Pergoki Remaja Diduga Hendak Tawuran, Camat Setu Kumpulkan Orang Tua dan Beri Pembinaan
SETU – Camat Kecamatan Setu, Erwin Gemala Putra memergoki sejumlah remaja yang diduga hendak tawuran di wilayah Setu, Selasa (19/5) malam. Para remaja itu kemudian dikumpulkan bersama orang tuanya untuk diberikan pembinaan oleh pihak kecamatan bersama kepolisian, aparat wilayah, dan karang taruna.
Langkah tersebut dilakukan sebagai upaya memutus mata rantai tawuran remaja dan geng motor yang belakangan meresahkan warga.
Erwin mengatakan, pola tawuran remaja saat ini banyak dipicu aktivitas di media sosial. Antar kelompok remaja saling berjejaring dan memamerkan aktivitas konvoi motor yang kemudian memancing konflik dengan kelompok lain.
“Mereka ini saling berjejaring antar kelompok, biasanya melalui media sosial. Salah satu kelompok membuat aktivitas malam hari seperti konvoi motor beramai-ramai lalu diposting menjadi konten. Dari situ muncul saling ejek hingga akhirnya janjian tawuran,” ujar Erwin saat diwawancarai, Rabu (20/5).
Menurutnya, para remaja yang hendak tawuran rata-rata membawa senjata tajam seperti celurit dan kelewang. Bahkan, beberapa di antaranya diketahui pernah terjaring kasus serupa.
“Iya, kebanyakan mereka membawa senjata tajam seperti celurit, kelewang, dan sejenisnya. Beberapa kejadian bahkan menyebabkan korban mengalami luka serius,” katanya.
Dalam pembinaan malam itu, sebanyak tujuh remaja dikumpulkan bersama orang tua mereka. Dari jumlah tersebut, lima orang tua hadir memenuhi panggilan pihak kecamatan.

Erwin menuturkan, pihaknya sengaja mempertemukan para remaja dengan orang tua, aparat kepolisian, serta unsur karang taruna agar pengawasan terhadap anak dapat diperkuat.
“Tadi malam saya mengumpulkan anak-anak tersebut untuk mencoba memutus mata rantai pergaulan mereka. Kami memberikan pembinaan dan pengertian bahwa tawuran sangat berbahaya, bukan hanya merugikan diri sendiri tetapi juga masyarakat dan bahkan bisa menghilangkan nyawa,” ungkapnya.
Ia menjelaskan, mayoritas remaja yang terlibat masih berstatus pelajar tingkat SMP dan SMA. Sebagian masih aktif sekolah, sementara lainnya sudah putus sekolah.
Menurut Erwin, pola aktivitas malam hari juga menjadi salah satu pemicu maraknya tawuran remaja. Banyak pelajar yang bersekolah siang hingga sore, kemudian tidur selepas Magrib dan kembali bangun pada malam hari.
“Awalnya bermain handphone, tetapi karena bosan akhirnya keluar rumah dan berkumpul dengan teman-temannya. Itu yang kemudian menjadi salah satu pemicu,” jelasnya.
Untuk mengantisipasi kejadian serupa, Kecamatan Setu juga telah menyebarkan flyer imbauan kepada masyarakat agar anak-anak sudah berada di rumah maksimal pukul 22.00 WIB.
Ke depan, pihak kecamatan bersama kepolisian, sekolah, tokoh masyarakat, dan karang taruna akan terus melakukan pembinaan dan mengarahkan remaja ke kegiatan positif.
“Anak-anak ini harus diarahkan ke kegiatan yang lebih positif, seperti olahraga, kegiatan kepemudaan, maupun aktivitas sosial di lingkungan. Yang paling penting adalah pengawasan keluarga dan komunikasi dengan anak harus diperkuat,” tandasnya.
TangselCity | 2 hari yang lalu
TangselCity | 1 hari yang lalu
Olahraga | 2 hari yang lalu
Olahraga | 2 hari yang lalu
TangselCity | 2 hari yang lalu
Pos Tangerang | 1 hari yang lalu
Olahraga | 2 hari yang lalu
Olahraga | 2 hari yang lalu
TangselCity | 1 hari yang lalu
Olahraga | 3 hari yang lalu


