Literasi Digital Masuk Sekolah, Pelajar Tangsel Dibekali Hadapi Cyberbullying dan Hoaks
SERPONG — Indonesia Median Foundation (IMF) menggandeng Relawan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) serta Pandu Literasi Digital Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) RI menggelar edukasi literasi digital di SMP Islam Al-Hikmah, Kota Tangerang Selatan, Kamis (17/9).
Kegiatan yang merupakan Seri Ke-3 program KOMPAS (Kritis, Online, Mandiri, Positif, Aman, Santun) itu mengangkat tema “Digital Resilience: Menyiapkan Pelajar Berdaya di Era Transformasi Digital.”
Sebanyak 42 peserta yang terdiri dari siswa, guru, tenaga kependidikan, serta mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta mengikuti kegiatan tersebut. Edukasi difokuskan pada penguatan kemampuan menghadapi berbagai risiko di ruang digital, mulai dari cyberbullying, hoaks, penyalahgunaan data pribadi hingga penggunaan kecerdasan artifisial (AI).
Direktur Utama Indonesia Median Foundation, Yulia Pratami, mengatakan kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya membangun kesadaran dan ketahanan digital sejak lingkungan sekolah.
Sementara itu, Kepala SMP Islam Al-Hikmah, Santi Kurniawati, menyambut positif kegiatan tersebut. Ia berharap edukasi literasi digital dapat meningkatkan kesadaran siswa maupun tenaga pendidik dalam mencegah penyalahgunaan teknologi.

Foto : Ist
“Besar harapan kami melalui kegiatan ini meningkatkan kesadaran bersama untuk meningkatkan literasi digital sebagai upaya pencegahan fenomena penyalahgunaan digital,” ujar Santi.
Tiga narasumber hadir dalam kegiatan tersebut, yakni M. Akhsanul Akhlaq dari Pandu Literasi Digital Kemkomdigi Segmen Pendidikan dan Disabilitas, Ketua Relawan TIK Provinsi Banten Ahmad Taufiq Jamaludin, serta Gilang Tresna Putra Anugrah dari IMF.
Akhsan membahas “Memahami dan Menghentikan Cyberbullying di Era Digital”. Menurutnya, pencegahan perundungan siber membutuhkan keterlibatan keluarga, sekolah, pemerintah dan platform digital.
Ia juga mengingatkan pentingnya keberanian melaporkan kasus, mendukung korban, mengamankan barang bukti, serta membangun kesadaran anak agar tidak membiarkan praktik perundungan berkembang.
Pada sesi berikutnya, Taufiq memperkenalkan empat pilar literasi digital yang dirangkum dalam akronim CABE, yakni Cakap Digital, Aman Digital, Budaya Digital dan Etika Digital.
“Ini menjadi bekal yang terus diingat. Empat pilar literasi digital terdiri dari Cakap Digital, Aman Digital, Budaya Digital dan Etika Digital,” kata Taufiq.
Sementara Gilang mengajak siswa dan guru lebih bijak menggunakan media sosial serta memanfaatkan AI secara bertanggung jawab. Ia mengingatkan pentingnya melakukan verifikasi sebelum menyebarkan informasi karena AI juga berpotensi menghasilkan informasi yang keliru.
Kegiatan ditutup dengan diskusi kelompok antara siswa dan guru mengenai mitigasi penyalahgunaan teknologi digital, khususnya cyberbullying yang dapat berdampak terhadap kesehatan mental. Peserta juga menyusun rencana aksi untuk memperkuat literasi digital di lingkungan sekolah.
Kepala Bidang Pembinaan SMP Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Tangsel, Eka Andrias, turut memberikan apresiasi. Ia berharap kegiatan serupa dapat diperluas ke SMP lainnya di Tangsel sebagai bagian dari penguatan literasi digital dan mendukung penerapan program Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA) di satuan pendidikan.
Olahraga | 1 hari yang lalu
Pos Tangerang | 2 hari yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu
Nasional | 3 hari yang lalu
Nasional | 3 hari yang lalu
TangselCity | 1 hari yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu
Lifestyle | 3 hari yang lalu






