Piala Dunia 2026 Dikuasai Gelombang Diaspora, Batas Negara Makin Samar
AS – Piala Dunia 2026 tidak hanya menghadirkan persaingan sengit di lapangan, tetapi juga memperlihatkan perubahan besar dalam komposisi pemain tim nasional. Turnamen kali ini mencatat lonjakan jumlah pemain diaspora hingga lebih dari 23 persen, angka tertinggi sepanjang sejarah Piala Dunia.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa identitas sepak bola modern kini tidak lagi sepenuhnya ditentukan oleh tempat lahir. Banyak pemain memilih membela negara asal keluarga atau leluhurnya, meski tumbuh dan berkembang di negara lain.
Salah satu kisah yang menarik perhatian datang dari Maroko. Saat menahan imbang Brasil 1-1 pada 13 Juni lalu, skuad Singa Atlas yang tampil di lapangan seluruhnya diisi pemain yang lahir di luar wilayah Maroko.
Perubahan ini juga menghadirkan cerita emosional. Pada laga Senegal melawan Prancis, penyerang Ibrahim Mbaye—yang lahir di Prancis—mencetak gol ke gawang negara tempat kelahirannya. Meski mencetak gol penting, ia memilih tidak merayakan sebagai bentuk penghormatan.
Fenomena serupa pernah terjadi pada Piala Dunia sebelumnya ketika Breel Embolo, pemain Swiss kelahiran Kamerun, mencetak gol ke gawang negara asalnya di edisi 2022. Selebrasi yang tertahan saat itu menjadi simbol dilema identitas yang dihadapi banyak pemain diaspora.
Dari total 48 negara peserta Piala Dunia 2026, hanya delapan tim yang seluruh pemainnya lahir di negara yang mereka bela. Selebihnya, mayoritas memanfaatkan jaringan diaspora yang tersebar di berbagai belahan dunia.
Negara debutan Curacao menjadi contoh menarik. Dari 26 pemain yang dibawa, hanya satu pemain yang lahir di wilayah tersebut, sementara mayoritas berasal dari Belanda. Qatar juga tampil dengan skuad multinasional yang dihuni pemain dari berbagai kawasan dunia.
Fenomena diaspora ternyata tidak hanya terjadi di tingkat negara, tetapi juga merambah hubungan keluarga.
Beberapa pasangan saudara bahkan tampil membela negara berbeda, seperti Desire dan Guela Doue, Nico dan Inaki Williams, Harry dan John Souttar, hingga Derrick Luckassen dan Brian Brobbey.
Sebelumnya, situasi serupa tergolong langka. Salah satu yang paling dikenang adalah Jerome Boateng dan Kevin-Prince Boateng yang pernah saling berhadapan saat membela Jerman dan Ghana di Piala Dunia.
Data penelitian Centre on Migration, Policy and Society (COMPAS), Universitas Oxford, menunjukkan bahwa persentase pemain kelahiran luar negeri sempat bergerak di kisaran 2–14 persen selama beberapa dekade. Namun tren itu meningkat tajam dalam dua edisi terakhir.
Pada Piala Dunia 2022, angkanya mencapai 16,5 persen. Kini di Piala Dunia 2026, jumlahnya melonjak menjadi 289 pemain dari total 1.248 peserta.
Piala Dunia kini bukan hanya panggung persaingan antarnegara, tetapi juga cerminan dunia yang semakin terhubung tanpa batas.
Piala Dunia 2026 | 1 hari yang lalu
TangselCity | 1 hari yang lalu
Piala Dunia 2026 | 2 hari yang lalu
Piala Dunia 2026 | 3 hari yang lalu
Olahraga | 2 hari yang lalu
Piala Dunia 2026 | 1 hari yang lalu
TangselCity | 2 hari yang lalu
Piala Dunia 2026 | 2 hari yang lalu
Pendidikan | 1 hari yang lalu
Nasional | 3 hari yang lalu



