TangselCity

Ibadah Haji 2024

Pos Tangerang

Pos Banten

Politik

Olahraga

Nasional

Pendidikan

Ekonomi Bisnis

Galeri

Internasional

Selebritis

Lifestyle

Opini

Hukum

Advertorial

Kesehatan

Kriminal

Indeks

Dewan Pers SinPo

PAN Usul Duet Airlangga-Zulhas

Adi Prayitno: Bagus, Supaya Nggak Usung Kader Partai Lain

Oleh: Farhan
Kamis, 25 Mei 2023 | 09:03 WIB
Foto : Ist
Foto : Ist

JAKARTA - Peta koalisi partai politik masih diotak-atik. Beberapa partai masih melakukan penjajakan agar bisa berjodoh.

Terbaru, Partai Amanat Nasional (PAN) mengusulkan duet dengan Partai Golkar untuk mengusung Ketua Umum masing-masing sebagai Bakal Calon Presiden (Bacapres) dan Bakal Calon Wakil Presiden (Bacawapres).

Dilihat dari aturan ambang batas atau presidential threshold,kedua partai ini bisa mengusung pasangan Capres- Cawapres jika berkoalisi. Pada Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilihan Umum (UU Pemilu), aturan presidential threshold,untuk capres dan cawapres, ada dalam Pasal 222.

“Pasangan calon diusulkan oleh partai politik atau gabungan partai politik peserta Pemilu yang memenuhi persyaratan perolehan kursi paling sedikit 20 persen dari jumlah kursi DPR, atau memperoleh 25 persen dari suara sah secara nasional pada Pemilu anggota DPR sebelumnya,” bunyi Pasal 222 UU Pemilu.

Berdasarkan hasil Pemilu 2019, Partai Golkar meraih 85 kursi atau 14,78 persen kursi DPR. PAN memperoleh 44 kursi atau 7,65 persen kursi DPR. Jika digabung, maka perolehan kursi DPR Golkar dan PAN berjumlah 22,43 persen. Artinya, telah melewati syarat ambang batas 20 persen dari jumlah kursi DPR.

Usul pembentukan duet Airlangga Hartarto-Zulkifli Hasan (Zulhas) berawal di internal DPP PAN saat melakukan rapat harian,pada Selasa malam (23/5). Wakil Ketua Umum PAN Yandri Susanto menjelaskan, perdebatan dalam pertemuan itu memunculkan paket baru, yaitu Airlangga dan Zulhas.

“Kenapa KIB tidak memunculkan nama sendiri? Yaitu, Airlangga-Zulhas. Banyak peserta rapat, semua setuju, pak Ketumdiusung jadi Cawapres,” tuturnya.

Wakil Sekretaris Jenderal PAN, Fikri Yasin pun mengonfirmasi usul tentang duet tersebut. Dia menyebut, Golkar dan PAN me­miliki modal mengusung Ketua Umum masing-masing, karena sudah memenuhi ambang batas 20 persen kursi DPR.

Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia, Adi Prayitno mendukung jika koalisi Golkar dan PAN terbentuk. Menurut dia, ketum parpol menjadi Capres dan Cawapres, merupakan tradisi politik yang baik.

Apakah duet Airlangga-Zulhas akan terwujud? Bagaimana potensimenangnya? Berikut wawancara dengan Adi Prayitno mengenai hal tersebut.

PAN membuka opsi terbentuknya koalisi baru, yakni dengan Golkar untuk mengusung Airlangga-Zulkifli Hasan. Pandangan Anda?

Cukup rasional jika pada akhirnya Golkar dan PAN membentuk koalisi sendiri. Karena, gabungan kedua partai ini sudah menggenapi ambang batas mengusung Calon Presiden, yakni 20 persen kursi DPR. Jumlah kursi Golkar dan PAN itu sudah lebih dari 20 persen, dan itu cukup untuk membentuk satu poros politik. Ini justru bagus, akan menjadi pasangan yang melengkapi poros politik pada 2024. Airlangga- Zulhas adalah duet Ketua Umum partai yang memang selayaknya dilakukan.

Kenapa begitu?

Supaya, ini menjadi tradisi politik yang baru bahwa ketua umum partai harus ngotot, harus maju ke Pilpres. Supaya, tidak latah mengusung kader partai lain.

Apa keuntungan Golkar dan PAN jika mengusung Capres-Cawapres sendiri?

Kalau koalisi ini terbentuk, Golkar dan PAN bisa mendapatkan efek positif. Terlepas berapa besar efek itu. Jika Golkar dan PAN berkoalisi, suara Pileg mereka akan mendapat­kan insentif politik elektoral. Pilpres dan Pileg yang dilaksanakan secara bersamaan itu, menguntungkan partai politik yang punya jagoan sendiri. Jadi, koalisi ini rasional, masuk akal, saling melengkapi, tinggal jalan saja.

Apa tantangan bagi kedua partai untuk membentuk koalisi itu?

PR terbesar dalam koalisi Golkar dan PAN, tentu harus kerja keras dalan sisa waktu menuju 2024.

Bagaimana dengan figur Airlangga dan Zulhas?

Di survei, Airlangga dan Zulhas belum kelihatan secara signifikan. Tapi, kedua tokoh ini mulai dikenal publik. (RM.id)

Komentar:
GROUP RAKYAT MERDEKA
sinpo
sinpo
sinpo