TangselCity

Pos Tangerang

Pos Banten

Politik

Olahraga

PORPROV 2026

Nasional

Pendidikan

Ekonomi Bisnis

Galeri

Internasional

Otomotif

Selebritis

Lifestyle

Opini

Hukum

Advertorial

Kesehatan

Kriminal

Piala Dunia 2026

RELIJIUCITY

Indeks

Dewan Pers

Mantan Menlu Hassan Wirajuda Kagumi Kemampuan Diplomasi Siswa Syafana

MUNSYA 2026 Jadi Wadah Siswa Asah Wawasan Global dan Kepercayaan Diri

Reporter: Rachman Deniansyah
Editor: Irma Permata Sari
Minggu, 01 November 2026 | 10:35 WIB
Foto : Ist
Foto : Ist

BSD - Ratusan siswa tingkat SD, SMP, hingga SMA mengikuti Model United Nations Syafana Islamic School (Munsya) 2026. Kegiatan yang berlangsung selama dua hari, 31 Oktober hingga 1 November 2026, ini menjadi ajang bagi para siswa untuk mengasah kemampuan diplomasi sekaligus memperluas wawasan tentang isu-isu global.

 

Mengusung tema "Navigating the Seas to Safeguard Human Dignity", kegiatan tersebut digelar di Gedung Ade Kismantoro Secondary, Syafana Islamic School. Pembukaannya dihadiri mantan Menteri Luar Negeri RI periode 2001-2009, Noer Hassan Wirajuda.

 

Turut hadir diplomat Jepang untuk ASEAN di Jakarta, Mizuki Saito, serta Sekretaris Pertama KBRI yang mengikuti kegiatan melalui sambungan video langsung dari Kopenhagen, Denmark.

 

Hassan Wirajuda mengapresiasi keberanian dan kemampuan para siswa dalam membahas persoalan internasional yang tidak sederhana. Menurutnya, kemampuan siswa tingkat sekolah menengah pertama dalam mengikuti diskusi dengan topik berat menjadi gambaran positif kesiapan generasi muda Indonesia.

 

"Saya menghargai sekali, anak-anak pada tingkat sekolah lanjutan pertama, sudah mulai membiasakan diri untuk membahas isu-isu internasional, ini luar biasa," ungkap Hassan, Sabtu (31/10).

 

Ia juga mengaku terkesan dengan kemampuan bahasa Inggris para peserta. Meski isu yang dibahas cukup kompleks, para siswa dinilai mampu menyampaikan gagasan dengan percaya diri dan terbuka terhadap berbagai pandangan.

 

"Saya lihat mereka bahasa Inggris-nya bagus, topik-topik yang didiskusikan, kalau menurut saya dosisnya agak berat, tetapi mereka tidak canggung menghadapi isu itu. Mereka sangat terbuka," tuturnya.

 

Foto : Ist

 

Hassan menilai, generasi muda Indonesia memiliki potensi besar untuk menghadapi tantangan masa depan. Namun, potensi tersebut harus diimbangi dengan kemauan untuk terus belajar dan meningkatkan kemampuan diri.

 

Bagi siswa yang bercita-cita meniti karier sebagai diplomat maupun bekerja di lingkungan internasional, ia menekankan pentingnya penguasaan ilmu pengetahuan dan bahasa asing.

 

"Semua sangat tergantung pada dua, satu penguasaan keilmuannya, makanya saya tekankan tadi kepada para siswa untuk selalu belajar, belajar, belajar. Yang kedua bahasa, bahasa Inggris penting. Tadi bagus-bagus bahasa Inggrisnya," ujarnya.

 

Selain bahasa Inggris, Hassan juga mendorong generasi muda mempelajari bahasa asing lainnya, seperti Mandarin, Jepang, dan Arab. Kemampuan tersebut dinilai menjadi bekal penting untuk membuka peluang di tingkat internasional.

 

Ia menjelaskan, tantangan generasi muda saat ini berbeda dengan yang dihadapi pemuda pada masa Sumpah Pemuda 1928. Jika generasi terdahulu berjuang membangun persatuan dan mewujudkan Indonesia sebagai sebuah bangsa, generasi sekarang dihadapkan pada lingkungan yang semakin terkoneksi dan kompetitif.

 

Menurutnya, persaingan tidak lagi sebatas di tingkat nasional, tetapi juga regional hingga dunia. Kondisi tersebut sekaligus membuka peluang lebih luas bagi generasi muda Indonesia untuk berkarier di berbagai negara.

 

"Itu hal yang ditawarkan dunia, termasuk kepada kita. Lahan kerja profesi Anda itu bukan hanya Indonesia, tetapi juga ASEAN, Jepang, Korea, Eropa, Amerika," paparnya.

 

Sementara itu, Managing Director Syafana Islamic School, Nanang Firdaus Masduki, mengaku bangga pelaksanaan perdana Munsya 2026 mendapat perhatian dari diplomat senior sekaliber Hassan Wirajuda.

 

Ia menilai, perjalanan karier Hassan yang panjang di dunia diplomasi dapat menjadi inspirasi bagi para peserta. Terlebih, Hassan memiliki pengalaman sebagai diplomat, negosiator, hingga Menteri Luar Negeri RI.

 

Nanang berharap, kehadiran Hassan dapat memotivasi siswa untuk terus mengembangkan kemampuan dan memiliki cita-cita berkiprah di dunia internasional.

 

Melalui Munsya, para siswa juga dilatih menghadapi perbedaan pendapat secara dewasa. Mereka diajak memahami bahwa perbedaan pandangan bukan alasan untuk berselisih, melainkan bagian dari proses bertukar gagasan dan mencari solusi.

 

"Saya berharap, kelak anak-anak ini sudah terbiasa berbeda pendapat. Jadi kalau berbeda pendapat itu tidak harus bersinggungan, bermusuhan, tetapi sebagai proses kedewasaan," katanya.

 

Menurut Nanang, kegiatan tersebut juga menjadi sarana membangun kepercayaan diri siswa, terutama ketika harus berbicara, berdiskusi, hingga bernegosiasi dengan orang dari negara lain.

 

Munsya 2026 sendiri merupakan simulasi sidang Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang mempertemukan siswa dari berbagai sekolah. Dalam kegiatan ini, peserta berperan sebagai diplomat yang mewakili negara-negara tertentu untuk membahas berbagai persoalan global dengan menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar.

 

Pesertanya tidak hanya berasal dari wilayah Jabodetabek, tetapi juga dari luar daerah, seperti Bandung dan Lampung.

 

Nanang berharap, pengalaman yang diperoleh melalui kegiatan tersebut dapat menjadi bekal bagi siswa untuk tumbuh sebagai generasi yang memiliki wawasan internasional dan mampu bersaing di tingkat global.

 

"Semoga, ke depan, kita punya anak-anak yang menjadi diplomat, negosiator di dunia internasional, yang mengerti isu-isu global, dari kegiatan semacam ini," pungkasnya.

Komentar:
GROUP RAKYAT MERDEKA
RM ID
Banpos
Satelit