya Hidup
JAKARTA — Tekanan ekonomi mulai terasa dalam kehidupan masyarakat. Salah satu fenomenanya terlihat dari semakin banyak warga yang memilih menurunkan standar gaya hidup atau downgrade demi menjaga kondisi keuangan.
Fenomena tersebut ramai diperbincangkan di media sosial. Sejumlah pengguna mengaku terpaksa mengganti kendaraan, menekan biaya tempat tinggal, hingga menjual aset karena pendapatan tak lagi mampu menopang gaya hidup sebelumnya.
Salah satunya pengguna Threads yang mengaku menjual Honda HR-V dan menggantinya dengan mobil murah ramah lingkungan (low cost green car/LCGC).
"In this economy, apa yang sudah kalian downgrade. Me: jual HR-V, beli LCGC. Nggak apa-apa, yang penting fungsinya sama," tulisnya.
Pengguna lain mengungkapkan kondisi serupa. Ia mengaku sebelumnya memiliki mobil Cortez dan tinggal di rumah klaster. Kini, ia memilih tinggal di rumah mertua dan menggunakan motor tua untuk beraktivitas.
Ada pula warga yang mengaku harus menjual sejumlah aset akibat tekanan ekonomi. Dari sebelumnya memiliki Innova Reborn, XL7, dan Avanza, kini hanya tersisa satu mobil. Dua apartemen dan sebuah rumah di Bogor juga telah dilepas.
Perubahan kondisi ekonomi itu turut tercermin dalam survei Indikator Politik Indonesia yang digelar pada Juli 2026. Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia Burhanuddin Muhtadi membagikan hasil survei tersebut melalui akun X miliknya pada 3 September 2026.
Survei menunjukkan lebih dari 49 persen responden tidak mampu menyisihkan penghasilan untuk ditabung. Sebanyak 16,4 persen mengaku pendapatannya tidak mencukupi kebutuhan keluarga sehingga harus berutang.
Sementara itu, 11,7 persen responden terpaksa menggunakan tabungan untuk memenuhi kebutuhan. Hanya 20,3 persen yang menyatakan masih mampu menabung dari penghasilannya.
Burhanuddin menyebut kondisi tersebut menunjukkan adanya perubahan pola masyarakat dalam bertahan menghadapi tekanan ekonomi.
"Temuan survei @indikator: responden yang sebelumnya makan tabungan (mantab) bergeser ke makan utang (maut)," tulisnya.
Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira menilai tekanan terhadap ekonomi masyarakat memang semakin terlihat.
Menurut Bhima, sejumlah indikator menunjukkan kondisi tersebut, antara lain jumlah PHK yang mencapai sekitar 50 ribu orang, kenaikan suku bunga, serta inflasi pangan yang mencapai 4,2 persen pada Agustus 2026.
"Makin banyak masyarakat bertahan dengan utang. Inflasi mulai meningkat dan menekan pengeluaran rumah tangga. Wajar masyarakat sekarang melakukan survival mode atau bertahan hidup dengan downgrade gaya hidup," kata Bhima kepada Redaksi, Rabu (30/9/2026).
Menurut dia, fenomena tersebut dapat berdampak terhadap aktivitas bisnis. Ketika masyarakat mengurangi belanja barang, termasuk kendaraan, permintaan akan melemah.
Penurunan permintaan kemudian berpotensi menekan sektor industri dan memicu PHK. Kondisi itu pada akhirnya dapat semakin menggerus daya beli masyarakat.
"Kalau tidak bisa lagi downgrade maka turun jadi orang miskin," ujarnya.
Untuk meredam tekanan tersebut, Bhima mendorong Pemerintah memberikan stimulus yang lebih besar kepada kelompok masyarakat menengah.
Salah satu opsi yang disarankan adalah menurunkan tarif Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dari 11 persen menjadi 8 persen, seperti yang diterapkan Vietnam.
Selain itu, Pemerintah dinilai perlu mengevaluasi kembali alokasi anggaran dan mengarahkannya ke sektor yang memiliki dampak lebih besar terhadap perekonomian.
"Geser anggaran MBG ke belanja yang lebih produktif. Misalnya, pengembangan kawasan industri," tandasnya.
Internasional | 2 hari yang lalu
Olahraga | 3 hari yang lalu
Nasional | 1 hari yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu
TangselCity | 1 hari yang lalu
Olahraga | 1 hari yang lalu
Politik | 1 hari yang lalu
Olahraga | 3 hari yang lalu
Pos Banten | 23 jam yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu




