Warga Lebak Bertaruh Nyawa Delapan Bulan Di Rumah Nyaris Ambruk
Menanti Relokasi Tak Kunjung Terealisasi
LEBAK - Miris, warga Kampung Angsana, Desa Karyajaya, Kecamatan Cimarga, Kabupaten Lebak, telah bertaruh nyawa selama delapan bulan di rumah yang kondisinya rusak berat dan nyaris ambruk.
Kondisi itu terjadi pasca bencana pergerakan tanah. Ironisnya, meski pemerintah telah beberapa kali melakukan peninjauan, dan lahan untuk relokasi telah dihibahkan, hingga kini proses pemindahan warga belum juga terealisasi.
Kondisi tersebut membuat warga terus hidup dalam kekhawatiran, terutama saat hujan turun. Retakan pada dinding rumah semakin melebar, lantai dan keramik pecah, sementara sejumlah bagian atap mulai roboh akibat pergerakan tanah yang masih berlangsung.
Kerusakan terlihat hampir di setiap sudut permukiman terdampak. Dinding rumah menganga dipenuhi retakan besar, pondasi bergeser, dan sejumlah bagian dapur tampak miring hingga harus disangga menggunakan tiang bambu agar tidak ambruk.
Meski kondisi rumah membahayakan, beberapa keluarga masih memilih bertaruh nyawa karena tidak memiliki tempat tinggal lain maupun biaya untuk pindah.
Sedikitnya sembilan rumah terdampak pergerakan tanah. Dari jumlah tersebut, enam rumah mengalami kerusakan berat hingga sebagian bangunannya rata dengan tanah.
Salah seorang warga terdampak, Maesaroh (45), mengaku masih tinggal di rumahnya meski selalu dihantui rasa takut setiap kali hujan turun.
“Awalnya terdengar suara ‘bleduk’ dan retakan, bata-bata mulai berjatuhan. Sekarang tembok retak, plafon juga sudah banyak yang ambruk,” keluh Maesaroh, Minggu (9/8).
Ia mengaku, bencana tersebut terjadi sekitar delapan bulan lalu saat musim hujan. Hingga kini, kondisi rumahnya terus memburuk. Menurut Maesaroh, setiap kali hujan turun dirinya terpaksa mengungsi ke rumah anaknya karena khawatir bangunan rumah roboh.
“Kalau hujan masih terdengar suara retakan, saya takut ketimpa. Tapi kalau tidak hujan, saya tetap tinggal di sini karena tidak punya biaya untuk pindah,” katanya.
Diakuinya lagi, bantuan yang diterima dari pemerintah sejauh ini baru berupa sembako, seperti beras dan mie instan. Karena itu, ia berharap pemerintah segera merealisasikan relokasi warga ke tempat yang lebih aman.
“Kalau bisa saya minta tolong dibantu. Saya ingin pindah ke tempat yang lebih aman,” harapnya.
Sementara, Ketua RT setempat, Masri (51), mengungkapkan, terdapat sembilan rumah yang terdampak pergerakan tanah dan enam diantaranya mengalami kerusakan berat.
Menurutnya, berbagai upaya telah dilakukan agar warga segera direlokasi. Bahkan, dirinya bersama perangkat desa telah mendatangi sejumlah instansi terkait, termasuk Badan Geologi dan Baznas di tingkat provinsi, untuk memperjuangkan penanganan permukiman tersebut.
“Kami sudah ke Serang bersama perangkat desa. Katanya hanya diminta menunggu, tapi sampai sekarang belum ada kejelasan,” ungkapnya.
Masri menjelaskan, pemerintah sebenarnya telah melakukan asesmen terhadap lokasi terdampak. Bantuan darurat berupa sembako dan uang tunai juga sempat diberikan kepada warga. “Namun, hingga kini proses relokasi belum dapat dilaksanakan,” ujarnya.
Padahal, lanjut Masri, lahan untuk relokasi sudah tersedia dan proses hibah tanah telah diselesaikan. Kendala yang dihadapi saat ini adalah belum tersedianya anggaran untuk memindahkan warga.
“Lahannya sudah ada, surat hibah juga sudah selesai. Tinggal proses relokasinya saja, tetapi sampai sekarang belum terlaksana,” ungkapnya lagi.
Masri mengaku, khawatir kondisi permukiman akan semakin memburuk ketika musim hujan kembali datang. Sebab, pergerakan tanah masih terjadi meski hujan turun dengan intensitas ringan.
“Kalau nanti hujan deras lagi, kami khawatir longsornya semakin parah. Harapan kami hanya satu, warga segera dipindahkan sebelum ada korban jiwa,” tandasnya.
Nasional | 2 hari yang lalu
Nasional | 3 hari yang lalu
TangselCity | 3 hari yang lalu
Olahraga | 3 hari yang lalu
Pos Banten | 1 hari yang lalu
Pos Tangerang | 21 jam yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu
Pos Tangerang | 3 hari yang lalu
Nasional | 3 hari yang lalu
Nasional | 3 hari yang lalu




