TangselCity

Pos Tangerang

Pos Banten

Politik

Olahraga

Nasional

Pendidikan

Ekonomi Bisnis

Galeri

Internasional

Selebritis

Lifestyle

Opini

Hukum

Advertorial

Kesehatan

Kriminal

RELIJIUCITY

NATARU

Indeks

Dewan Pers

Sesi Pemotretan Siswa SMAN 6 Pandeglang Berujung Petaka, Enam Siswa Terluka Tertimpa Tiang Besi

Korban Alami Luka di Kepala dan Patah Tulang

Oleh: Ari Supriadi
Editor: Ari Supriadi selected
Sabtu, 24 Januari 2026 | 17:49 WIB
Kondisi tiang lampu yang roboh di lapangan SMAN 6 Pandeglang, Sabtu (24/1/2026). Dalam peristiwa itu enam siswa mengalami luka di bagin kepala dan kaki(Ari Supriadi/tangselpos.id)
Kondisi tiang lampu yang roboh di lapangan SMAN 6 Pandeglang, Sabtu (24/1/2026). Dalam peristiwa itu enam siswa mengalami luka di bagin kepala dan kaki(Ari Supriadi/tangselpos.id)

PANDEGLANG - Enam siswa Kelas XII SMAN 6 Pandeglang, Sabtu (24/1/2026) harus dilarikanke RSUD Berkah, akibat tertimpa tiang lampu panggung pada saat sesi pemotretan angkatan. Berdasarkan informasi yang dihimpun tangselpos.id, peristiwa terjadi sekitar pukul 09.00 WIB, ketika sekitar 300-an siswa melakukan sesi pemotretan dan video di lapangan sekolah. Namun tiba-tiba di saat angin berhembus kencang merobohkan tiang lampu yang terpasang baliho angkatan berukuran 6x8 meter.

 

Dengan kejadian yang cepat itu, para siswa tidak sempat menyelamatkan diri. Akhirnya enam siswa mengalami luka di bagian kepala dan kaki. Bahkan beberapa siswa diketahui pingsan di lokasi kejadian dengan darah yang mengucur hingga ke bagian seragam. Mengetahui kejadian tersebut, pihak sekolah dan sejumlah orang yang berada di lokasi langsung melakukan evakuasi dengan membawa para korban ke Klinik Bougenville Ciekek dan selanjutnya dirujuk ke RSUD Berkah.

 

“Kejadiannya cepat, saat angin kencang tiba-tiba merobohkan tiang dan menimpa kami. Dari situ saya sudah tidak sadar dan sadar saat berada di Klinik Bougenvile Ciekek, kemudian dirujuk ke RSUD Berkah,” ujar Siti Julaeha, salah satu korban luka, saat ditemui di RSUD Berkah.

 

Ibunda Siti Julaeha, Mulyawati (63) mengatakan, anaknya mendapat 17 jahitan akibat luka di bagian kepala. Ia mengaku, bingung mengenai biaya pengobatan, karena belum ada kabar terbaru dari pihak sekolah. “Saat dapat kabar saya lagi di jalan mau ziarah ke Banten dan langsung pulang naik Grab. Di jalan saya was-was pas dengar anak saya jadi korban, saya sempat pingsan juga,” kata ibu tunggal ini.

 

Korban lainnya, Intan Agustiani (17) mengaku, sempat muntah-muntah pada saat penanganan oleh tim medis. Ia harus mendapat 50 jahitan akibat luka robek di bagian kepala. Siti Juhroh (40), ibunda Intan, mengatakan, pihak sekolah belum mengkonfirmasi mengenai biaya perawatan anaknya. “Saya berharap pihak sekolah bisa bertanggung jawab, karena baru tadi pagi ada pihak sekolah. Ini belum ada lagi kabarnya,” kata warga Desa Pandat, Kecamatan Mandalawangi ini.

 

Wakil Kepala SMAN 6 Pandeglang, Dian Rudian Arief menjelaskan, kegiatan tersebut merupakan inisiatif para siswa yang ingin mengadakan dokumentasi perpisahan. Meski begitu pihaknya sudah memberikan izin kepada siswa termasuk vendor untuk melaksanakan kegiatan di luar waktu kegiatan belajar mengajar (KBM). “Anak-anak menginginkan ada rencana itu, murni dari mereka. Kami izinkan karena memang sekolah lain juga biasa melakukan itu,” ujar Dian, saat ditemui di RSUD Berkah.

 

Pihaknya mengaku, tidak terlibat langsung dalam kegiatan tersebut. Karena seluruh persiapan, pembiayaan dan lainnya diurus secara mandiri oleh siswa dengan menyewa jasa vendor foto dan panggung. Namun, sehari sebelumnya ia sempat memberikan teguran kepada vendor panggung terkait konstruksi tiang yang dinilai tidak aman. Namun setelah diskusi dan memantau pemasangan, kata dia, pihak vendor memberikan garansi keamanan.

 

“Dari kemarin kami sudah warning ke pihak vendor untuk hati-hati dengan ketinggian 10 meter tapi posisi 'cakar ayam' (fondasi) hanya 1,5 meter. Namun, vendor memastikan semuanya aman," ungkapnya.

 

Sekolah Tanggung Jawab dan Melakukan Evaluasi

 

Dikatakan Dian, dalam peristiwa ini pihaknya akan bertanggung jawab mengenai biaya pengobatan terhadap enam siswa. Saat ini keenam siswa masih menjalani perawatan intensif oleh tim medis di RSUD Berkah. “Untuk biaya perawatan, sementara sudah di-take over dulu oleh sekolah. Nanti dengan vendor biar urusan kami yang akan mediasi dan berkomunikasi,” tegas Dian.

 

Ke depannya, pihak sekolah akan melakukan evaluasi total terhadap kegiatan serupa. Kata dia, kejadian ini baru kali pertama, karena sebelum-sebelumnya berjalan lancar. Bahkan tahun lalu tiang lighting itu menggunakan bambu, bukan besi seperti sekarang ini. “Pasti akan ada evaluasi, terutama bagian yang berbahaya tadi. Harus lebih waspada,” pungkasnya.

 

Ditemui di Polsek Pandeglang, Agung Septiadi, vendor penyedia panggung, mengaku persiapan sudah sangat aman, namun ternyata faktor cuaca membuat tiang besi roboh. Menurutnya, kombinasi antara faktor alam dan penyesuaian spesifikasi panggung menjadi penyebab utama kejadian tersebut. “Saat kejadian, kondisi cuaca di lokasi memang sedang kurang bersahabat dengan tiupan angin yang sangat kencang. Selain faktor cuaca, memang ada perubahan spesifikasi panggung yang dilakukan berdasarkan permintaan dari klien,” katanya.

 

Pihaknya mengaku, sudah memberikan peringatan kepada penyelenggara mengenai risiko teknis dari spesifikasi panggung sebelum didirikan. Ia mengklaim, bahwa material besi untuk panggung sudah sesuai spesifikasi dan aman untuk digunakan. Apalagi pihak rutin melakukan pengecekan untuk memastikan kelayakan panggung tersebut. “Terkait terdapat karat di bagian patahan, itu karena tidak semua bagian besi dicat, namun secara struktural masih sangat kuat," pungkasnya.(*)

Komentar:
GROUP RAKYAT MERDEKA
RM ID
Banpos
Satelit