TangselCity

Pos Tangerang

Pos Banten

Politik

Olahraga

Nasional

Pendidikan

Ekonomi Bisnis

Galeri

Internasional

Selebritis

Lifestyle

Opini

Hukum

Advertorial

Kesehatan

Kriminal

RELIJIUCITY

Indeks

Dewan Pers

Indonesia Ranking Dua Dunia Penularan TBC, Langkah Apa Yang Harus Dilakukan Pemerintah?

Reporter: Farhan
Editor: AY
Sabtu, 29 November 2025 | 08:56 WIB
Ilustrasi. Foto : Ist
Ilustrasi. Foto : Ist

JAKARTA - Penyakit tuberkulosis atau TBC masih menjadi perhatian serius, baik di tingkat global maupun nasional. Sebab, Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO menerbitkan laporan terbaru tuberkulosis (TB) dunia, “WHO Global TB Report 2025”.

 

Hasilnya, Indonesia berada di peringkat kedua dunia untuk jumlah kasus TBC terbanyak (1,08). India ranking pertama dengan 2,7 juta orang, dilanjutkan Filipina (724 ribu), China (696 ribu), Pakistan (669 ribu), Nigeria (510 ribu), Republik Demokratik Kongo (412 ribu) dan Bangladesh (384 ribu).

 

Masih berdasarkan data dari WHO, angka kematian di Indonesia akibat TBC mencapai 118 ribu orang. India (300 ribu orang), Filipina (36 ribu), China (255 ribu), Pakistan (51 ribu).

 

Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara, Prof Tjandra Yoga Aditama seperti dilansir dalam web Perkumpulan Pemberantasan Tuberkulosis Indonesia mengakui jika Indonesia sebagai negara kontributor tertinggi dalam peningkatan kasus TB antara 2020 dan 2023, yang disusul oleh Filipina dan Myanmar.

 

Kita tahu bahwa pengendalian tuberkulosis merupakan salah satu prioritas dalam Asta Cita. Sepuluh hal tentang Indonesia di ‘WHO Global TB Report 2025’ patut jadi bahan amat penting untuk kesuksesan pelaksanaan program pengendalian tuberkulosis di Asta Cita kita,” ujar dia.

 

Sementara, Epidemiolog Kesehatan Dinkes Kota Yogyakarta, Setyo Gati Candra Dewi, memaparkan data terbaru. Hingga 17 November 2025, terdapat 1.161 kasus TBC dari semua fasilitas kesehatan yang ada di Kota Yogyakarta. Hanya sekitar 590 yang benar-benar warga Kota Yogyakarta.

 

“Setiap tahun hanya 50-60 persen yang merupakan warga kota,” jelas Gati.

 

Jumlah tersebut bahkan melampaui estimasi kasus dari pusat, yaitu sekitar 1.034 kasus tahun ini.

 

Wakil Menteri Kesehatan, Benjamin Paulus Octavianus mengakui jika Indonesia nomor dua terbesar di dunia dalam kasus penularan penyakit TBC.

 

Untuk menekan angka penyakit TBC, Benjamin mengharapkan semua pihak ikut terlibat dalam meminimalisir angka penularan TBC.

 

Sementara, Epidemiolog dari Universitas Indonesia (UI) Tri Yunis Miko Wahyono menilai naiknya peringkat Indonesia sebagai negara nomor dua di dunia dalam kasus TBC karena masyarakat tidak peka dalam penularannya.

 

“Harusnya kalau di kendaraan umum menggunakan masker,” kata dia.

 

Untuk mengetahui bagaimana pandangan Tri Yunis Miko Wahyono dalam kasus penularan TBC di Indonesia, berikut wawancaranya.

 

Soal TBC Indonesia peringkatnya naik, menjadi nomor dua seluruh Indonesia. Nah dengan label nomor dua, kira-kira dampak buat Indonesia?

 

Harusnya sih dengan label nomor dua dunia, Pemerintah harusnya punya regulasi-regulasi yang baik untuk penjagaan TB di masyarakat, ya. Misalnya di kereta harus memakai masker untuk penjagaan TB. Kemudian di kendaraan umum juga begitu, di busway juga begitu. Sebab, kita tidak akan bisa mengidentifikasi siapa yang sakit dan siapa yang tidak.

 

Kalau ke rumah sakit juga harusnya pakai masker untuk mencegah penularan TB. Jadi menurut saya dengan ketatnya pakai masker penularan TB akan berhenti dulu.

 

Permasalahannya, jika memang ada obat gratis dan pengobatannya juga gratis, kenapa angka penularannya masih tinggi?

 

Menurut saya, masalahnya adalah obat-obatan TB itu banyak yang meracuni hati dan meracuni ginjal serta banyak efek sampingnya. Sehingga perlu pengawasan yang benar-benar ketat di rumah sakit dengan pengawasan lab yang baik.

 

Selain karena obat TB yang banyak efek sampingnya, apakah ada hal lain yang membuat angka TB di Indonesia meningkat?

 

Mungkin karena bantuan dari global fund itu akan dikecilkan atau mungkin nggak ada pada tahun depan, yakni tahun 2026.

 

Seperti yang kita ketahui, program TB itu membutuhkan pembiayaannya yang sangat tinggi. Sedangkan tahun depan biaya global fund akan turun.

 

Alasan lainnya?

 

Kemampuan daerah atau kemampuan masing-masing kabupaten kota atau masing-masing provinsi kabupaten masih lemah. Menurut saya 60 persen kabupaten kita itu masuk kabupaten yang tidak mampu, sehingga sulit untuk menahan laju penyebaran TBC di daerah.

 

Tapi, kenapa penularannya tinggi. Sangat berbeda dengan presiden sebelumnya?

 

Waktu SBY, bantuan dari global fund sangat tinggi-tingginya sehingga bisa tertangani dengan baik oleh Pemerintah.

Komentar:
GROUP RAKYAT MERDEKA
RM ID
Banpos
Satelit