Rupiah Tertekan dan IHSG Merosot, Purbaya Tegaskan Fondasi Ekonomi Masih Kuat
JAKARTA — Tekanan terhadap pasar keuangan domestik semakin meningkat. Nilai tukar rupiah untuk pertama kalinya ditutup di atas level Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS), sementara Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terperosok ke bawah level psikologis 6.000. Meski demikian, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan kondisi fiskal nasional masih terkendali dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tetap berada dalam posisi aman.
Pada perdagangan Kamis (4/6/2026), rupiah ditutup di level Rp18.033 per dolar AS atau melemah 0,46 persen dibandingkan sehari sebelumnya. Posisi tersebut menjadi titik terlemah sepanjang sejarah penutupan perdagangan rupiah. Pada saat yang sama, IHSG turun 101,28 poin atau 1,7 persen ke level 5.839,78, mencerminkan meningkatnya tekanan di pasar modal domestik.
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti, menjelaskan bahwa pelemahan rupiah dipengaruhi kombinasi faktor global dan domestik. Ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah yang memicu kenaikan harga minyak dunia, ditambah meningkatnya permintaan dolar AS di dalam negeri untuk kebutuhan repatriasi dividen dan pembayaran utang luar negeri korporasi, menjadi faktor utama yang menekan nilai tukar.
Di tengah gejolak tersebut, Bank Indonesia terus mengoptimalkan berbagai instrumen stabilisasi, mulai dari intervensi di pasar valuta asing hingga penguatan instrumen moneter yang bertujuan menjaga daya tarik aset keuangan domestik bagi investor.
Sementara itu, Menkeu Purbaya menegaskan pelemahan rupiah memang berpotensi menambah beban pembayaran utang luar negeri pemerintah. Namun, risiko tersebut telah masuk dalam berbagai skenario mitigasi yang disiapkan sejak penyusunan APBN 2026.
“Pergerakan kurs dan harga energi global sudah kami antisipasi dalam berbagai simulasi fiskal. Karena itu, APBN tetap berada pada jalur yang aman dan terkendali,” tegas Purbaya.
Pemerintah dan Bank Indonesia juga terus memperkuat koordinasi guna menjaga stabilitas sistem keuangan, memastikan likuiditas pasar tetap terjaga, serta meminimalkan dampak gejolak eksternal terhadap perekonomian nasional.
TangselCity | 3 hari yang lalu
TangselCity | 1 hari yang lalu
Pos Banten | 22 jam yang lalu
Piala Dunia 2026 | 2 hari yang lalu
Pos Tangerang | 2 hari yang lalu
Nasional | 1 hari yang lalu
Piala Dunia 2026 | 6 jam yang lalu
TangselCity | 2 hari yang lalu
TangselCity | 2 hari yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu



