Bahlil Tegaskan Harga BBM Subsidi Belum Naik, Pemerintah Prioritaskan Daya Beli Rakyat
JAKARTA – Pemerintah memastikan belum ada rencana menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi di tengah lonjakan harga minyak dunia yang memicu kenaikan harga energi di berbagai negara.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menegaskan bahwa hingga saat ini pemerintah belum mempertimbangkan opsi penyesuaian harga BBM subsidi seperti Pertalite dan Biosolar.
“Sampai sekarang belum ada opsi untuk menaikkan,” ujar Bahlil.
Kebijakan ini, lanjutnya, sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto agar harga energi tetap terjangkau dan tidak membebani masyarakat, terutama kelompok berpenghasilan rendah.
Harga Minyak Dunia Melonjak, Negara Tetangga Naikkan BBM
Lonjakan harga minyak global mendorong banyak negara melakukan penyesuaian harga BBM. Per Jumat (27/3/2026), harga minyak mentah Brent naik 5,66 persen menjadi 108,01 dolar AS per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) menguat 4,61 persen ke level 94,48 dolar AS per barel.
Dampaknya, sejumlah negara di kawasan Asia Tenggara langsung menaikkan harga BBM:
Malaysia: RON95 naik menjadi sekitar Rp11.500/liter, solar Rp16.700/liter
Singapura: BBM RON95 tembus Rp44.800–Rp46.000/liter
Thailand: Gasohol 95 sekitar Rp17.035/liter, solar Rp20.101/liter
Vietnam: solar melonjak hingga Rp25.300/liter
Di tengah tren tersebut, Indonesia memilih menahan harga demi menjaga stabilitas ekonomi domestik.
Harga BBM Nonsubsidi Masih Stabil
Untuk BBM nonsubsidi, harga juga belum mengalami perubahan sejak 1 Maret 2026. Di wilayah Jabodetabek, Jawa, Bali, dan NTB, rincian harga masih sebagai berikut:
Pertamax: Rp12.300/liter
Pertamax Turbo: Rp13.100/liter
Pertamax Green 95: Rp12.900/liter
Dexlite: Rp14.200/liter
Pertamina Dex: Rp14.500/liter
Meski demikian, harga BBM nonsubsidi tetap berpotensi berubah mengikuti dinamika harga minyak global.
Pemerintah Amankan Pasokan, Cari Sumber Baru
Selain menahan harga, pemerintah juga fokus menjaga ketahanan pasokan energi nasional. Salah satu langkahnya adalah diversifikasi sumber impor minyak, termasuk dari Amerika Serikat dan penjajakan kerja sama dengan Brunei Darussalam.
Bahlil menyebut, ketergantungan impor dari kawasan Timur Tengah saat ini sekitar 20 persen dan mulai dikurangi dengan mencari sumber alternatif.
Stok BBM Aman, Distribusi Terkendali
Dari sisi pasokan, Pertamina memastikan ketersediaan BBM tetap aman. Perusahaan terus mengoptimalkan produksi kilang, memperluas sumber impor, serta memperkuat infrastruktur logistik dan penyimpanan.
Anggota Dewan Energi Nasional (DEN), Satya Widya Yudha, menyebut cadangan operasional BBM seperti Pertalite saat ini berada di kisaran 20 hari.
Tetap Waspada, Dorong Efisiensi Energi
Meski kondisi relatif terkendali, pemerintah tetap mewaspadai perkembangan global, termasuk konflik di Timur Tengah yang berpotensi mengganggu pasokan energi.
Pengamat energi Universitas Gadjah Mada, Fahmy Radhi, menilai posisi Indonesia masih cukup aman berkat cadangan operasional sekitar 21 hari dan produksi domestik sekitar 600 ribu barel per hari. Namun, ia mengingatkan ketergantungan impor masih tinggi, terutama melalui jalur strategis seperti Selat Hormuz.
Karena itu, percepatan pengembangan energi baru terbarukan dinilai menjadi langkah penting untuk mengurangi ketergantungan pada energi fosil.
Ajakan Hemat Energi
Pemerintah dan para ahli juga mengajak masyarakat untuk lebih bijak dalam penggunaan energi, seperti memanfaatkan transportasi publik atau beralih ke kendaraan listrik.
Langkah efisiensi dinilai penting untuk menjaga ketahanan energi nasional di tengah ketidakpastian global.
Pos Banten | 3 hari yang lalu
Olahraga | 3 hari yang lalu
Nasional | 3 hari yang lalu
TangselCity | 3 hari yang lalu
Nasional | 3 hari yang lalu
Nasional | 3 hari yang lalu
Nasional | 3 hari yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu
Nasional | 3 hari yang lalu
TangselCity | 3 hari yang lalu




