TangselCity

Pos Tangerang

Pos Banten

Politik

Olahraga

Nasional

Pendidikan

Ekonomi Bisnis

Haji 2026

Galeri

Internasional

Otomotif

Selebritis

Lifestyle

Opini

Hukum

Advertorial

Kesehatan

Kriminal

Piala Dunia 2026

RELIJIUCITY

Indeks

Dewan Pers

Fenomena Angin Puyuh Di Alun-alun Menes Jadi Tontonan Warga

BMKG Kelas I Banten Beri Penjelasan

Reporter: Nipal
Editor: Redaksi
Jumat, 14 Agustus 2026 | 09:15 WIB
MENGABADIKAN. Salah seorang warga yang sedang berada di sekitaran Alun-alun Menes, Kecamatan Menes, Kabupaten Pandeglang, sedang mencoba mengabadikan angin puyuh menggunakan kamera handphone-nya, Kamis (13/8). (DOK. WARGA)
MENGABADIKAN. Salah seorang warga yang sedang berada di sekitaran Alun-alun Menes, Kecamatan Menes, Kabupaten Pandeglang, sedang mencoba mengabadikan angin puyuh menggunakan kamera handphone-nya, Kamis (13/8). (DOK. WARGA)

PANDEGLANG - Fenomena angin puyuh atau puting beliung skala mikro yang terjadi di kawasan Alun-alun Menes, Kecamatan Menes, Kabupaten Pandeglang, jadi tontonan warga yang sedang berada di sekitaran lokasi, Kamis (13/8), sekitar pukul 11.00 WIB.

 

Bahkan, sejumlah warga tengah mengabadikan fenomena tersebut menggunakan kamera telepon seluler. Pusaran angin tampak berputar di area terbuka dalam waktu singkat.

 

Kepala Stasiun Klimatologi pada Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Kelas I Banten, Apolinaris Samsudin Geru, mengatakan, angin puyuh merupakan fenomena siklon berskala mikro yang terbentuk akibat adanya perbedaan tekanan dan temperatur udara. 

 

Dia menjelaskan, fenomena tersebut umumnya terjadi ketika udara panas dan lembab di permukaan bumi bergerak naik dengan cepat, sementara udara yang lebih dingin di lapisan atas bergerak turun.

 

“Pertemuan dua massa udara itu dapat membentuk arus vertikal yang kuat. Ditambah adanya perbedaan kecepatan angin pada lapisan udara, terjadi gesekan yang kemudian memicu terbentuknya pusaran,” kata Apolinaris Samsudin Geru, Kamis (13/8).

 

Katanya lagi, ketika tekanan udara di bagian tengah pusaran menjadi sangat rendah, udara di sekitarnya tertarik masuk dengan kecepatan tinggi. 

 

Lanjutnya, jika pusaran tersebut cukup kuat dan memanjang hingga ke permukaan tanah, terbentuklah angin puyuh yang menyerupai corong.

 

“Angin puyuh memiliki skala yang relatif kecil, dengan diameter sekitar 10 hingga 100 meter. Fenomena ini juga biasanya berlangsung singkat, sekitar 3 hingga 10 menit, dan lebih berpotensi terjadi pada siang hingga sore hari ketika kondisi udara cukup panas,” jelasnya.

 

Menurutnya, kecepatan anginnya dapat mencapai sekitar 50 hingga 100 kilometer per jam. Fenomena tersebut lebih sering terlihat di area terbuka seperti lapangan, persawahan maupun kawasan permukiman.

 

Meski angin puyuh yang terjadi di Alun-alun Menes berskala kecil, dan tidak terlalu berdampak terhadap bangunan maupun fasilitas umum, masyarakat tetap diimbau untuk waspada.

 

“Warga sebaiknya tidak mendekati pusaran angin dan segera mencari tempat yang lebih aman apabila melihat fenomena serupa terjadi di sekitar lokasi,” sarannya.

 

Sementara, salah seorang warga Menes, Asep mengungkapkan, kejadian angin puyuh itu pada siang hari. “Siang tadi sekitar pukul 11.00 WIB kejadiannya,” katanya.

 

Dia bersama warga lainnya telah mengabadikan kejadian tersebut. Bahkan katanya, tak sedikit warga sampai lari ke tengah Alun-alun Menes mendekati angin puyuh tersebut.

 

“Kan terlihat pusaran angin puyuh mengangkat debu Alun-alun, warga langsung berhamburan mengabadikan hingga mengejarnya ke tengah alun-alun,” tandasnya.(pal)

 

 

 

Komentar:
GROUP RAKYAT MERDEKA
RM ID
Banpos
Satelit