Iran-Qatar Intensifkan Diplomasi, Bayang-Bayang Serangan AS Membayangi Negosiasi
DOHA – Iran dan Qatar kembali mengintensifkan upaya diplomatik untuk mengakhiri konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat (AS), dan Israel. Namun, peluang tercapainya kesepakatan masih dibayangi ancaman serangan militer baru serta perbedaan kepentingan yang belum terselesaikan.
Reuters melaporkan, delegasi negosiator Iran telah berada di Doha selama tiga hari hingga Minggu (1/11/2026) untuk melanjutkan pembicaraan dengan mediator Qatar. Upaya tersebut juga melibatkan komunikasi diplomatik dengan Washington guna mencari jalan keluar dari konflik yang telah berlangsung selama delapan bulan.
Sebelumnya, delegasi Iran dan Qatar menggelar pertemuan maraton selama lebih dari 12 jam di Teheran pada Jumat (30/10/2026). Sejumlah opsi penyelesaian konflik dibahas dalam pertemuan tersebut.
Dari pihak Washington, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyatakan Presiden Donald Trump belum memutuskan langkah yang akan diambil terhadap Iran, termasuk kemungkinan melancarkan serangan baru. Meski demikian, pemerintah AS disebut masih mengutamakan penyelesaian melalui jalur diplomasi.
“Presiden lebih memilih menyelesaikan persoalan ini secara diplomatik,” ujar Rubio seperti dikutip Reuters.
Di tengah proses negosiasi, Iran mengeluarkan peringatan keras. Teheran menyatakan akan membalas dengan menyerang sasaran AS dan Israel di negara-negara tetangga jika kembali menjadi target serangan.
Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei juga telah memerintahkan angkatan bersenjata meningkatkan kesiagaan untuk menghadapi kemungkinan eskalasi militer.
Negosiasi masih menghadapi sejumlah persoalan mendasar. Iran mendesak AS mencabut blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan negaranya serta membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz. Sementara itu, program nuklir Iran tetap menjadi salah satu isu sensitif yang belum menemukan titik temu.
Kebuntuan tersebut berpotensi memperpanjang ketegangan di Timur Tengah. Selain mengancam stabilitas kawasan, konflik juga berdampak terhadap pasokan minyak dunia, terutama karena Selat Hormuz merupakan jalur utama perdagangan energi internasional.
Meski ancaman militer masih membayangi, keterlibatan Qatar sebagai mediator membuka peluang bagi kedua pihak untuk kembali menempuh jalur perundingan. Namun, hasil akhir diplomasi tersebut masih belum dapat dipastikan, terutama selama perbedaan tuntutan dan ancaman serangan belum mereda.
Nasional | 3 hari yang lalu
Nasional | 3 hari yang lalu
Nasional | 3 hari yang lalu
Pos Banten | 1 hari yang lalu
Olahraga | 3 hari yang lalu
Olahraga | 2 hari yang lalu
Olahraga | 2 hari yang lalu
Nasional | 3 hari yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu
Nasional | 3 hari yang lalu



