Konflik Timur Tengah Jadi Perhatian Menteri Energi ASEAN
MANILA – Konflik berkepanjangan di Timur Tengah menjadi perhatian negara-negara ASEAN karena berpotensi mengganggu ketahanan energi kawasan.
Para menteri energi ASEAN membahas isu tersebut dalam 44th ASEAN Ministers on Energy Meeting (AMEM) di Manila, Filipina, 7–8 Oktober 2026. Pertemuan ini juga membahas kerja sama energi, transisi energi, serta perkembangan sektor energi regional dan global.
ASEAN dinilai cukup rentan terhadap gejolak energi karena masih bergantung pada impor. Sebelum konflik Iran, sekitar separuh kebutuhan minyak sejumlah negara ASEAN dipasok dari Timur Tengah.
Gangguan jalur perdagangan, terutama di sekitar Selat Hormuz, berisiko mendorong kenaikan harga dan mengganggu pasokan energi. Dampaknya dapat merembet ke biaya transportasi, industri, hingga harga barang dan jasa.
International Energy Agency (IEA) memperkirakan permintaan listrik Asia Tenggara tumbuh rata-rata 5,4 persen per tahun pada 2026–2030.
Pertumbuhan ini didorong industrialisasi, urbanisasi, pusat data, serta meningkatnya kebutuhan pendingin ruangan.
Di tengah permintaan yang terus naik, produksi minyak Asia Tenggara justru telah turun sekitar 40 persen dibandingkan puncaknya pada 1990-an.
Karena itu, ASEAN mendorong diversifikasi sumber energi, pengembangan ASEAN Power Grid, percepatan energi terbarukan dan kendaraan listrik, serta penguatan mekanisme ASEAN Framework Agreement on Petroleum Security (APSA).
Pertemuan di Manila diharapkan memperkuat koordinasi negara-negara ASEAN dalam menghadapi gejolak energi global sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap impor energi.
Pertajam Dampak Konflik terhadap ASEAN
Nasional | 2 hari yang lalu
Olahraga | 22 jam yang lalu
TangselCity | 2 hari yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu
Olahraga | 1 hari yang lalu
Olahraga | 3 hari yang lalu
Pos Banten | 2 hari yang lalu
Pos Tangerang | 2 hari yang lalu
Nasional | 1 hari yang lalu




