TangselCity

Pos Tangerang

Pos Banten

Politik

Olahraga

Nasional

Pendidikan

Ekonomi Bisnis

Haji 2026

Galeri

Internasional

Otomotif

Selebritis

Lifestyle

Opini

Hukum

Advertorial

Kesehatan

Kriminal

Piala Dunia 2026

RELIJIUCITY

Indeks

Dewan Pers

Maroko Bidik Sejarah di Piala Dunia 2030, Atlas Lions Bangun Mental Juara Sejak Dini

Reporter & Editor : AY
Kamis, 16 Juli 2026 | 06:35 WIB
Timnas Maroko di Piala Dunia 2026. Foto : Ist
Timnas Maroko di Piala Dunia 2026. Foto : Ist

MAROKO – Perjalanan Maroko di Piala Dunia 2026 memang terhenti di babak perempat final setelah takluk 0-2 dari Prancis. Namun, kegagalan itu justru menjadi pijakan awal bagi Atlas Lions untuk menatap target yang jauh lebih besar: mencetak sejarah di Piala Dunia 2030 saat tampil sebagai tuan rumah bersama Spanyol dan Portugal.


Pelatih timnas Maroko, Mohamed Ouahbi, menegaskan timnya tak ingin berlarut dalam kekecewaan. Bersama Federasi Sepak Bola Maroko, ia langsung menyusun proyek jangka panjang demi membangun skuad yang mampu bersaing memperebutkan gelar juara dunia.


Menurut Ouahbi, keberhasilan melaju hingga perempat final harus menjadi fondasi untuk membentuk tim yang lebih kuat dalam empat tahun ke depan. Regenerasi pemain, peningkatan kualitas permainan, serta pembentukan mental juara menjadi fokus utama dalam proses tersebut.


"Kami memiliki tim muda yang terus ingin berkembang. Banyak pemain bertalenta yang akan membuat kami semakin kuat di masa depan," ujar Ouahbi, seperti dikutip Reuters.


Pelatih berusia 49 tahun itu menilai status tuan rumah bukanlah jaminan meraih kesuksesan. Karena itu, setiap agenda internasional hingga 2030 akan dimanfaatkan sebagai sarana membangun karakter, pengalaman, dan mental bertanding para pemain.


Ouahbi juga menjadikan Piala Afrika sebagai tahapan penting dalam peta jalan menuju Piala Dunia 2030. Ia ingin anak asuhnya terbiasa menghadapi tekanan di laga-laga besar sekaligus membuktikan kualitas sebagai penguasa Afrika.


"Kami harus lolos ke Piala Afrika, lalu berusaha memenangkannya. Kami ingin memastikan memiliki tim yang mampu mewujudkan mimpi besar di masa depan. Menjadi juara akan menunjukkan bahwa kami berada di jalur yang benar," katanya.


Bagi Ouahbi, keberhasilan di level Afrika akan menjadi tolok ukur kesiapan Maroko sebelum menghadapi persaingan dengan negara-negara terbaik dunia. Ia tak ingin Atlas Lions terus dipandang sebagai tim kejutan, melainkan berkembang menjadi kandidat kuat juara dunia.


Mantan pelatih tim kelompok usia Maroko itu juga mengingatkan bahwa tantangan di Piala Dunia jauh lebih kompleks dibandingkan turnamen regional. Keberagaman gaya bermain lawan menuntut kesiapan teknis, taktik, dan mental yang jauh lebih matang.


"Piala Afrika bukan Piala Dunia. Karakter kompetisinya berbeda, begitu juga gaya bermain lawan. Jika tidak terbiasa menghadapi berbagai karakter permainan dan tidak mempersiapkan diri dengan baik, Anda bisa tersingkir sangat cepat," tegasnya.


Meski gagal melangkah ke semifinal, Maroko tetap menorehkan pencapaian bersejarah. Atlas Lions menjadi negara Afrika pertama yang mampu menembus babak perempat final dalam dua edisi Piala Dunia secara beruntun, menegaskan bahwa keberhasilan mereka bukan lagi sekadar kejutan, melainkan buah dari pembinaan yang berkesinambungan.


Tantangan berikutnya pun sudah menanti. Piala Dunia 2030 akan digelar di Maroko, Spanyol, dan Portugal, sementara Uruguay, Argentina, dan Paraguay masing-masing menjadi tuan rumah satu pertandingan untuk memperingati 100 tahun penyelenggaraan Piala Dunia.


Dengan dukungan penuh publik sendiri, ekspektasi terhadap Atlas Lions akan semakin tinggi. Maroko kini bertekad memanfaatkan momentum sebagai tuan rumah untuk mengukir sejarah sebagai negara Afrika pertama yang mampu mengangkat trofi Piala Dunia.

Komentar:
GROUP RAKYAT MERDEKA
RM ID
Banpos
Satelit