Ajakan Kuasai Selat Hormuz Kurang Respons, Trump Minim Dukungan Sekutu
AS - Upaya Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, untuk menggalang dukungan internasional dalam mengamankan Selat Hormuz tampaknya belum membuahkan hasil. Sejumlah negara sekutu menolak mengirimkan kapal perang, meski Washington menilai langkah tersebut penting untuk menjaga stabilitas jalur energi global.
Ketegangan meningkat setelah Korps Garda Revolusi Islam Iran menutup Selat Hormuz sebagai respons atas serangan yang dilancarkan Amerika Serikat bersama Israel. Penutupan jalur strategis ini berdampak langsung pada distribusi minyak dunia dan memicu lonjakan harga energi secara signifikan.
Dalam situasi tersebut, Trump meminta setidaknya tujuh negara sekutu untuk turut ambil bagian mengamankan kawasan. Ia berargumen bahwa negara-negara tersebut memiliki kepentingan besar karena ketergantungan mereka terhadap pasokan energi dari Timur Tengah.
“Kami meminta mereka melindungi kepentingan mereka sendiri,” ujar Trump saat berbicara di Air Force One, seperti dilaporkan Associated Press.
Trump juga menegaskan bahwa Amerika Serikat tidak terlalu bergantung pada jalur tersebut karena memiliki sumber energi domestik. Meski begitu, ia mengeluarkan peringatan keras: aliansi seperti NATO bisa menghadapi konsekuensi serius jika sekutu tidak menunjukkan dukungan.
Bahkan, Trump sempat mengisyaratkan akan menunda pertemuan dengan Presiden China, Xi Jinping, sebagai bentuk tekanan agar Beijing ikut berperan dalam menjaga keamanan jalur pelayaran di Hormuz. Namun, langkah tersebut belum membuahkan hasil konkret.
Sejumlah negara menunjukkan sikap hati-hati hingga penolakan tegas. Jepang, misalnya, belum memutuskan untuk mengirim kapal militer. Perdana Menteri Sanae Takaichi menyatakan pemerintah masih mengkaji langkah yang sesuai dengan kerangka hukum nasional.
“Kami belum mengambil keputusan terkait pengiriman kapal pengawal. Semua opsi masih dikaji secara mendalam,” ujarnya di parlemen Jepang.
Sikap lebih tegas datang dari Australia. Pemerintahnya memastikan tidak akan mengerahkan angkatan laut ke kawasan tersebut karena khawatir dapat memperluas konflik.
Menteri Transportasi Catherine King menegaskan bahwa meski Selat Hormuz penting bagi perdagangan global, keterlibatan militer bukanlah pilihan yang diambil saat ini.
Sementara itu, Korea Selatan memilih pendekatan lebih hati-hati. Pemerintah menyatakan masih melakukan peninjauan sebelum menentukan sikap, sembari terus berkoordinasi dengan Amerika Serikat.
Hingga kini, belum ada negara sekutu yang secara konkret memenuhi permintaan Washington untuk mengirim kapal perang ke Selat Hormuz, menandakan terbatasnya dukungan terhadap inisiatif tersebut.
Olahraga | 3 hari yang lalu
TangselCity | 3 hari yang lalu
Pos Banten | 3 hari yang lalu
Nasional | 3 hari yang lalu
Nasional | 3 hari yang lalu
Olahraga | 2 hari yang lalu
Nasional | 3 hari yang lalu
TangselCity | 2 hari yang lalu
Nasional | 3 hari yang lalu
Nasional | 3 hari yang lalu












