UMKM Menjerit: Harga Plastik Melonjak, Pasokan Mulai Langka
JAKARTA - Lonjakan harga plastik yang terjadi belakangan ini membuat pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) semakin tertekan. Tak hanya mahal, ketersediaannya di pasar juga mulai menipis, memicu keluhan dari pedagang hingga konsumen rumah tangga.
Akim, pedagang di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, mengaku kenaikan harga plastik terjadi sangat drastis dalam waktu singkat. Plastik kiloan yang sebelumnya dijual sekitar Rp28 ribu kini hampir menyentuh Rp50 ribu. Sementara itu, harga kantong kresek juga melonjak hingga sekitar 40 persen.
Kondisi ini membuat banyak pelanggan mengeluh. Bahkan, ada yang mulai mempertimbangkan beralih ke alternatif lain seperti daun pisang untuk menghemat biaya.
Fenomena serupa juga terjadi di berbagai daerah. Di Pasar Tugu, Bandar Lampung, pedagang buah terpaksa menaikkan harga jual bukan karena harga buah, melainkan akibat mahalnya biaya kemasan plastik. Dampaknya, daya beli masyarakat pun ikut menurun.
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Shinta W. Kamdani, menjelaskan bahwa lonjakan ini dipicu oleh terganggunya rantai pasok global. Situasi geopolitik di kawasan Teluk menyebabkan distribusi bahan baku utama plastik tersendat, sekaligus meningkatkan biaya logistik seperti pengiriman dan asuransi.
Kenaikan harga nafta—bahan dasar petrokimia—ikut mendorong naiknya harga resin plastik. Hal ini berdampak langsung pada berbagai sektor industri, terutama yang bergantung pada kemasan seperti makanan dan minuman, farmasi, hingga ritel.
Bagi pelaku usaha, terutama UMKM dengan margin tipis, kondisi ini menjadi dilema. Di satu sisi, mereka harus menjaga harga agar tetap terjangkau. Namun di sisi lain, biaya produksi terus meningkat, menggerus keuntungan bahkan mengancam keberlangsungan usaha jika terus berlanjut.
Pemerintah didorong untuk mengambil langkah stabilisasi, termasuk mengawasi rantai pasok agar harga tetap terkendali serta mencegah praktik spekulasi.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita berharap kondisi akan segera membaik seiring potensi terbukanya kembali jalur distribusi global, khususnya di Selat Hormuz. Normalisasi jalur tersebut dinilai penting untuk mengembalikan kestabilan pasokan bahan baku plastik.
Sementara itu, Menteri UMKM Maman Abdurrahman mengungkapkan bahwa pemerintah tengah menyiapkan langkah strategis untuk mengurangi dampak krisis ini. Saat ini, Indonesia masih bergantung pada impor bahan baku plastik hingga sekitar 55 persen, dengan sebagian besar distribusi melalui jalur yang terdampak konflik.
Sebagai solusi jangka pendek, pemerintah membuka alternatif impor dari wilayah yang lebih stabil seperti Afrika, India, dan Amerika. Di saat yang sama, upaya jangka panjang juga diarahkan pada pengembangan bahan baku alternatif.
Penggunaan material seperti bambu, rumput laut, dan singkong mulai didorong sebagai bahan dasar bioplastik. Selain mengurangi ketergantungan impor, langkah ini juga sejalan dengan pengembangan industri ramah lingkungan berbasis sumber daya lokal.
Pos Banten | 2 hari yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu
TangselCity | 3 hari yang lalu
Olahraga | 3 hari yang lalu
TangselCity | 3 hari yang lalu
Olahraga | 3 hari yang lalu
TangselCity | 3 hari yang lalu
TangselCity | 3 hari yang lalu
Pos Banten | 3 hari yang lalu
Nasional | 3 hari yang lalu


