TangselCity

Pos Tangerang

Pos Banten

Politik

Olahraga

Nasional

Pendidikan

Ekonomi Bisnis

Galeri

Internasional

Selebritis

Lifestyle

Opini

Hukum

Advertorial

Kesehatan

Kriminal

Indeks

Dewan Pers SinPo

Sesama Banteng

Hasto Galak, Mbak Puan Bersahabat Dengan Lawan Maupun Teman

Laporan: AY
Minggu, 14 Januari 2024 | 09:53 WIB
Acara HUT PDIP ke 51. Foto : Ist
Acara HUT PDIP ke 51. Foto : Ist

JAKARTA - Gaya politik yang ditunjukkan Ketua DPR Puan Maharani dengan Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto sungguh berbeda. Meskipun sesama Banteng, Puan tak segalak Hasto. Puan nyaris tak pernah menyerang pihak lain. Tak hanya itu, Puan juga mengambil sikap bersahabat dengan lawan maupun kawan.
Majunya putra sulung Presiden Jokowi yang juga Wali Kota Solo Gibran Rakabuming Raka sebagai Cawapres mendampingi Prabowo Subianto, membuat hubungan Banteng dan Presiden dianggap tidak mesra lagi. Meski PDIP tetap berada di pemerintahan, tapi suasananya jadi tak selengket dulu. Hal itu makin nampak ketika Jokowi tidak hadir dalam perayaan HUT PDIP ke-51 lalu. Meski Jokowi sedang tugas kenegaraan ke luar negeri, tetap saja penilaian miring muncul.
Makin tidak harmonisnya hubungan PDIP dengan Jokowi terlihat dari beragam kritikan keras sejumlah kader Banteng. Hasto misalnya, berulang kali mengomentari absennya Jokowi di acara HUT PDIP.

Menurut dia, PDIP menyerahkan sepenuhnya soal itu kepada rakyat. Dia mengaku ingin rakyat menilai dan mencatat. Partai, ucap dia, sejak awal hanya mempersiapkan calon pemimpin.
“Kami menyiapkan pemimpin dengan tulus hati, ketika ada yang meninggalkan itu, ya bagian dari suatu tanggung jawab yang nanti rakyat akan menilai,” sambung dia.
Berbeda dengan Hasto, Puan memilih berkomentar halus soal ketidakhadiran Jokowi. Puan menghormati tugas Jokowi sebagai Kepala Negara. Di mana di saat bersamaan, Jokowi harus melakukan kunjungan kerja ke beberapa negara.


Pak Jokowi itu Presiden. (Jokowi tidak hadir) karena ke luar negeri ada tugas negara,” kata Puan.
Baru-baru ini, sikap berbeda juga ditunjukkan Puan dan Hasto soal pertemuan sejumlah tokoh yang menamakan diri Petisi 100 dengan Menko Polhukam Mahfud MD di kantornya, pekan lalu.
Tokoh-tokoh ini menyerang Jokowi. Menanggapi itu, Puan meminta semua pihak untuk menjaga situasi di tahun politik.

Kita tetap menjaga situasi menjelang Pemilu 2024 ini supaya damai. Kemudian terjaganya netralitas semua aparat dan penegak hukum,” kata Puan di Sukoharjo, Jawa Tengah, Kamis (11/1/2024).
Sedangkan Hasto pasang badan terhadap Mahfud, pejabat yang menerima tokoh-tokoh tersebut.
“Tentu Pak Mahfud menerima aspirasi dari seluruh rakyat Indonesia, apapun isinya dan hal-hal tersebut telah diatur dalam konstitusi kita,” beber Hasto.

Momen adanya perbedaan sikap antara Hasto dan Puan juga terjadi saat menanggapi acara makan malam Jokowi dengan Prabowo. Alih-alih menyinggung netralitas Kepala Negara, Puan justru berkelakar. Bahkan, Ketua DPR itu, melempar kode untuk diajak makan oleh mantan Wali Kota Solo itu.
“Bagus ada makan malam berdua. Karena kalau makan malam sendiri nggak enak. Saya tunggu diajak Prsiden, oke,” sebut Puan.
Sedangkan Hasto justru ngegas melihat apa yang dilakukan Jokowi. Hasto menyoroti langkah Jokowi yang melakukan pertemuan secara maraton dengan Ketum Gerindra Prabowo Subianto, Ketum Golkar Airlangga Hartarto, dan Ketum PAN Zulkifli Hasan.

Hasto menilai, pertemuan itu menegaskan keberpihakan Jokowi di Pilpres 2024. Padahal, kata dia, berulang kali Jokowi menyerukan netralitas bagi TNI-Polri dan aparatur penyelenggara negara.
“Presiden harus membuat legacy Pemilu harus berjalan dengan demokratis dengan netral, dan nggak boleh ada keberpihakan dari Presiden. Nggak boleh menggunakan alat alat aparatur negara yang bisa merusak kualitas demokrasi kita,” jelas Hasto.
Selain itu, kelembutan Puan juga ditunjukkan saat debat Capres-Cawapres ketiga, Minggu (7/1/2024). Mantan Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan itu tak sungkan bersalaman dengan Prabowo dan Anies Baswedan, kompetitor jagoannya di Pilpres 2024. Bahkan, kepada Prabowo, keduanya cipika-cipiki dan saling tebar senyum.

Pemandangan sama juga dilakukan Puan kepada Anies. Meski tidak cipika-cipiki, tapi keduanya saling melempar senyum hingga terlihat bergurau dan tertawa.
Selain itu, di tengah komunikasi yang mampet antara Banteng dengan Jokowi, Puan justru berbeda. Putri Ketua Umum PDIP itu tercatat beberapa kali bertemu dengan Jokowi di Istana Negara, Jakarta.

Kenapa Puan bisa lebih lembut?

Pengamat politik dari Universitas Al Azhar Indonesia, Ujang Komarudin menilai perkara ini hanya soal tugas. Dalam politik, lumrah berbagi tugas. Ada yang nyerang-nyerang, dan juga ada yang diplomatis seperti Puan.

“Posisi Puan nantinya berharga jika misal PDIP kalah di Pemilu atau Pilpres. Puan masih bisa jalin komunikasi dengan pihak pemenang,” pungkas Ujang kepada Redaksi, Sabtu (13/1/2024).
Sebelumnya, Wakil Ketua Umum (Waketum) PKB (PKB) Jazilul Fawaid merespons positif langkah Puan yang sempat memberi salam pada Anies usai debat Capres sesi 2. “Mbak Puan kan dari dulu orangnya baik dengan semuanya,” kata Jazilul.

Wakil Ketua MPR itu menilai, Puan memiliki kemiripan dengan ayahnya, Taufik Kiemas yang bisa dekat dengan kelompok mana pun. “Jadi dia merangkul semuanya. Itu tradisi yang dibangun oleh Mbak Puan kok,” ujar Jazilul.

Komentar:
GROUP RAKYAT MERDEKA
sinpo
sinpo
sinpo