TangselCity

Pos Tangerang

Pos Banten

Politik

Olahraga

Nasional

Pendidikan

Ekonomi Bisnis

Galeri

Internasional

Selebritis

Lifestyle

Opini

Hukum

Advertorial

Kesehatan

Kriminal

RELIJIUCITY

RAMADAN

Indeks

Dewan Pers

Harga Kedelai Melonjak, Perajin Siasati dengan “Tempe Lebih Tipis”

Reporter: Farhan
Editor: AY
Rabu, 08 April 2026 | 10:16 WIB
Ilustrasi. Foto : Ist
Ilustrasi. Foto : Ist

JAKARTA – Lonjakan harga kedelai akibat gejolak global, terutama di kawasan Timur Tengah, mulai berdampak nyata pada pelaku usaha kecil di Indonesia. Salah satu dampak yang paling terlihat adalah menyusutnya ukuran tempe yang kini dijual lebih tipis di pasaran.

 

Berdasarkan data Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP) Kementerian Perdagangan per Selasa (7/4/2026), harga kedelai impor mencapai Rp13.325 per kilogram. Angka ini melonjak tajam dibandingkan akhir Maret 2026 yang masih berada di kisaran Rp9.800 per kilogram.

 

Kenaikan harga tersebut memaksa perajin tempe dan tahu memutar strategi demi menjaga kelangsungan usaha. Di tengah tekanan biaya produksi, banyak pelaku usaha memilih tidak menaikkan harga jual, melainkan menyiasatinya dengan mengurangi ukuran produk.

 

Di sentra industri tempe Sanan, Kota Malang, langkah ini menjadi pilihan utama. Salah satu perajin, Afriantoro, mengaku hanya mengurangi ukuran tempe sekitar 1 sentimeter tanpa mengubah harga jual.

 

“Kami tidak menaikkan harga, hanya ukurannya saja yang diperkecil, baik dari sisi lebar maupun ketebalan,” ujarnya.

Hal serupa dilakukan Nur Santo, pemilik Tempe Super Isal Jaya di Jepara, Jawa Tengah. Ia mengurangi ukuran tempe sekitar 0,5 sentimeter pada setiap varian untuk menekan biaya produksi.

 

“Prinsipnya harga tetap, tapi ukuran diperkecil. Mau tidak mau harus dilakukan agar usaha tetap berjalan,” katanya.

 

Penyesuaian ini terjadi hampir di semua ukuran produk. Tempe yang sebelumnya dijual Rp2.500 dengan ukuran 15x7 cm kini menjadi 15x6,5 cm. Sementara tempe seharga Rp4.000 berubah dari 17x9 cm menjadi 17x8,5 cm.

Tekanan serupa juga dirasakan perajin di Kabupaten Bekasi. Deden, perajin tahu di Cikarang Barat, mengaku harus melakukan berbagai efisiensi, mulai dari memperkecil ukuran hingga mengurangi tenaga kerja.

 

“Saya harus menyelamatkan usaha yang sudah lama dirintis. Terpaksa melakukan penyesuaian agar tetap bisa produksi,” ungkapnya.

 

Di tingkat pedagang kecil, strategi bertahan pun tidak jauh berbeda. Di kawasan Pekayon Jaya, Bekasi Selatan, penjual gorengan memilih mempertahankan harga dengan mengurangi ukuran potongan.

 

“Kalau harga dinaikkan, takut pembeli berkurang,” ujar Wahyu, pedagang gorengan. Ia tetap menjual dengan harga Rp1.500 per potong meski ukuran kini lebih kecil.

 

Kondisi ini juga terjadi di warung makan. Sejumlah pemilik warteg di Bekasi tetap mempertahankan harga tempe goreng, namun dengan porsi yang lebih sedikit.

Meski demikian, tidak semua pedagang mengambil langkah serupa. Sebagian memilih menaikkan harga jual. Siti, penjual nasi uduk di Bekasi, kini menjual gorengan Rp5.000 untuk tiga potong atau Rp2.000 per potong, naik dari sebelumnya Rp1.500.

 

“Karena harga tempe di pasar naik, kami ikut menyesuaikan. Alhamdulillah pelanggan masih memahami,” katanya.

Ketua Paguyuban Tahu Tempe Jawa Barat, Muhamad Zamaludin, berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk menstabilkan harga kedelai. Menurutnya, perajin kecil semakin tertekan dan membutuhkan intervensi nyata.

 

“Pemahaman konsumen saja tidak cukup. Kami butuh kebijakan yang bisa menstabilkan harga agar usaha tetap bertahan,” tegasnya.

Komentar:
GROUP RAKYAT MERDEKA
RM ID
Banpos
Satelit