Penuhi Kebutuhan Hidup, Korban Banjir di Aceh Tamiang Putar Otak Cari Pekerjaan
ACEH – Seorang pria paruh baya mengenakan sepatu bot tampak tergopoh-gopoh mengejar kami dari kejauhan saat melintas di depan gerbang Hunian Sementara (Huntara) di Desa Simpang Empat, Kecamatan Karang Baru, Aceh Tamiang, Sabtu (3/1/2025).
Ia mengira kami merupakan bagian dari pekerja proyek pembangunan Huntara yang diprakarsai Danantara.
“Pak, apa ada lowongan untuk saya bekerja di sini?” tanyanya dengan nada penuh harap.
“Maaf, Pak, kami kurang tahu. Kami hanya mampir sebentar,” jawab kami.
Dengan wajah lesu, pria itu pun menyeberang jalan dan berlalu pergi, meninggalkan harapan yang belum terjawab.
Saat ini, Desa Simpang Empat memang tengah menjadi lokasi proyek besar pembangunan sekitar 600 unit Huntara. Proyek tersebut menyerap hampir seribu tenaga kerja yang bekerja siang dan malam.
Rahmad, warga Telaga Meuku, Kecamatan Banda Mulia, yang ditemui di sebuah warung kopi dekat lokasi proyek, mengungkapkan bahwa sejumlah warga dari kampungnya telah direkrut. Namun, ia menyadari ada beberapa posisi yang membutuhkan keterampilan khusus sehingga harus diisi oleh pekerja dari luar daerah.
“Untuk pekerjaan yang tidak membutuhkan keahlian khusus, kami berharap bisa didominasi oleh warga lokal,” ujarnya.
Sulitnya mencari nafkah pascabencana banjir bandang juga dibenarkan Poniran (60), warga Paya Awe, Kecamatan Karang Baru. Sebelumnya, ia menggantungkan hidup dari sektor pertanian. Kini, lahan sawah yang biasa digarapnya tak lagi bisa ditanami.
“Lahan kami sudah dipenuhi lumpur, semua tanaman mati,” tutur Poniran.
Ia memperkirakan sekitar Rp30 juta modal yang digunakannya untuk menggarap sawah ludes tersapu banjir bandang. Tak hanya itu, produktivitas kebun sawit miliknya juga menurun drastis.
Meski berharap bisa mendapatkan pekerjaan di proyek Huntara, Poniran juga meminta agar pemerintah memberi perhatian lebih terhadap sektor pertanian. “Banyak warga menggantungkan hidup di pertanian. Setidaknya kami bisa dibantu bibit dan pupuk agar semangat bertani kembali tumbuh,” harapnya.
Sementara itu, Ketua Komite Peralihan Aceh (KPA) Wilayah Aceh Tamiang, Ishak Syamaun, menilai penyediaan lapangan kerja akan menjadi persoalan paling krusial setelah masa tanggap darurat bencana berakhir.
Menurutnya, dalam jangka panjang warga tidak bisa terus bergantung pada bantuan sembako maupun belas kasihan pihak lain. “Sekarang saja sudah banyak warga yang termenung karena tidak tahu harus mencari nafkah ke mana. Ini persoalan serius yang harus segera dipikirkan bersama,” tegasnya.
Ia menambahkan, pascabanjir bandang, banyak warga kehilangan mata pencaharian dan sangat membutuhkan akses terhadap pekerjaan agar bisa kembali mandiri secara ekonomi.
TangselCity | 10 jam yang lalu
Pos Banten | 2 hari yang lalu
TangselCity | 17 jam yang lalu
Pos Banten | 2 hari yang lalu
Pos Tangerang | 2 hari yang lalu
TangselCity | 2 hari yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu
TangselCity | 2 hari yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu
TangselCity | 14 jam yang lalu



