TangselCity

Pos Tangerang

Pos Banten

Politik

Olahraga

Nasional

Pendidikan

Ekonomi Bisnis

Galeri

Internasional

Selebritis

Lifestyle

Opini

Hukum dan Kriminal

Advertorial

Indeks

Dewan Pers SinPo
Inflasi Melonjak

Awas, Orang Miskin Makin Banyak

Oleh: TIF/AY
Kamis, 04 Agustus 2022 | 08:05 WIB
Ilustrasi inflasi. (Ist)
Ilustrasi inflasi. (Ist)

JAKARTA - Inflasi di Indonesia terus merangkak naik, 4,94 persen secara tahunan (year on year/yoy). Penyumbang terbesar adalah kenaikan harga cabe merah, cabe rawit, bawang merah, tarif angkutan udara dan bahan bakar rumah tangga.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Margo Yuwono mengatakan, inflasi sekarang merupakan angka tertinggi sejak Oktober 2015. Secara tahunan, komponen bergejolak memberikan andil inflasi tertinggi, 1,92 persen.

“Ini yang tertinggi sejak Januari 2014. Saat itu, terjadi inflasi volatile 11,9 persen,” jelas Margo dalam konferensi pers di Gedung BPS, Jakarta, Senin (1/8).

Margo menilai, perkembangan inflasi kelompok bergejolak, sangat berpengaruh terhadap angka kemiskinan di Indonesia. Pasalnya, hingga saat ini sekitar 74 persen konsumsi rumah tangga miskin adalah untuk makanan.

“Jadi kalau harga pangan tinggi, akan berpengaruh ke garis kemiskinan. Kalau pendapatan tidak naik, akan mempengaruhi garis kemiskinan,” ujar Margo.

Netizen mewanti-wanti lonjakan inflasi bisa berakibat jumlah orang miskin yang semakin banyak. Apalagi, yang mengalami kenaikan harga, yakni beberapa komoditas harian rumah tangga seperti cabe merah dan bawang merah.

“Indonesia menghadapi inflasi tertinggi dalam tujuh tahun terakhir pada Juli 2022. Namun, pengamat ekonomi telah memproyeksikan inflasi akan semakin buruk pada 2023,” kata @Iwanalidarmawan.

Menurut @NdrewsTjan, inflasi seka­rang baru tahap awal. Kalau diumpama­kan, sama seperti baru masuk ke halaman rumah. Jika perang Rusia-Ukraina tidak berhenti, inflasi akan bertambah tinggi.

“Sebagai imbas dari lonjakan Inflasi di Indonesia, maka orang miskin bisa semakin banyak,” ujar @Zyanpatra.

“Orang miskin akan bertambah banyak karena harga kebutuhan pokok naik, yang akhirnya berujung lonjakan inflasi,” sam­bung @H4mdb.

Akun @Giginpraginant3 mengatakan, inflasi membuat kemiskinan melonjak. Yang kaya makin gemerlap, yang miskin makin banyak. Kondisi sekarang dinama­kan ekonomi kolonialistis.

“Bedanya, dulu yang kaya orang bule dan bangsawan, sekarang konglomerat dan pejabat,” katanya.

Akun @AnastasiaAyupp mengingatkan, resesi dan inflasi menghantaui masyarakat Indonesia. Dia meminta masyarakat pintar mengalokasikan dana dan menyimpan uang.

“Rakyat bergaji rendah sangat ter­dampak dengan inflasi. Jadi apa susahnya bila gaji pejabat dipotong,” saran @ Ctfkop.

Menurut @Lintang_rizki, karyawan yang gajinya UMR, honorer, pencari kerja menangis dengan naiknya inflasi. Sebab, kerja tidak kerja kebutuhan harian tetap jalan.

“Ini berita buruk bagi kaum menengah yang paling merasakan dampak, karena tidak masuk kategori miskin, namun juga nggak kelebihan harta,” kata dia.

Akun @AlbertSolo2 menuturkan, para pengusaha di Indonesia sangat khawatir dengan inflasi Juli pada tahun ini yang naik menjadi 4,94 persen. Bahkan, lebih tinggi dari inflasi Oktober 2015.

“Mereka lebih memilih mempertahank­an karyawan yang lama daripada harus membuka lowongan untuk rekrutmen karyawan yang baru,” kata dia.

Akun @DitjenAnggaran mengatakan, inflasi yang memang tidak bisa dihindari, sebab adanya kondisi geopolitik dan pasca pandemi. “Namun, @KemenkeuRI tidak tinggal diam dalam menjaga stabili­tas sistem keuangan,” katanya.

“Apapun yang terjadi, masyarakat harus tetap bahagia walaupun inflasi meroket,” kata @Andri_Denso.

Akun @prastow menegaskan, Pemerintah berusaha mengendalikan inflasi. Makanya, harga pertalite tetap di­subsidi, listrik dan elpiji juga. “Memang belum ideal, tapi semua sedang beru­paya,” kata dia.

Namun, @pakmul63 kesal dengan Pemerintah Daerah. Pemerintah Pusat sudah bersusah payah menjaga tingkat inflasi dan daya beli masyarakat dengan tidak menaikkan BBM dan gas sub­sidi, tapi beberapa Pemerintah Daerah (Pemda) malah menaikkan Harga Eceran Tertinggi (HET) gas melon 3 kg.

“Arogan sekali. Pemerintah harus menertibkan,” tegasnya. (rm.id)

Komentar:
GROUP RAKYAT MERDEKA
sinpo
sinpo
sinpo